Mawar Untuk
Valeria
Malam
ini langit dipenuhi dengan bintang-bintang yang berkelip dan hawa dingin
menusuk tulangku. Sedikit pun, aku tidak mau beranjak dari beranda kamarku. Aku
meninggalkan sejenak aktifitas belajar, karena pemandangan diluar sangat
menarik untuk dilihat. Terlintas dibenakku untuk menghubungi Kim, kekasihku.
Aku merongoh ponsel yang ada di kantong celanaku, lalu menekan nomor ponsel
Kim.
Hallo, Kim! sapaku.
Hallo! Hah?
Suara cewek? Aku kaget, ternyata yang mengangkat teleponku bukan Kim.
Hallo, Valeria! sapa
cewek itu.
Kim? seruku.
Maaf, Kim sedang menjalani
pemotretan. Jadi dia tidak bisa mengangkat teleponmu. Terangnya.
Ini siapa? tanyaku
penasaran.
Nadine. Teman Kim. Jawabnya.
Oh… Kalau Kim memang sedang sibuk,
biar nanti saja aku menghubunginya kembali! seruku.
Ok!
Terima kasih! sahutku
sambil memutuskan pembicaraan.
Ya,
Kim adalah seorang fotografer. Akhir-akhir ini Kim memang disibukkan dengan
pekerjaannya itu. Dia memutuskan untuk berhenti kuliah dan menekuni hobi photograpy. Yah, sangat disayangkan,
walaupun begitu aku tetap mendukung apapun keputusan yang dia pilih. Tapi, ayah
Kim tidak menyetujui jalan hidup yang dipilih Kim. Ayah Kim menginginkan Kim
untuk menjadi seorang dokter atau seorang pengusaha muda, seperti beliau.
Akibatnya, ayahnya tidak mau tahu lagi mengenai kehidupan dan masa depan Kim.
Kim tidak sendirian, karena ada aku yang akan selalu mendukungnya. Aku sayang
Kim.
Jam
di dinding telah menunjukkan pukul 9 lewat 15 menit, aku bergegas menuju tempat
tidur dan menghempaskan tubuhku di atas kasur yang empuk. Saatnya mimpi indah, good nite all!
Paginya,
di meja makan sudah terhidang sarapan pagi buatan mama. Mama menyambut
kedatanganku.
“Selamat
pagi, sayang!”
“Pagi,
ma! Muaacch.” seruku sambil mengecup kedua pipi mama.
“Sarapan
dulu ya, sayang! Mama udah bikin nasi goreng kesukaan kamu dan segelas susu.”
Ungkap mama.
“Thank you, ma!”
Saat
aku menginap di rumah, mama selalu sibuk sendiri untuk memasak masakan
kesukaanku. Yah, walaupun aku harus tinggal di asrama sekolah, sesekali aku
bisa menyempatkan diri untuk sekedar makan malam bersama mama.
“Selamat
pagi semua!”
“Mike?”
seruku kaget dan berlari kearahnya lalu memeluknya.
“Wooo…
Vale!” ujarnya.
“Aku
merindukanmu!” ungkapku.
Mike
adalah temanku. Teman yang 2 tahun belakangan ini melanjutkan study-nya keluar negeri, tepatnya
Australia. Aku benar-benar kangen padanya. Aku melepaskan pelukan dan mengacak
rambutnya.
“Wah…
kamu terlihat keren!” pujiku.
“Tentu
saja. Siapa dulu, Mike! Hai tante!” ujarnya sambil tersenyum.
“Hai,
Mike. Vale benar, kami merindukanmu!” tambah mama sambil memeluk Mike.
“Aku
juga merindukan kalian! Hmmm… wangi sekali, pasti ada nasi goreng kesukaan tuan
putri!” ujarnya.
“Kamu
laper? Ayo sekalian, kita sarapan bareng!” ajak mama.
“Dengan
senang hati, tante!”
“Dasar!”
ledekku.
Akhirnya
pagi ini aku sarapan ditemani oleh mama dan Mike. Setelah sarapan selesai, aku
pergi ke sekolah dan diantar sama Mike. Dalam perjalanan aku dan Mike mengenang
kembali masa-masa dulu, Mike juga tidak lupa menceritakan kehidupannya selama
berada di Australia. Tidak terasa, aku sudah sampai di halaman sekolah.
“Thank you, Mike.”
“U’r welcome, tuan putri! Apa nanti siang
ada waktu menemaniku mengelilingi kota Bandung?” pintanya.
“Sorry. Hari ini aku ada ujian dan malam
ini aku harus tetap berada di asrama. Lusa, mungkin aku bisa!” ungkapku.
