Proposal
Menulis Karya Ilmiah
“Analisis Tindak Tutur dan
Implikasi dalam Wacana Iklan”
Oleh:
Titis Safitri
Dosen
Pembimbing:
Yulia Sri Hartati, M.Pd
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SUMATERA BARAT
PADANGPANJANG
2012
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kepada Allah SWT,
yang telah memberikan rahmat dan karunia-NYA, sehingga penulis dapat
menyelesaikan proposal penelitian dengan judul “Analisis Tindak Tutur dan
Implikasi dalam Wacana Iklan”.
Proposal ini disusun sebagai
tugas akhir semester V dalam mata kuliah
Menulis Karya Ilmiah pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat
Padangpanjang.
Dalam penyusunan proposal ini
penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan
terima kasih kepada:
1.
Yulia Sri Hartati, M.Pd sebagai dosen pembimbing yang telah
memberikan saran dan bimbingan serta semangat kepada penulis dalam
menyelesaikan proposal ini.
2.
Muadsyah HS sebagai pengelola pustaka
yang telah memberikan bantuan dalam pengerjaan proposal ini.
3.
Kepada teman-teman yang telah membantu
penulis dalam pengerjaan proposal.
Penulis
menyadari proposal ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis
mengharapkan kritik dan
saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan proposal ini. Akhir kata,
mudah-mudahan proposal ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Padangpanjang,
21 Desember 2012
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Fokus Masalah
C. Pertanyaan Penelitian
D. Tujuan Penelitian
E. Manfaat Penelitian
BAB II KAJIAN TEORITIS
A.
Kajian Teori
1. Pengertian Bahasa
2. Jenis Bahasa
3. Fungsi Bahasa
4. Pengertian Pragmatik
5. Pengertian Implikatur
B.
Kerangka Konseptual
BAB III METODOLOGI
PENELITIAN
A. Jenis dan Metode Penelitian
B. Sumber Data
C. Metode dan Teknik Pengumpulan Data
D. Teknik Analisis Data
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting bagi manusia. Dengan
bahasa
manusia dapat berinteraksi dengan manusia lainnya, baik secara lisan maupun
tulisan. Tanpa bahasa, tentu saja akan sangat sulit bagi manusia untuk
menyampaikan kemauannya, ide, pendapat, perasaan, pesan dan sebagainya.
Menurut Kridalaksaana (dalam Kencono, 1982:2-2), “Bahasa adalah system lambing
bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh anggota kelompok social untuk
bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri”.
Tindak tutur atau pragmatik adalah suatu cabang ilmu bahasa yang mempelajari
struktur bahasa secara eksternal yang terikat dengan konteksnya. Pragmatik juga
dapat diartikan sebagai telaah mengenai hubungan tanda-tanda dengan
penafsirnya. Faktor-faktor penentu dalam berkomunikasi antara lain; penutur,
lawan tutur, situasi, tujuan pembicaraan, konteks, jalur, media dan peristiwa.
Didalam pragmatik dijelaskan bahwa bahasa itu tidak hanya berfungsi untuk
menginformasikan sesuatu (lokusi), tetapi dengan bahasa seseorang juga bias
melakukan sesuatu (ilokusi) dan mempengaruhi orang lain (perlokusi).
Media untuk menyampaikan bahasa pun bermacam-macam, baik media cetak maupun
elektronik. Bahasa berkaitan erat dengan media komunikasi massa. Melalui media
komunikasi massa seseorang dapat menyampaikan pesan atau informasi kepada
khalayak umum, seperti penyampaian iklan pada media cetak.
Kecanggihan media informasi dan komunikasi memberikan peluang kepada pengguna
bahasa untuk menyalurkan ide atau pemikirannya, salah satunya melalui media
iklan. Iklam merupakan media yang tepat untuk berkomunikasi dengan konsumen agar
produk dan jasa yang ditawarkan diminati banyak orang. Iklan yang diterbitkan
harus kreatif, menarik dan sifatnya mengajak pembaca.
Memahami bahasa adalah hal penting dalam strategi pemasaran sebuah iklan.
