Rabu, 27 Maret 2013

RESENSI NOVEL "Cinta di Kota Serambi"


Perjalanan Cinta Si Miskin
Judul                           : Cinta di Kota Serambi
Pengarang                   : Irzen Hawer
Halaman / ketebalan    : 323 halaman / 2 cm
Penerbit                       : PT. Kuflet Yogyakarta
Peresensi                     : Titis Safitri

Pagi-pagi sekali, di udara yang sangat dingin membuat Syamsu merinding ketakutan sejak kemarin. Karena Syamsu belum membayar SPP yang sudah seminggu lamanya nunggak. Apalagi Jum’at kemarin bendahara memberikan ultimatum, mengumumkan bahwa harus membayar uang SPP hari Senin, bagi yang tidak membawa tidak dibenarkan mengikuti pelajaran. Mendengar ucapan itu Syamsu menjadi takut. Hari senin itu tidak ada satu rupiah pun Syamsu membawa uang untuk membayar SPP, diminta pada Emak, Emak cuma bilang “Nantilah Emak usahakan” itu berarti harapan Syamsu tipis. Emak harus mengutang kesana-sini untuk bayar uang SPP Syamsu. Satu-satunya harapan adalah menunggu ayah pulang dari Padang.
 Setelah ditunggu-tunggu ayah pun datang dan pulang membawa bahan makanan untuk dimasak emak, dan uang recehan hasil jualan ayah. Hati Syamsu jadi sedih melihat penghasilan ayah yang cuma dapat uang recehan.  Tapi Syamsu tidak menyerah karena bagi nya sekolah adalah segala-galanya. Emak yang besar jasanya mengurus Syamsu dan adik-adik. Ayah yang bekerja keras mencari uang supaya kami bisa sekolah, dan bagi Syamsu hidup kami sekeluarga adalah hitam putih.
Keesokan harinya uang pembangunan yang telah dicari ayah dengan susah payah , tapi  Syamsu tak sempat memberikan uang itu kepada bu Anisa Sorga sebagai bendahara. Uang SPP itu telah masuk kekantong Syamsu, sebab bu Anisa hari itu tidak ada. Syamsu berencana membayarkannya hari Senin saja. Tapi karena teman-teman Syamsu mengajak menonton pertandingan sepak bola yang waktu itu sangat heboh-hebohnya. Setelah usai menonton sepak bola, hari hujan dan Syamsu berteduh di depan bioskop di sampingnya orang menjual bakso.
Karena hari dingin, dan bau bakso yang membuat perut jadi lapar. Dan kebetulan ada selembaran uang 20 ribuan yang seharusnya dibayarkan untuk SPP, tapi karena lapar uang itu dipakai untuk membeli bakso. Syamsu pun memakan bakso dengan rakusnya. Setelah itu Syamsu kepikiran dengan susah payah ayahnya mencari uang untuk membayar SPP, tapi malah digunakan untuk mengisi perut, dan Syamsu pun bertekat akan menghemat uang jajan untuk mencukupi Kas Bon yang dibuatnya sendiri dan ingin menyerahkan uang itu kepada bendahara sekolah setelah uang SPP yang diberikanayah terkumpul lagi.
Besoknya di sekolah tidak ada yang istimewa, semua berjalan lancar-lancar aja. Syamsu lebih banyak berdiam diri. Waktu istirahat Syamsu hanya duduk saja di kelas, untuk uang jajan saja Syamsu tidak punya. Syamsu melanjutkan membuat gambar yang disuruh bu guru. Di saat Syamsu melanjutkan menggambar, Minah berdiri di depan pintu bersama teman-temannya sambil mengunyah makanan. Sesekali Minah melirik pada Syamsu. Minah teman sekelas Syamsu yang duduk di belakangnya. Setelah Minah dengan spontan mencela Syamsu dan itu membuat Syamsu sadar. Hal sekecil itu telah menciptakan fondasi yang kokoh tentang arti sebuah dosa dalam sanubari Syamsu. Karena ingin mengganti uang SPP yang diberikan oleh ayahnya, jadi kakak sepupunya menawarkan untuk  berjualan Pinungkuik. Syamsu berangkat ke tempat-tempat yang telah ditentukan oleh kakak sepupunya.
Semakin jauh Syamsu melangkah, semakin banyak uang yang dikantonginya. Matahari pun sudah muncul, saatnya Syamsu berangkat sekolah. Sesampai di sekolah, Minah sudah menunggu Syamsu untuk membuatkan gambar untuk Minah, minah kaget melihat gambar yang dibuat Syamsu, karena Syamsu menulis sebuah kalimat di bawahnya “pohon kehidupan”. Dan jauh dari lubuk hati  Syamsu merasa gembira karena gambar yang dibuatnya dipuji oleh Minah.
Saat ini hati Syamsu sangat sedih karena harus kehilangan Minah. Dan sebelum Minah berangkat ke Medan, mereka berdua saling berjanji, kalau Minah tidak boleh pacaran dengan laki-laki lain, dan begitu sebaliknya. Dengan janji mereka tersebut, Syamsu dan Minah lega untuk berpisah. Belum lagi luka dihati Syamsu hilang karena ditinggal Minah, datang lagi pikiran baru untuk menghadapi ujian akhir sekolah. Menanti detik-detik ujian berakhir Syamsu pun bernazar yaitu ingin ketemu dengan Minah walaupun cuma sebentar. Padahal Minah akan melanjutkan sekolah di kampung juga. Syamsu berniat, setelah lulus nanti dia ingin  melanjutkan ke SMA untuk mencapai cita-cita biar orang tuanya tidak susah lagi, dan Syamsu ingin merubah nasib keluarganya.
Kesimpulan
Syamsu seorang anak yang berbakti pada orang tuanya, Syamsu tak ingin membebani orang tuanya dengan biaya sekolah nya. Jadi novel ini sangat layak untuk dibaca oleh para pemuda, karena dengan membaca novel ini, kita akan mendapatkan inspirasi baru. Bahwa hidup itu butuh perjuangan dan kerja keras, itulah kisah seorang anak yang bernama Syamsu.
Kelebihan
Dengan membaca novel ini, kita jadi tahu arti hidup yang sesungguhnya. Novel ini memberikan banyak inspirasi bagi pembaca. Kemudian novel ini mampu membangun konflik dari dirinya menjadi milik pembaca, dan juga novel ini menceritakan seorang anak yang berusaha untuk keluar dari kemiskinan.
Kelemahan
Novel ini memiliki kelemahan dalam kosa kata yang sangat bertele-tele, sehingga susah untuk dipahami.novel ini juga terlalu detail menceritakan kehidupannya seperti, “ Saya menunggu Minah di halte, halte itu berwarna merah dan terdapat di dekat zebra cross, yang guna halte untuk menunggu bus untuk penumpang”. Kaimat di atas termasuk kelemahan karena , menurut saya tidak perlu menceritakan apa itu halte. Kemudian jalan cerita tidak sambung menyambung, tetapi meloncat antara Bab ke Bab, jadi susah untuk di pahami.kemudian pembahasaan novelis banyak menggunakan bahasa daerah.