“Oke.
Lusa kita ketemu di sini! Bye-bye!”
pamitnya sambil melajukan mobilnya.
“Bye!”
Di
kamar asrama. Aku menghempaskan tubuhku di atas kasur. Beberapa detik kemudian
teman sekamarku, yang juga adalah sahabat terdekatku, Cherry datang dan dia
terlihat habis menangis. Entah apa yang telah terjadi padanya? Aku beranjak
dari tempat tidur dan mendekatinya.
“Cher,
kenapa?”
Tiba-tiba
dia memelukku dan menangis dipundakku.
“Hik’s…
hik’s… hik’s…”
“Apa
yang terjadi?” aku semakin bingung.
“Cher,
tenangkan dirimu! Coba ceritakan padaku, apa yang terjadi?” kataku lagi.
“Ramon
selingkuh, Val! Aku melihatnya jalan dan bermesraan dengan wanita lain!”
ungkapnya.
“Hah?
Ramon berbuat seperti itu? Sabar, Cherr! Jangan buang airmatamu untuk pria
seperti itu!” ujarku menenangkan Cherry.
“Aku
tidak terima perlakuannya itu, Val! Aku kecewa!” kesalnya.
“Udahlah,
balas dendam itu ngak ada gunanya, Cherr. Lebih baik kamu tunjukkin ke dia,
kalo kamu itu kuat dan bisa menemukan pria yang lebih daripada dia! Jangan
seperti ini!” nasehatku.
“Kamu
benar, aku harus bisa menemukan pria yang lebih baik! Aku benci dia, Val!”
“Iya,
aku tahu! Udah, jangan nangis lagi!” kataku.
“Terima
kasih, Val!” ujarnya.
Tiba-tiba
ponselku berdering, aku melangkahkan kaki menuju meja belajar. Aku menatap
layar ponsel dan ada nama Kim. Aku tersenyum dan mengangkatnya.
Vale! (Sapanya)
Kim! (Seruku)
Iya… ini aku, Kim! (jawabnya)
Hai!
Vale, apa kamu sudah lunch? (Ujarnya)
Hmmm… belum! Apa kamu mau
mengajakku keluar untuk lunch? (Tanyaku)
Ya. Ayolah aku sudah lapar!
Tapi, Kim! Aku tidak bisa keluar,
besok masih ada ujian. Aku harus belajar! (Seruku)
Hmm… aku sudah membuat spagethi kesukaanmu. Apa kamu tidak mau
mencicipinya? Tidak perlu jauh-jauh dari asrama, sekarang aku sudah menunggumu
dari tadi di taman belakang sekolah! Datanglah! (pintanya
dan memutuskan pembicaraan)
Kim! (Seruku)
Aku
memandang Cherry yang masih tersedu-sedu.
“Cherr,
Kim sedang menungguku di taman. Apa aku bisa menemuinya sekarang? Kamu sudah
lebih baik kan?” tanyaku agak khawatir dengan keadaan Cherry.
“Ya,
temuilah Kim! Aku baik-baik saja!” ujar Cherry.
“Ok!”
Aku
bergegas menuju taman sekolah. Hanya butuh waktu 5 menit untuk sampai di taman.
Dari kejauhan terlihat Kim melambaikan tangannya kearahku. Aku mempercepat
langkah kakiku dan segera menghampirinya.
“Kim!”
seruku seraya memeluknya.
“Kamu
merindukanku kah?” tanyanya.
“Ya,
aku sangat merindukanmu!” aku tidak mau melepaskan pelukan ini.
“Aku
juga!” serunya.
“Apa
hari ini kamu libur kerja?”
“Hmmm…
tidak! Aku setiap hari bekerja, tidak ada waktu untuk libur!”
“Oh...”
sahutku seraya melepaskan pelukan.
“Ayolah,
aku sudah lapar!” ujarnya seraya menarikku menuju meja yang di atasnya telah
ada dua piring spagethi dan dua
minuman kaleng.
“Ini
rasanya sangat enak, aku memasaknya dari hati yang tulus. Karena aku tahu, kamu
sangat menyukainya!” ungkapnya.
“Hah?
Benarkah makanan ini lezat? Mari kita cicipi!” ajakku seraya mencicipi masakan
Kim.
Kim
memperhatikan dan menunggu komentarku.
“Bagaimana?
Apa ada sesuatu yang kurang?” tanyanya.
“Hmmm…
mungkin masakan ini akan lezat jika kamu menyuapiku!” ledekku.