Penelitian penyampaian bahasa sebagai pesan dalam sebuah wacana iklan merupakan
bentuk tuturan yang telah direncanakan dan mempunyai tujuan tertentu. Sukses
atau tidaknya pemasaran iklan tersebut tergantung pada bahasa yang digunakan.
Pilihan kata pada penggunaan bahasa dalam wacana iklan pasti terlebih dahulu
dipikirkan baik buruknya, cocok atau tidaknya bahasa tersebut dipakai sebelum
iklan diterbitkan. Setiap iklan tentu memiliki cara penyampaian pesan yang
berbeda-beda. Dan inilah menjadi ciri khusus dari bahasa iklan tersebut. Dari
cara penyampaian pesan tersebut dapat memudahkan pembaca dalam memahami maksud
tuturan dalam wacana iklan.
Salah satu media untuk menyampaikan iklan adalah koran. Koran merupakan
lembaran-lembaran kertas yang bertuliskan dan berisikan kabar (berita) serta
informasi. Didalam Koran tersebut, pembaca dapat memperoleh informasi terbaru
dan terkini yang sedang menjadi topik pembicaraan banyak orang.
Dari berbagai macam nama Koran dalam penelitian ini, penulis memilih Koran
Singgalang sebagai sumber datanya. Penulis akan menggunakan analisis tindak
tutur dan implikasinya dalam wacana iklan.
Berdasarkan uraian diatas, cirri khusus dari bahasa iklan adalah cara
penyampaian pesan yang berbeda-beda. Dari cara penyampaian pesan tersebut,
penulis bermaksud meneliti tentang tindak tutur dan implikasinya dalam wacana
iklan. Oleh karena itu, penulis memberikan judul penelitian dengan, “Analisis
tindak tutur dan implikasi dalam wacana iklan”.
B. Fokus Masalah
Berdasarkan pembahasan dari latar belakang masalah, penelitian ini difokuskan
pada, “Analisis tindak tutur dan implikasi dalam wacana iklan mobil”.
C. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan fokus masalah diatas, maka pertanyaan penelitian ini adalah,
“Bagaimanakah analisis tindak tutur dan implikasi dalam wacana iklan mobil?”
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pertanyaan penelitian diatas, maka tujuan penelitian ini adalah,
“Menganalisis tindak tutur dan implikasi dalam wacana iklan mobil”.
E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi:
1. Penulis, untuk mengetahui analisis tindak tutur dan implikasi dalam wacana
iklan mobil.
2. Pembaca, untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang analisis tindak
tutur dan implikasi dalam wacana iklan mobil.
3. Guru, supaya bias menerapkan pembelajaran tentang analisis tindak tutur dan
implikasi dalam wacana iklan.
BAB II
KERANGKA TEORITIS
A.
Kajian
Teori
1. Pengertian Bahasa
Menurut Gorys Keraf ( 1989 :1), “Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota
masyarakat berupa symbol bunyi yang dihasilkan oleh aat ucap manusia”. Semua
orang menyadari bahwa interaksi dan segala macam kegiatan dalam masyarakat akan
lumpuh tanpa bahasa. Dengan adanya bahasa sebagai alat komunikasi, maka semua
yang berada disekitar manusia: peristiwa-peristiwa, binatang-binatang,
tumbuh-tumbuhan, hasil cipta karya manusia dan sebagainya, mendapat tanggapan
dalam pikiran manusia, disusun dan diungkapkan kembali kepada orang-orang
sebagai bahan komunikasi. Komunikasi melalui bahasa ini memungkinkan tiap orang
untuk menyesuaikan dirinya dengan lingkungan fisik dan lingkungan sekitarnya.
Menurut Kridalaksana (dalam Agustina,
1995:1), “Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan
oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi dan
mengidentifikasikan diri”. Batasan tersebut diperinci menjadi: bahasa adalah
sebuah sistem, bahasa merupakan sebuah sistem lambing, bahasa itu bermakna,
bahasa bersifat konvensional sistem bunyi, bersifat arbitrer, produktif, unik,
universal, bahasa mempunyai variasi-variasi dan bahasa sebagai media
pengidentifikasian diri.