RESENSI NOVEL


Hidup Itu Butuh Perjuangan
Judul                           : Negri Van Oranje
Pengarang                   : Wahyuningrat
Adept Widiarsa
Nisa Riyadi
Rizki Pandu Permana
Halaman / ketebalan    : 478 halaman / 20.5 cm
Penerbit                       : PT. Bentang pustaka
Peresensi                     :-

Lima mahasiswa yang kuliah di negri Belanda, salah satu diantaranya Daus. Daus adalah empat dari lima mahasiswa yang berada di negeri orang untuk melanjutkan S2 nya. Daus tergolong orang yang pecinta rokok, dan sering duduk di kafe untuk mengisap sebatang rokok. Sampai-sampai Daus jatuh cinta kepada seorang cewek yang ia kenal di kafe tersebut. Ternyata gadis yang ia cintai itu, bernama Lintang yang berasal dari Indonesia juga. Karena sama-sama dari Indonesia, akhirnya Daus mengurungkan cintanya itu kepada Lintang dan mereka pun menjadi sahabat.mereka pun saling bercerita-cerita mengenai diri mereka sendiri, seperti Lintang yang menceritakan kepada Daus bahwa ia adalah seorang cewek yang sangat dimanjakan oleh ayah dan ibunya, dan mengalir darah nasionalisme pada ayah dan ibu yang dikenal sebagai panitia kemerdekaan Indonesia. Sampai-sampai Lintang menceritakan cowok idolanya bahwa yang menjadi cowok idolanya adalah cowok asing bukan cowok dari Indonesia.
Setelah mendengarkan curhatan dari Lintang, giliran Daus yang menceritakan kehidupan dan pengalaman peristiwanya kepada Lintang. Daus adalah seorang anak yang sangat suka merokok. Dia kuliah di Belanda karena mendapatkan beasiswa, dengan itu Daus harus bisa berhemat-hemat di negeri orang dan tinggal bersama Geri dan Wicak, temannya dari Indonesia. Mereka tinggal bersama dalam satu hotel. Karena Geri orang kaya, maka Daus harus pintar-pintar berteman, karena Daus bisa kuliah di negeri orang karena mendapatkan beasiswa. Beasiswa itulah yang diandalkan untuk biaya kehidupannya di Belanda. Dan tujuan Daus duduk dan nongkrong di kafe setiap hari sambil mencari pekerjaan. Mendengar curhatan Daus, Lintang pun jadi sedih dan terharu.
Begitu juga dengan Banjar mahasiswa dari Indonesia juga hidup susah di Belanda, untungnya Daus masih mendapatkan beasiswa, sedangkan Banjar tidak. Banjar membuat pengumuman lowongan kerja di toko-toko. Apalagi Banjar sadar kalau uang sakunya makin menipis. Banjar makin rajin dan gesit menyambangi puluhan situs lowongan kerja di Belanda. Diakhir perjalanannya mencari pekerjaan, tanpa sengaja ia berkenalan dengan empat mahasiswa asal Indonesia lainnya.perkenalan yang tidak direncanakan, yang berangsur menjelma menjadi sebuah persahabatan erat. Dengan persahabatan yang baru, Banjarpun menceritakan kehidupannya di Belanda dengan rasa kasihan. Ada satu pekerjaan yang ditawarkan oleh temannya kepada Banjar, Banjar sangat bersemangat, apalagi setelah mendengar upah yang sangat menggiurkan yaitu 10 euro per jam. Namun sayang wawancara dihentikan, Banjar kecewa dan langsung pulang.
Untuk menghilangkan rasa kecewa Banjar, kelima mahsiswa itu pergi menonton festival. Di acara festival itu, Lintang terkesima melihat seorang cowok yang sangat gagah, dan langsung berkenalan. Sedangkan Banjar sedang asik melihat festival, tiba-tiba teringat dengan wanita yang dulu memikat hatinya di Indonesia. Bagi mereka festival itu, mengingatkan mereka ke semua hal yanga ada di Indonesia.
Selesai acara festival, mereka langsung pulang, kecuali Banjar yang langsung pergi ke kafe untuk bekerja. Lain halnya dengan Wicak, Daus, dan Geri yang sedang sensitif terhadap keuangan mereka yang makin menipis. Tapi mereka menenggelamkan kesensitifan mereka, karena mereka mau fokus terhadap kuliah mereka yang sebentar lagi akan wisuda. Mereka serius dan mati-matian belajar untuk mencapai gelar S2 dan membuat bangga orang Indonesia.
Dan akhirnya impian mereka tercapai, mereka semua wisuda,dan meraih gelar S2 di negeri orang. Untuk merayakan keberhasilannya, mereka mereka pergi jalan-jalan ke suatu tempat yang terkenal di belanda, mereka pun berfoto-foto sebagai kenang-kenangan selama menempuh ilmu di negeri orang. Kemudian mereka pergi ke super market untuk membeli makanan untuk di penginapan. Di tengah perjalanan pulang semua rahasia mereka terbongkar.