Kim
hanya bisa tersenyum mendengar ucapanku. Kim meraih sendok yang ada ditanganku,
dan bersiap-siap untuk menyuapiku. Sendok itu sudah berada tepat di depan
mulutku, aku membuka mulut. Akhirnya, Kim menarik kembali sendok itu dari
hadapanku dan memakan spagethi itu
sendiri.
“Kiiiim…”
ujarku kesal.
“Hahahaa…”
tawanya berhasil menipuku.
“Sorry! Tenang nona, suapan berikutnya
adalah untukmu!” serunya dan benar kali ini dia menyuapiku.
“Bagaimana
dengan pekerjaanmu?” tanyaku.
“Semuanya
berjalan dengan lancar. Dalam waktu dekat ini aku dan teman-teman sedang
merancang sebuah event pameran.
Semoga saja bisa terwujud!” ungkapnya antusias.
“Amin.
Lalu, kapan aku bisa menjadi modelmu?” aku sangat menginginkannya.
Kim
hanya tersenyum lalu mengambil kameranya dan mengarahkan kamera kearahku.
“Setiap
saat kamu bisa menjadi modelku! Tapi, foto ini bukan untuk publik! Hanya aku
yang boleh memandang dan menatap model yang satu ini! Kamu hanya milikku!”
ungkapnya sambil memegang pipiku.
“Kamu
harus membayar mahal untuk itu, Kim!” terangku.
“Tentu
saja! Aku sudah membayarnya dengan masakanku ini!” sahutnya.
Aku
melonggo dan bersiap-siap untuk mencubit lengannya.
“Aww…
aku hanya bercanda!” rintihnya.
“Kim,
Nadine itu siapa?” tanyaku penasaran dengan cewek yang semalam mengangkat
teleponku.
“Oh,
Nadine adalah temanku. Dia yang mencarikan job
dan beberapa orang model. Kamu tahu darimana soal Nadine?” ujarnya balik nanya.
“Semalam
aku menelponmu, tapi dia yang mengangkatnya!” ujarku singkat.
Kim
meraih ponselnya dan menatap ke layar ponsel. “Dia tidak menceritakannya
kepadaku? Ah… mungkin dia lupa! Semalam aku benar-benar disibukkan oleh
pemotretan. Vale, sorry!” ungkapnya
merasa bersalah.
“It’s oke, Kim!” seruku sambil mengacak
rambutnya.
“Kim,
apakah di hari valentine nanti kamu
akan tetap bekerja?” tiba-tiba aku teringat dengan hari kelahirnku.
“Semoga
saja tidak. Aku juga ingin dihari valentine
nanti menghabiskan waktu bersamamu!” ungkap Kim.
Aku
tersenyum mendengarnya. Kim kembali menyuapiku, Kim memperlakukanku seperti
seorang putri. I Love Kim Forever.
***
Jam
di tanganku menunjukkan pukul 10 pagi, akhirnya ujian ini berakhir juga. Aku
lelah dan kelaperan. Cherry mengajakku ke kantin sekolah, dia juga merasakan
hal yang sama denganku. Pagi tadi aku dan Cherry tidak sempat untuk sarapan
pagi. Sesampainya di kantin sekolah, Cherry menyebutkan makanan yang ingin
dipesannya.
“Val,
aku mau pesan mie ayam dua mangkuk dan dua teh botol. Ngak pake lama!!!”
pintanya.
“HAH?
Laper atau doyan? Banyak amat, Cher?” ujarku heran.
“Dua-duanya,
Vale! Udah sana, pesan makanannya!”
“Oke, wait !” aku meninggalkan Cherry dan
lalu memesan makanan.
5
menit kemudian, aku datang dengan membawa makanan yang kami pesan. Cherry sama
sekali tidak membantuku.“Cherr, bantuin dong!” pintaku.
Cherry
hanya mencibir sambil memainkan ponselnya.
“Ini
pesanannya tuan putri!” ujarku sedikit kesal.
“Thank you!” sahutnya sambil tersenyum.
“Untung
aja ya, aku punya satu teman seperti kamu! Satu-satunya yang paling
menyebalkan!” kesalku.
Cherry
hanya cengegesan mendengar keluhanku. Tiba-tiba ponselku berdering, ada
panggilan masuk dari Mike, aku langsung menekan tombol hijau.
Mike! (Sapaku)
Hai, tuan putri! Apa nanti sore
kamu ada acara? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat! (Ungkapnya)
Hmmm… sepertinya, aku mau ikut
denganmu! Aku di sini juga sudah merasa jenuh dan bosan! Jam berapa kamu akan
menjemputku?