Prof. Anderson (dalam Tarigan, 1986:2-3) mengemukakan adanya delapan prinsip
dasar bahasa, yaitu: 1) bahasa adalah suatu sistem, 2) bahasa adalah vocal, 3)
bahasa tersusun dari lambing-lambang manasuka (arbitrer), 4) bahasa bersifat
unik, 5) bahasa dibangun dari kebiasaan-kebiasaan, 6) bahasa adalah alat
komunikasi, 7) bahasa berhubungan erat dengan budaya tempatnya berada, 8)
bahasa itu berubah-rubah.
Menurut Plato (dalam http://carapedia.com/pengertian.definisi.bahasa.info
494.html), “Bahasa adalah pernyataan pikiran seseorang
dengan perantaraan onomata (nama benda atau sesuatu) dan rhemata (ucapan) yang
merupakan cermin dari ide seseorang dalam arus udara lewat mulut”.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, bahasa merupakan alat komunikasi
yang dipergunakan oleh manusia untuk berkomunikasi, berinteraksi, bekerja sama
dan mengidentifikasikan diri.
2. Jenis Bahasa
Dra. Agustina M.Hum (1995:4-5) mengemukakan jenis bahasa ditinjau dari segi
media yang digunakan, yaitu; 1) bahasa lisan (spoken language), 2) bahasa tulisan (written language), 3) bahasa isyarat (gesture language). Bahasa lisan adalah bahasa yang menggunakan
bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia sebagai medianya. Berkomunikasi
lewat bahasa lisan menghendaki para partisipannya berhadapan, baik langsung
maupun tak langsung. Bahasa tulisan adalah yang menggunakan tulisan atau
lambing yang berupa huruf-huruf sebagai medianya. Bahasa tulisan berhubungan
erat dengan bahasa lisan, karena bahasa tulisan tidak akan ada kalau tidak ada
bahasa lisan. Bahasa isyarat disebut juga bahasa nonverbal karena bahasa ini
tidak menggunakan bunyi dan tulisan sebagai medianya tetapi menggunakan
isyarat.
3. Fungsi Bahasa
Gorys Keraf (1989 : 3-6) mengemukakan fungsi bahasa ada empat, yaitu; 1) alat
untuk menyatakan ekspresi diri, 2) sebagai alat komunikasi, 3) alat untuk
mengadakan integrasi dan adaptasi sosial, 4) alat untuk mengadakan control sosial.
Sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri, bahasa menyatakan secara terbuka
segala sesuatu yang tersirat di dalam dada kita, sekurang-kurangnya untuk
memaklumkan keberadaan kita. Sebagai alat komunikasi, dengan adanya komunikasi
seseorang dapat menyampaikan semua yang dirasakan dan dipikirkannya kepada
orang lain. Bahasa sebagai alat mengadakan integrasi dan adaptasi sosial,
seseorang mencoba menyesuaikan dirinya dengan semua orang melalui bahasa. Bila
ia dapat menyesuaikan dirinya maka ia pun dengan mudah membaurkan dirinya
(integrasi) dengan segala macam tata-krama di lingkungannya. Bahasa sebagai
alat mengadakan control sosial, semua kegiatan sosial akan berjalan dengan baik
karena dapat diatur dengan mempergunakan bahasa. Semua tutur dimaksudkan untuk
mendapatkan tanggapan.
Halliday (dalam Agustina, 1995:8), merinci fungsi bahasa menjadi tujuh jenis.
Ketujuh jenis tersebut adalah: 1) fungsi instrumental, untuk menghasilkan
tindakan-tindakan komunikatif dalam kondisi tertentu, 2) fungsi regulasi, untuk
mengatur orang lain, 3) fungsi representasional, untuk menjelaskan fakta dan
pengetahuan, 4) fungsi interaksional, untuk memantapkan ketahanan dan
kelangsungan komunikasi sosial, 5) fungsi personal, untuk mengekspresikan
perasaan, emosi, pribadi, serta reaksi-reaksi yang mendalam, 6) fungsi
heuristik, untuk memperoleh dan mempelajari ilmu pengetahuan, 7) fungsi
imajinatif, untuk melayani penciptaan gagasan-gagasan yang bersifat imajinatif.