Pertama, Geri yang mempunyai rahasia yang sangat besar, diam-diam Geri adalah Gay. Yang selama ini mencintai seorang pria asal Eropah di kampusnya.tapi Geri telah berusaha mengobati penyakitnya dengan mencintai seorang cewek yang menurutnya sangat cantik, namun Geri ditolak. Di saat itu Geri tidak mau lagi mencintai seseorang, Karena hal itu bisa membuat ia sakit hati. Penyakitnya mulai berkurang sejak bertemu dengan sahabat-sahabatnya dari Indonesia.
Kedua, Banjar laki-laki yang berjuang keras untuk kehidupannyadi belanda ternyata menyimpan perasaan kepada Lintang. Tapi Banjar tidak mau mengungkapkan, karena ia tahu bahwa Lintang tidak ada perasaan terhadapnya.dan ia pun laki-laki yang miskin, tidak seperti Lintang yang kaya, apa pun tnggal minta sama orang tuanya. Mendengar ucapan dari Banjar, Lintang terkejut karena tidak menyangka kalau Banjar suka kepadanya. Namun Lintang mengalihkan pembicaraan ke topik lain.
Sesampainya di penginapan, mereka harus beres-beres barang. Karena besok pagi mereka akan balik ke Indonesia. Dan ucapan serta rahasia yang terungkap di perjalanan tadi di lupakan begitu saja. Keesokan paginya mereka berangkat ke bandara, sampai di bandara mereka saling berpeluk-pelukan karena takutnya sampai di Indonesia nanti, persahabatan mereka tidak seperti ini lagi. Akhirnya mereka kembali ke Indonesia dengan perasaan senang, haru dan sedih.
Kesimpulan
Lima mahasiswa yang berjuang hidup di negeri orang, dan mempunyai tali persaudaraan yang kuat. Untuk itu, Novel ini sangat layak dan bagus untuk dibaca. Karena memberikan inspirasi baru kepada pembaca, tentang bagaimana indahnya persahabatan itu. Dengan membaca novel ini, kita juga mendapatkan banyak ilmu pengetahuan. Kisahnya patut dibaca oleh berbagai kalangan, karena kelima mahasiswa ini memiliki watak, karakteristik yang sangat berbeda-beda dan sangat patut untuk kita tiru.
Kelebihan
Novel ini sangat menyentuh pengalaman pembaca, sehingga dapat membuat kita tertawa sendiri untuk membacanya. Kemudian novel ini banyak menggunakan bahasa inggris dan bahasa belanda, yang bisa menambah pengetahuan kita sebagai pembaca, dari awal yang tidak tahu tentang bahasa inggris, menjadi tahu dan mengerti. Novel ini juga memberikan kita banyak informasi dan pengalaman, sebagai bekal kita ke negeri orang. Gaya bahasanya santai, dan dapat dimengerti oleh pembaca. Terakhir, novel ini juga mengajarkan kita tentang kehidupan, dan kalau ingin sukses harus berusaha dan kerja keras.
Kekurangan
Tidak ada kekurangan yang dominan di dalam novel ini. Salah satu kekurangannya yaitu masih ada kata-kata atau kalimat yang berulang-ulang atau bertele-tele. Kemudian covernya kurang menarik.

BAHASA JURNALISTIK


MENULIS PARAGRAF JURNALISTIK
A.    DEFINISI PARAGRAF JURNALISTIK
Definisi Paragraf jurnalistik menurut ahli bahasa:
1. Djago Tarigan
Paragraf adalah seperangkat kalimat tersusun logis-sistematis yang merupakan satu kesatuan ekspresi pikiran yang relevan dan mendukung pikiran pokok yang tersirat dalam keseluruhan karangan.
2. Gorys Keraf
Paragraf adalah suatu kesatuan pikiran atau suatu kesatuan yang lebih luas dari kalimat.

Paragraf  jurnalistik adalah seperangkat kalimat tersusun logis-sistematis yang merupakan satu kesatuan ekspresi pikiran yang relevan dan mendukung pikiran pokok yang tersirat dalam keseluruhan paparan materi jurnalistik.
Paragraf jurnalistik menunjuk kepada paragraf yang berpijak kepada proses dan hasil karya jurnalistik. Paragraf jurnalistik berada dalam ruang-lingkup serta tunduk kepada kaidah bahasa jurnalistik. Jika suatu paragraf mengandung unsur materi jurnalistik, misalnya tajuk rencana, karikatur, pojok, artikel, kolom, berita, teks foto berita, wawancara, feature, maka paragraf itu disebut paragraf jurnalistik.