4. Pengertian Pragmatik
Menurut George (dalam Tarigan, 1986:32), “Pragmatik adalah telaah mengenai
keseluruhan perilaku insan, terutama sekali dalam hubungannya dengan
tanda-tanda dan lambang-lambang”. Pragmatik memusatkan perhatian pada cara
insane berperilaku dalam keseluruhan situasi pemberian tanda dan penerimaan
tanda.
Menurut Levinson (dalam Tarigan, 1986:33), “ Pragmatik adalah telaah mengenai
relasi antara bahasa dan konteks yang merupakan dasar bagi suatu laporan
pemahaman bahasa atau telaah mengenai kemampuan pemakai bahasa menghubungkan
serta menyerasikan kalimat-kalimat dan konteks-konteks secara tepat”.
Menurut Charles Morris (dalam Tarigan, 1986:33), “ Pragmatik adalah telaah
mengenai hubungan tanda-tanda dengan para penafsirnya.” Teori pragmatik
menjelaskan alasan atau pemikiran para pembicara dan para penyimak dalam
menyusun korelasi dalam suatu konteks sebuah tanda kalimat suatu proposi
(rencana atau masalah).
Selanjutnya, menurut Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan (1986:33), “Pragmatik
adalah telaah mengenai segala aspek makna yang tidak tercakup dalam teori
semantik”. Jadi, dapat dikatakan pragmatik memperbincangkan segala aspek makna
ucapan yang tidak dapat dijelaskan secara tuntas oleh referensi langsung kepada
kondisi-kondisi kebenaran kalimat yang diucapkan.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, pragmatk adalah cabang ilmu bahasa
yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal yang terikat dengan konteksnya.
5. Pengertian Implikatur
Menurut Grice (dalam Wijana, 1996: 37-39) dalam artikelnya yang berjudul Logic and Conversation mengemukakan
bahwa tuturan dapat mengimplikasikan proposisi yang bukan merupakan bagian
daari tuturan bersangkutan. Proposisi yang diimplikasikan itu disebut
implikatur (implicature). Karena
implikatur bukan merupakan bagian tuturan yang mengimplikasikannya, hubungan
kedua proposisi itu bukan merupakan konsekuensi mutlak.
Menurut Agustina (1995: 54), “Konsep implikatur dipakai untuk menerangkan
perbedaan yang sering terdapat antara apa yang diucapkan dengan apa yang
diimplikasi”. Konsep implikatur percakapan ini diajukan Grice untuk
menanggulangi makna bahasa yang tidak dapat ditanggulangi oleh teori semantic
biasa. Konsep implikatur dapat memberikan suatu penjelasan yang eksplisit
tentang kemungkinan apa yang diucapkan secara lahiriah berbeda dari apa yang
dimaksud dan pemakai bahasa itu mengerti atau dapat menangkap pesan yang
dimaksud dalam ungkapannya.
Selanjutnya, dapat dilihat dari contoh wacana iklan: “Pesta Ertiga 2012, dengan
hadiah menarik Motor Suzuki NEX dan puluhan hadiah menarik lainnya”. Tuturan
tersebut mengimplikasikan bahwa adanya penarikan undian berhadiah. Didalam
pertuturan yang sesungguhnya, penutur dan mitra tutur dapat secara lancer
berkomunikasi karena mereka berdua memiliki kesamaan latar belakang pengetahuan
tentang sesuatu yang dipertuturkan itu. Diantara penutur dan lawan tutur
terdapat semacam kontrak percakapan tidak tertulis bahwa apa yang sedang dipertuturkan
itu saling dimengerti. Jadi, dapat dikatakan implikasi itu merupakan maksud dan
tanggapan dari apa yang dituturkan.