B.     KARAKTERISTIK PARAGRAF JURNALISTIK
1. Memiliki satu ide pokok
Paragraf jurnalistik yang baik hanya memiliki satu gagasan pokok dalam keseluruhan kalimat. Gagasan pokok bisa ditempatkan pada awal paragraf, bisa pada akhir paragraf, tetapi sedikit sekali yang ditempatkan pada tengah paragraf.
2. Dibangun oleh sejumlah kalimat
Panjang-pendeknya paragraf ditentukan oleh pertimbangan latar belakang pembaca dan faktor  isi-sifat media yang dipilih.
3. Kesatuan ekspresi pikiran
Paragraf merupakan satuan terkecil dari sebuah wacana. Pada paragraf sudah terdapat adanya satu kesatuan ekspresi pikiran dan perasaan mengenai gagasan sentral apa yang ingin disampaikan penulis atau jurnalis kepada pembaca.
4. Kesatuan koheren dan padat
Kesatuan sebuah paragraf jurnalistik bukan hanya terletak pada bentuknya sebagai kumpulan kalimat yang ditandai dengan penulisan awal paragraf yang menjorok ke dalam 5-7 ketukan, melainkan juga pada kepaduan materi isi dan gagasannya.
Sebuah paragraf jurnalistik disebut padat apabila memuat banyak informasi.
5. Logis dan sistematis
Paragraf jurnalistik yang baik, disusun secara tertib, teratur, dan merujuk kepada kaidah logika.

C.     FUNGSI PARAGRAF JURNALISTIK
1. Penampung ide pokok
Fungsi paragraf jurnalistik, secara teknis ialah menampung ide pokok yang hendak disampaikan penulis atau jurnalis kepada pembaca.
2. Memudahkan pemahaman jalan pikiran
Pembaca dapat mengetahui jalan pikiran penulis atau jurnalis, dengan cara menyimak kata demi kata, dan kalimat demi kalimat yang terdapat dalam satuan-satuan paragraf pada karya-karya jurnalistik yang ditulis dan disajikannya dalam media massa.
3. Melahirkan jalan pikiran sistematis
Penulis atau jurnalis mampu melahirkan karya-karya jurnalistik bermutu tinggi. Karya jurnalistik bermutu tinggi  dapat dilihat dan diperiksa pada jalan pikiran yang muncul dalam setiap kalimat dan paragraf jurnalistik yang ditulisnya.
4.Mengarahkan pembaca ikuti alur penulis
Seorang penulis atau jurnalis yang baik akan mengarahkan, memandu, sekaligus mengikat pikiran dan perasaan pembaca, pendengar, atau pemirsanya untuk hanya mengikuti jejak-langkahnya.

D.    UNSUR-UNSUR PARAGRAF JURNALISTIK
1. Transisi
Transisi berarti peralihan dari paragraf yang satu ke paragraf berikutnya. Transisi menghubungkan dua paragraf yang berdekatan. Transisi bisa berupa kata, bisa juga berupa kalimat. Dalam bahasa jurnalistik, tidak ada ketentuan apakah setiap paragraf
harus memakai transisi.
2. Kalimat Topik
Kalimat topik dalam bahasa jurnalistik disebut kalimat utama.
3. Kalimat Pengembang
Kalimat pengembang dalam jurnalistik disebut sebagai kalimat penjelas. Kalimat utama yang diberi penjelasan dan uraian penekanan serta contoh-contoh pada kalimat-kalimat berikutnya dalam satu paragraf yang sama, itulah yang disebut dengan kalimat pengembang. Kalimat pengembang merupakan penjabaran atau perluasan dari gagasan pokok yang terdapat pada kalimat utama.
4. Kalimat Penegas
Dimaksudkan untuk memberi penegasan atau penekanan terhadap apa yang telah dinyatakan dalam kalimat utama.

E.     JENIS-JENIS PARAGRAF JURNALISTIK
1. Paragraf Deduktif
Paragraf yang dimulai dengan kalimat utama disusul dengan penjelasan atau uraian secara lebih perinci dengan mengikuti pola urutan pesan dari umum ke khusus.
2. Paragraf Induktif
Paragraf yang dimulai dengan kalimat penjelas yang menekankan bagian-bagian terkecil disusul dengan penjelasan bagian-bagian yang lebih besar sebelum kemudian diakhiri dengan kesimpulan atau kalimat penegas.
3. Paragraf Campuran
Merupakan gabungan beberapa unsur paragraf deduktif dan paragraf induktif. Bahasa jurnalistik kurang menyukai paragraf campuran karena cenderung menyulitkan pembaca, pendengar untuk cepat mengambil kesimpulan mengenai pokok pikiran yang terdapat dalam suatu paragraf.
4. Paragraf Perbandingan
Suatu paragraf disebut paragraf perbandingan apabila kalimat utama yang biasanya ditempatkan pada awal paragraf, membandingkan dua hal mengenai unsur-unsur sifat atau keadaan yang terdapat di dalamnya.
5. Paragraf Pertanyaan
Paragraf yang bertujuan untuk mempertanyakan atau menggugat sesuatu dengan mengajukan kalimat Tanya pada kalimat pertama atau kalimat kedua di awal paragraf jurnalistik.
6. Paragraf Sebab-Akibat
Paragraf yang disusun berdasarkan urutan logis disebut paragraf sebab-akibat. Artinya, kalimat utama dalam paragraf dikembangkan ke dalam urutan sebab dan akibat.
7. Paragraf Contoh
Paragraf yang disusun dengan menunjukkan banyak contoh pada kalimat utama, kalimat pengembang dan kalimat penjelas. Fungsi utama paragraf contoh tidak dimaksudkan untuk menekankan suatu gagasan, tetapi justru untuk memberikan gambaran sesuatu hal secara konkret kepada pembaca.
8. Paragraf Perulangan
Paragraf yang melakukan pengulangan kata, istilah, frasa, atau klausa dalam susunan kalimat yang berbeda tetapi masih dalam satu paragraf jurnalistik yang sama. Fungsi paragraf perulangan terutama dimaksudkan untuk lebih menekankan efek psikologis yang ingin dicapai dari khalayak pembaca, sekaligus menunjukkan variasi kata dan kalimat.
9. Paragraf Definisi
Paragraf yang menunjukkan suatu istilah atau konsep pada kalimat utama dan istilah atau konsep itu masih memerlukan uraian serta penjelasan perinci pada kalimat-kalimat berikutnya. Fungsinya untuk memperjelas suatu istilah, konsep, atau definisi sehingga pembaca diharapkan dapat mengikuti jalan pikiran si penulis atau jurnalis.

F.      KUALITAS PARAGRAF JURNALISTIK
1. Satu hal saja
Paragraf jurnalistik yang baik hanya memusatkan bahasan pada satu hal atau satu ide saja.
2. Relevan
Relevan artinya berkaitan atau sesuai dengan pokok bahasan, tidak menyimpang dari topik.

3. Menyatu dan padu
Paragraf jurnalistik harus memenuhi prinsip kesatuan dan prinsip pertautan. Prinsip kesatuan mencakup tiga unsur: sifat, isi, tujuan. Artinya, masalah apa pun yang kita kupas dalam karya jurnalistik tidak boleh keluar dari koridor ini. Prinsip pertautan menunjukkan tentang keharusan pesan yang kita uraikan mengalir lancar dari kalimat yang satu ke kalimat yang lain.
4. Jelas dan sempurna
Kalimat utama yang terdapat dalam paragraf jurnalistik harus dikembangkan dan diperinci dengan jelas dan sempurna.
5. Harus bervariasi
Variasi pada paragraf jurnalistik terletak pada pilihan kata atau diksi, penempatan frasa atau klausa, penempatan panjang-pendeknya kalimat atau paragraph, penentuan kalimat efektif, dan pemilihan gaya bahasa.
6. Benar dan baik
Bahasa jurnalistik merujuk sekaligus tunduk kepada kaidah bahasa baku. Pertama, bahasa jurnalistik harus benar menurut kaidah tata bahasa. Kedua, bahasa hurnalistik juga harus baik menurut pertimbangan situasi dan kondisi sosiologis, psikologis, dan etis.
7. Singkat padat
Paragraf jurnalistik juga wajib disajikan secara singkat dan padat. Singkat berarti hanya menggunakan kata-kata yang penting, terukur, fungsional. Singkat juga berarti tidak menyebabkan pembaca kehilangan banyak waktu berharga untuk menyimak karya jurnalistik kita.
8. Logis dan sistematis
Logis berarti sesuai dengan atau dapat diterima menurut pertimbangan akal sehat. Sistematis berarti deretan kata dan kalimat yang terdapat dalam setiap paragraf jurnalistik, tertata dengan baik, dan runtut.
9. Memiliki karakter khas
Karya-karya jurnalistik harus memiliki karakter tertentu. Karakter itu hanya mungkin muncul dalam paragraf-paragraf jurnalistik apabila kita sebagai penulis atau jurnalis, sejak awal memiliki dan mengembangkan karakter atau gaya penulisan yang khas.

Proposal Menulis Karya Ilmiah (Analisis Tindak Tutur)


Proposal
Menulis Karya Ilmiah
“Analisis Tindak Tutur dan Implikasi dalam Wacana Iklan”

Oleh:
Titis Safitri

Dosen Pembimbing:
Yulia Sri Hartati, M.Pd

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA BARAT
PADANGPANJANG
                                                                          2012


KATA PENGANTAR
            Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-NYA, sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal penelitian dengan judul “Analisis Tindak Tutur dan Implikasi dalam Wacana Iklan”.
            Proposal ini disusun sebagai tugas akhir  semester V dalam mata kuliah Menulis Karya Ilmiah pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat Padangpanjang.
            Dalam penyusunan proposal ini penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1.      Yulia Sri Hartati, M.Pd  sebagai dosen pembimbing yang telah memberikan saran dan bimbingan serta semangat kepada penulis dalam menyelesaikan proposal ini.
2.      Muadsyah HS sebagai pengelola pustaka yang telah memberikan bantuan dalam pengerjaan proposal ini.
3.      Kepada teman-teman yang telah membantu penulis dalam pengerjaan proposal.
Penulis menyadari proposal ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan proposal ini. Akhir kata, mudah-mudahan proposal ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

                                                                                                Padangpanjang, 21 Desember 2012


                                                                                                            Penulis






DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
            A. Latar Belakang Masalah
            B. Fokus Masalah
            C. Pertanyaan Penelitian
            D. Tujuan Penelitian
            E. Manfaat Penelitian

BAB II KAJIAN TEORITIS
A.    Kajian Teori
            1. Pengertian Bahasa
            2. Jenis Bahasa
            3. Fungsi Bahasa
            4. Pengertian Pragmatik
            5. Pengertian Implikatur
B.     Kerangka Konseptual
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis dan Metode Penelitian
B. Sumber Data
C. Metode dan Teknik Pengumpulan Data
D. Teknik Analisis Data