B. Kerangka Konseptual
Pragmatik
adalah ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal yang
terikat dengan konteksnya. Pragmatik juga dapat diartikan sebagai telaah
mengenai hubungan tanda-tanda dengan penafsirnya.
Konsep implikatur dipakai untuk menerangkan perbedaan yang sering terdapat
antara apa yang diucapkan dengan apa yang diimplikasi.
BAB
III
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis dan Metode Penelitian
Jenis penelitian ini adalah
kualitatif. Menurut Moleong (1998: 2), “Penelitian kualitatif adalah penelitian
yang menghasilkan kata-kata atau lisan objek yang diamati”. Metode yang
digunakan adalah metode deskriptif. Metode ini digunakan untuk menjelaskan
kondisi suatu sistem pemikiran ataupun suatu peristiwa pada masa sekarang.
Menurut
Nazir (2005: 54), “Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status
kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran
ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang”. Tujuan penelitian deskriptif
ini adalah untuk membuat deskripsi gambaran atau lukisan secara sistematis,
factual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat hubungan antara fenomena
yang diselidiki.
Menurut Bagdan dan Taylor
(dalam Moleong, 1998: 21), “Penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian
yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari
orang-orang dan prilaku yang dapat diamati”.
Sumber
Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah tuturan yang terdapat dalam wacana
iklan. Wacana yang terdapat dalam Koran Singgalang, berupa wacana iklan mobil.
Metode
dan Teknik Pengumpulan Data
Dalam
penelitian ini data dikumpulkan dengan menggunakan metode simak. Menurut Mahsun
(2005:90), “Metode simak adalah metode yang digunakan untuk menyimak penggunaan
bahasa”. Menyimak di sini bukan hanya berkaitan dengan penggunaan bahasa secara
lisan, tetapi juga penggunaan bahasa secara tertulis.
Di dalam penggunaan secara tertulis harus dilakukan dengan menggunakan teknik
cata yaitu mencatat beberapa bentuk yang relevan bagi penelitiannya dari penggunaan bahasa secara tertulis. Teknik
tersebut dapat digunakan pada penelitian penggunaan bahasa secara tertulis.
Jadi, wacana iklan mobil “Ertiga” yang diteliti merupakan penggunaan bahasa
tertulis.
Data Analisis Tindak Tutur dan Implikasi
dalam Wacana Mobil
|
No
|
Tuturan
|
Implikasi
|
|
1.
|
|
|
|
2.
|
|
|
|
3.
|
|
|
Teknik Analisis Data
Teknik yang digunakan dalam
analisis data adalah teknik pilah. Teknik pilah merupakan teknik yang digunakan
dalam menentukan identitas objek sasaran penelitian yang berupa satuan lingual.
Unsur penentu dalam penganalisisan data yaitu daya pilah pragmatis, yang alat
penentunya berasal dari mitra tutur yang mendengarkan tuturan tersebut.
Daya pilah pragmatis dilakukan
dengan memilah-milah satuan lingual menjadi tuturan dalam suatu percakapan
dalam sebuah wacana. Contoh pada wacana iklan mobil yang ada pada Koran
Singgalang: “Pesta Ertiga 2012 dengan hadiah menarik motor Suzuki NEX dan
puluhan hadiah menarik lainnya”. Tuturan tersebut mengimplikasikan bahwa adanya
penarikan undian berhadiah. Dapat juga mengimplikasikan bahwa pelangan yang
mengikuti pesta Ertiga akan mendapatkan hadiah.
DAFTAR PUSTAKA
Agustina. 1995. Pragmatik Dalam
Pengajaran Bahasa Indonesia. Padang: IKIP Padang Press.
Keraf, Gorys. 1989. Komposisi. Jakarta: Nusa Indah.
Mahsun. 2005. Metode Penelitian. Jakarta: Fajar
Interprata Offset.
Moleong, Lexy. 1998. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Nazir, Moh. 2005. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia
Indonesia.
Tarigan, Henry Guntur.
1986. Pengajaran Pragmatik. Bandung:
Angkasa Bandung.
Wijana, I Putu. 1996. Dasar-Dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi
Yogyakarta.