                                                                        ii
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting bagi manusia. Dengan bahasa
manusia dapat berinteraksi dengan manusia lainnya, baik secara lisan maupun tulisan. Tanpa bahasa, tentu saja akan sangat sulit bagi manusia untuk menyampaikan kemauannya, ide, pendapat, perasaan, pesan dan sebagainya.
Menurut Kridalaksaana (dalam Kencono, 1982:2-2), “Bahasa adalah system lambing bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh anggota kelompok social untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri”.
Tindak tutur atau pragmatik adalah suatu cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal yang terikat dengan konteksnya. Pragmatik juga dapat diartikan sebagai telaah mengenai hubungan tanda-tanda dengan penafsirnya. Faktor-faktor penentu dalam berkomunikasi antara lain; penutur, lawan tutur, situasi, tujuan pembicaraan, konteks, jalur, media dan peristiwa.
Didalam pragmatik dijelaskan bahwa bahasa itu tidak hanya berfungsi untuk menginformasikan sesuatu (lokusi), tetapi dengan bahasa seseorang juga bias melakukan sesuatu (ilokusi) dan mempengaruhi orang lain (perlokusi).
Media untuk menyampaikan bahasa pun bermacam-macam, baik media cetak maupun elektronik. Bahasa berkaitan erat dengan media komunikasi massa. Melalui media komunikasi massa seseorang dapat menyampaikan pesan atau informasi kepada khalayak umum, seperti penyampaian iklan pada media cetak.
Kecanggihan media informasi dan komunikasi memberikan peluang kepada pengguna bahasa untuk menyalurkan ide atau pemikirannya, salah satunya melalui media iklan. Iklam merupakan media yang tepat untuk berkomunikasi dengan konsumen agar produk dan jasa yang ditawarkan diminati banyak orang. Iklan yang diterbitkan harus kreatif, menarik dan sifatnya mengajak pembaca.
Memahami bahasa adalah hal penting dalam strategi pemasaran sebuah iklan. Penelitian penyampaian bahasa sebagai pesan dalam sebuah wacana iklan merupakan bentuk tuturan yang telah direncanakan dan mempunyai tujuan tertentu. Sukses atau tidaknya pemasaran iklan tersebut tergantung pada bahasa yang digunakan.
Pilihan kata pada penggunaan bahasa dalam wacana iklan pasti terlebih dahulu dipikirkan baik buruknya, cocok atau tidaknya bahasa tersebut dipakai sebelum iklan diterbitkan. Setiap iklan tentu memiliki cara penyampaian pesan yang berbeda-beda. Dan inilah menjadi ciri khusus dari bahasa iklan tersebut. Dari cara penyampaian pesan tersebut dapat memudahkan pembaca dalam memahami maksud tuturan dalam wacana iklan.
Salah satu media untuk menyampaikan iklan adalah koran. Koran merupakan lembaran-lembaran kertas yang bertuliskan dan berisikan kabar (berita) serta informasi. Didalam Koran tersebut, pembaca dapat memperoleh informasi terbaru dan terkini yang sedang menjadi topik pembicaraan banyak orang.
Dari berbagai macam nama Koran dalam penelitian ini, penulis memilih Koran Singgalang sebagai sumber datanya. Penulis akan menggunakan analisis tindak tutur dan implikasinya dalam wacana iklan.
Berdasarkan uraian diatas, cirri khusus dari bahasa iklan adalah cara penyampaian pesan yang berbeda-beda. Dari cara penyampaian pesan tersebut, penulis bermaksud meneliti tentang tindak tutur dan implikasinya dalam wacana iklan. Oleh karena itu, penulis memberikan judul penelitian dengan, “Analisis tindak tutur dan implikasi dalam wacana iklan”.

B.     Fokus Masalah
Berdasarkan pembahasan dari latar belakang masalah, penelitian ini difokuskan pada, “Analisis tindak tutur dan implikasi dalam wacana iklan mobil”.

C.     Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan fokus masalah diatas, maka pertanyaan penelitian ini adalah, “Bagaimanakah analisis tindak tutur dan implikasi dalam wacana iklan mobil?”

D.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan pertanyaan penelitian diatas, maka tujuan penelitian ini adalah, “Menganalisis tindak tutur dan implikasi dalam wacana iklan mobil”.
E.     Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi:
1. Penulis, untuk mengetahui analisis tindak tutur dan implikasi dalam wacana iklan mobil.
2. Pembaca, untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang analisis tindak tutur dan implikasi dalam wacana iklan mobil.
3. Guru, supaya bias menerapkan pembelajaran tentang analisis tindak tutur dan implikasi dalam wacana iklan.























BAB II
KERANGKA TEORITIS
A.    Kajian Teori
1. Pengertian Bahasa

Menurut Gorys Keraf ( 1989 :1), “Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa symbol bunyi yang dihasilkan oleh aat ucap manusia”. Semua orang menyadari bahwa interaksi dan segala macam kegiatan dalam masyarakat akan lumpuh tanpa bahasa. Dengan adanya bahasa sebagai alat komunikasi, maka semua yang berada disekitar manusia: peristiwa-peristiwa, binatang-binatang, tumbuh-tumbuhan, hasil cipta karya manusia dan sebagainya, mendapat tanggapan dalam pikiran manusia, disusun dan diungkapkan kembali kepada orang-orang sebagai bahan komunikasi. Komunikasi melalui bahasa ini memungkinkan tiap orang untuk menyesuaikan dirinya dengan lingkungan fisik dan lingkungan sekitarnya.
Menurut  Kridalaksana (dalam Agustina, 1995:1), “Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi dan mengidentifikasikan diri”. Batasan tersebut diperinci menjadi: bahasa adalah sebuah sistem, bahasa merupakan sebuah sistem lambing, bahasa itu bermakna, bahasa bersifat konvensional sistem bunyi, bersifat arbitrer, produktif, unik, universal, bahasa mempunyai variasi-variasi dan bahasa sebagai media pengidentifikasian diri.
Prof. Anderson (dalam Tarigan, 1986:2-3) mengemukakan adanya delapan prinsip dasar bahasa, yaitu: 1) bahasa adalah suatu sistem, 2) bahasa adalah vocal, 3) bahasa tersusun dari lambing-lambang manasuka (arbitrer), 4) bahasa bersifat unik, 5) bahasa dibangun dari kebiasaan-kebiasaan, 6) bahasa adalah alat komunikasi, 7) bahasa berhubungan erat dengan budaya tempatnya berada, 8) bahasa itu berubah-rubah.
Menurut Plato (dalam
http://carapedia.com/pengertian.definisi.bahasa.info 494.html), “Bahasa adalah pernyataan pikiran seseorang dengan perantaraan onomata (nama benda atau sesuatu) dan rhemata (ucapan) yang merupakan cermin dari ide seseorang dalam arus udara lewat mulut”.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, bahasa merupakan alat komunikasi yang dipergunakan oleh manusia untuk berkomunikasi, berinteraksi, bekerja sama dan mengidentifikasikan diri.
2. Jenis Bahasa
Dra. Agustina M.Hum (1995:4-5) mengemukakan jenis bahasa ditinjau dari segi media yang digunakan, yaitu; 1) bahasa lisan (spoken language), 2) bahasa tulisan (written language), 3) bahasa isyarat (gesture language). Bahasa lisan adalah bahasa yang menggunakan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia sebagai medianya. Berkomunikasi lewat bahasa lisan menghendaki para partisipannya berhadapan, baik langsung maupun tak langsung. Bahasa tulisan adalah yang menggunakan tulisan atau lambing yang berupa huruf-huruf sebagai medianya. Bahasa tulisan berhubungan erat dengan bahasa lisan, karena bahasa tulisan tidak akan ada kalau tidak ada bahasa lisan. Bahasa isyarat disebut juga bahasa nonverbal karena bahasa ini tidak menggunakan bunyi dan tulisan sebagai medianya tetapi menggunakan isyarat.
3. Fungsi Bahasa
Gorys Keraf (1989 : 3-6) mengemukakan fungsi bahasa ada empat, yaitu; 1) alat untuk menyatakan ekspresi diri, 2) sebagai alat komunikasi, 3) alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial, 4) alat untuk mengadakan control sosial. Sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri, bahasa menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam dada kita, sekurang-kurangnya untuk memaklumkan keberadaan kita. Sebagai alat komunikasi, dengan adanya komunikasi seseorang dapat menyampaikan semua yang dirasakan dan dipikirkannya kepada orang lain. Bahasa sebagai alat mengadakan integrasi dan adaptasi sosial, seseorang mencoba menyesuaikan dirinya dengan semua orang melalui bahasa. Bila ia dapat menyesuaikan dirinya maka ia pun dengan mudah membaurkan dirinya (integrasi) dengan segala macam tata-krama di lingkungannya. Bahasa sebagai alat mengadakan control sosial, semua kegiatan sosial akan berjalan dengan baik karena dapat diatur dengan mempergunakan bahasa. Semua tutur dimaksudkan untuk mendapatkan tanggapan.
Halliday (dalam Agustina, 1995:8), merinci fungsi bahasa menjadi tujuh jenis. Ketujuh jenis tersebut adalah: 1) fungsi instrumental, untuk menghasilkan tindakan-tindakan komunikatif dalam kondisi tertentu, 2) fungsi regulasi, untuk mengatur orang lain, 3) fungsi representasional, untuk menjelaskan fakta dan pengetahuan, 4) fungsi interaksional, untuk memantapkan ketahanan dan kelangsungan komunikasi sosial, 5) fungsi personal, untuk mengekspresikan perasaan, emosi, pribadi, serta reaksi-reaksi yang mendalam, 6) fungsi heuristik, untuk memperoleh dan mempelajari ilmu pengetahuan, 7) fungsi imajinatif, untuk melayani penciptaan gagasan-gagasan yang bersifat imajinatif.
4. Pengertian Pragmatik
Menurut George (dalam Tarigan, 1986:32), “Pragmatik adalah telaah mengenai keseluruhan perilaku insan, terutama sekali dalam hubungannya dengan tanda-tanda dan lambang-lambang”. Pragmatik memusatkan perhatian pada cara insane berperilaku dalam keseluruhan situasi pemberian tanda dan penerimaan tanda.
Menurut Levinson (dalam Tarigan, 1986:33), “ Pragmatik adalah telaah mengenai relasi antara bahasa dan konteks yang merupakan dasar bagi suatu laporan pemahaman bahasa atau telaah mengenai kemampuan pemakai bahasa menghubungkan serta menyerasikan kalimat-kalimat dan konteks-konteks secara tepat”.
Menurut Charles Morris (dalam Tarigan, 1986:33), “ Pragmatik adalah telaah mengenai hubungan tanda-tanda dengan para penafsirnya.” Teori pragmatik menjelaskan alasan atau pemikiran para pembicara dan para penyimak dalam menyusun korelasi dalam suatu konteks sebuah tanda kalimat suatu proposi (rencana atau masalah).
Selanjutnya, menurut Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan (1986:33), “Pragmatik adalah telaah mengenai segala aspek makna yang tidak tercakup dalam teori semantik”. Jadi, dapat dikatakan pragmatik memperbincangkan segala aspek makna ucapan yang tidak dapat dijelaskan secara tuntas oleh referensi langsung kepada kondisi-kondisi kebenaran kalimat yang diucapkan.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, pragmatk adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal yang terikat dengan konteksnya.
5. Pengertian Implikatur
Menurut Grice (dalam Wijana, 1996: 37-39) dalam artikelnya yang berjudul Logic and Conversation mengemukakan bahwa tuturan dapat mengimplikasikan proposisi yang bukan merupakan bagian daari tuturan bersangkutan. Proposisi yang diimplikasikan itu disebut implikatur (implicature). Karena implikatur bukan merupakan bagian tuturan yang mengimplikasikannya, hubungan kedua proposisi itu bukan merupakan konsekuensi mutlak.
Menurut Agustina (1995: 54), “Konsep implikatur dipakai untuk menerangkan perbedaan yang sering terdapat antara apa yang diucapkan dengan apa yang diimplikasi”. Konsep implikatur percakapan ini diajukan Grice untuk menanggulangi makna bahasa yang tidak dapat ditanggulangi oleh teori semantic biasa. Konsep implikatur dapat memberikan suatu penjelasan yang eksplisit tentang kemungkinan apa yang diucapkan secara lahiriah berbeda dari apa yang dimaksud dan pemakai bahasa itu mengerti atau dapat menangkap pesan yang dimaksud dalam ungkapannya.
Selanjutnya, dapat dilihat dari contoh wacana iklan: “Pesta Ertiga 2012, dengan hadiah menarik Motor Suzuki NEX dan puluhan hadiah menarik lainnya”. Tuturan tersebut mengimplikasikan bahwa adanya penarikan undian berhadiah. Didalam pertuturan yang sesungguhnya, penutur dan mitra tutur dapat secara lancer berkomunikasi karena mereka berdua memiliki kesamaan latar belakang pengetahuan tentang sesuatu yang dipertuturkan itu. Diantara penutur dan lawan tutur terdapat semacam kontrak percakapan tidak tertulis bahwa apa yang sedang dipertuturkan itu saling dimengerti. Jadi, dapat dikatakan implikasi itu merupakan maksud dan tanggapan dari apa yang dituturkan.
B.     Kerangka Konseptual
Pragmatik adalah ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal yang terikat dengan konteksnya. Pragmatik juga dapat diartikan sebagai telaah mengenai hubungan tanda-tanda dengan penafsirnya.
Konsep implikatur dipakai untuk menerangkan perbedaan yang sering terdapat antara apa yang diucapkan dengan apa yang diimplikasi.







           ANALISIS
        IMPLIKATUR
        PRAGMATIK
        FUNGSI BAHASA
        JENIS BAHASA
            BAHASA
       KEBAHASAAN
  













BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

 Jenis dan Metode Penelitian
            Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Menurut Moleong (1998: 2), “Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan kata-kata atau lisan objek yang diamati”. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Metode ini digunakan untuk menjelaskan kondisi suatu sistem pemikiran ataupun suatu peristiwa pada masa sekarang.
            Menurut Nazir (2005: 54), “Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang”. Tujuan penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi gambaran atau lukisan secara sistematis, factual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat hubungan antara fenomena yang diselidiki.
            Menurut Bagdan dan Taylor (dalam Moleong, 1998: 21), “Penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati”.
Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah tuturan yang terdapat dalam wacana iklan. Wacana yang terdapat dalam Koran Singgalang, berupa wacana iklan mobil.
Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini data dikumpulkan dengan menggunakan metode simak. Menurut Mahsun (2005:90), “Metode simak adalah metode yang digunakan untuk menyimak penggunaan bahasa”. Menyimak di sini bukan hanya berkaitan dengan penggunaan bahasa secara lisan, tetapi juga penggunaan bahasa secara tertulis.
Di dalam penggunaan secara tertulis harus dilakukan dengan menggunakan teknik cata yaitu mencatat beberapa bentuk yang relevan bagi penelitiannya dari  penggunaan bahasa secara tertulis. Teknik tersebut dapat digunakan pada penelitian penggunaan bahasa secara tertulis. Jadi, wacana iklan mobil “Ertiga” yang diteliti merupakan penggunaan bahasa tertulis.
                        Data Analisis Tindak Tutur dan Implikasi dalam Wacana Mobil
No
Tuturan
Implikasi
1.


2.


3.



Teknik Analisis Data
            Teknik yang digunakan dalam analisis data adalah teknik pilah. Teknik pilah merupakan teknik yang digunakan dalam menentukan identitas objek sasaran penelitian yang berupa satuan lingual. Unsur penentu dalam penganalisisan data yaitu daya pilah pragmatis, yang alat penentunya berasal dari mitra tutur yang mendengarkan tuturan tersebut.
            Daya pilah pragmatis dilakukan dengan memilah-milah satuan lingual menjadi tuturan dalam suatu percakapan dalam sebuah wacana. Contoh pada wacana iklan mobil yang ada pada Koran Singgalang: “Pesta Ertiga 2012 dengan hadiah menarik motor Suzuki NEX dan puluhan hadiah menarik lainnya”. Tuturan tersebut mengimplikasikan bahwa adanya penarikan undian berhadiah. Dapat juga mengimplikasikan bahwa pelangan yang mengikuti pesta Ertiga akan mendapatkan hadiah.

DAFTAR PUSTAKA

Agustina. 1995. Pragmatik Dalam Pengajaran Bahasa Indonesia. Padang: IKIP Padang Press.
Keraf, Gorys. 1989. Komposisi. Jakarta: Nusa Indah.
Mahsun. 2005. Metode Penelitian. Jakarta: Fajar Interprata Offset.
Moleong, Lexy. 1998. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nazir, Moh. 2005. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Plato. 2010. “Definisi Bahasa”. http://carapedia.com/pengertian.definisi.bahasa.info494.html.                   Diakses 6 Desember 2012.
Tarigan, Henry Guntur. 1986. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa Bandung.
Wijana, I Putu. 1996. Dasar-Dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi Yogyakarta.