Jam 3 sore, di parkiran sekolah!
Tunggu disana! (Pintanya)
Ok. See you, Mike!
See
you!
“Vale,
sudah punya pacar, tapi masih saja jalan sama cowok lain! Apa Kim tidak cemburu
dengan hal ini?” selidik Cherry.
“Cherr,
Kim mengenal Mike! Dan aku sama Mike cuma temenan doang, ngak lebih! Jangan negative thinking deh!” aku kesal
mendengar ucapan Cherry.
“Sorry, just kidding, Vale!”
Aku
menyantap makananku dengan rasa kesal melihat tingkah Cherry hari ini.
***
Pukul
3 sore, di parkiran sekolah. Aku menunggu kedatangan Mike. Sudah pukul 3 lewat
15 menit, namun Mike belum juga datang. Ah! aku paling sebal kalau harus berada
dalam situasi saat ini. Menunggu adalah hal yang paling membosankan. Tunggu!
Itu dia, Mike. Mike tepat memarkir mobilnya di depanku, lalu dia turun dari
mobil dan menghampiriku.
“Sorry, Val! Aku telat!” pintanya.
“Oh…”
aku melangkahkan kaki menuju mobilnya.
“Vale… sorry!” serunya.
“It’s oke, Mike! Kamu mau mengajakku
kemana?” tanyaku.
“Kemanapun
yang kamu inginkan!” Mike merayuku.
“Hmmm…
jangan bercanda Mike!” keluhku.
“Kita
akan pergi makan dan jalan-jalan seputar kota Bandung. Kita jalan sekarang,
tuan putri!” ajaknya.
Aku
mengangguk dan tidak lupa untuk memasang sabuk pengaman. Aku dan Mike menikmati
suasana sore hari kota Bandung. Wisata kuliner dan membeli beberapa
pernak-pernik yang lucu.
***
Jam
8 malam di parkiran sekolah. Kim dari jam 5 sore menunggu kedatangan Vale, Kim
ditemani Cherry. Cherry menceritakan perihal kemana Vale pergi dan bersama
siapa.
“Kim,
apa ponsel Vale sudah bisa dihubungi?” Tanya Cherry.
Kim
hanya menggelengkan kepala.
“Mungkin
ponselnya lowbat. Atau kamu hubungi
Mike saja?” usul Cherry.
“Tidak
perlu, Cherr. Biar aku menunggunya disini!”
“Oh…
baiklah! Biar aku temani!” kata Cherry.
“Thank you!” ujar Kim sambil tersenyum.
Cherry pun membalas senyuman Kim.
Tidak
terasa jam ditangan telah menunjukkan pukul 11 malam. Kim masih setia menunggu
Vale di parkiran sekolah. Cherry tidak tahan menahan kantuknya, sehingga dia
tertidur di salah satu kursi yang tersedia di parkiran. Akhirnya yang ditunggu
pun datang juga. Mobil BMW berwarna silver memasuki halaman parkir dan Mike
memarkir mobilnya tepat di sebelah Honda
Jazz berwarna putih milik Kim.
“Val…
Val… Vale… bangun! Kita sudah sampai di asrama!” kata Mike.
“Hhhh…
ada apa Mike?” ujarku seraya membuka mata perlahan-lahan.
“Kita
sudah sampai! Vale, Kim menunggumu di luar!”
“Hah?
Kim?” seruku sambil melihat keluar kaca jendela mobil. Dan benar ada Kim yang
sedang berdiri tepat disebelah mobilnya. Cherry juga ada disana, tapi dalam
keadaan tertidur pulas. Aku turun dari mobil Mike dan melangkahkan kaki menuju
Kim.
“Kim.”
Seruku.
“Hai!”
sahutnya sambil tersenyum.
“Apa
yang kamu lakukan disini?” tanyaku penasaran.
“Menunggumu.”
Jawabnya singkat.
“Kenapa
tidak menghubungiku?”
Kim
menyodorkan ponselnya dan memperlihatkan panggilan keluar yang dilakukannya
untuk menghubungiku. Aku merongoh ponselku
dari dalam tas dan melihat ponselku yang mati total.
“Ponselku
mati total! Sorry, Kim!” pintaku
sambil memegang tangan kanannya.
“It’s ok!” sahutnya singkat.
“Val…
aku balik dulu ya! Thank you, buat
hari ini !” pamit Mike.
“Ya,
makasih juga Mike! Be careful!”
seruku.
Mike
telah pergi dan aku melirik Kim, “Sorry!
Mike mengajakku untuk berkeliling kota Bandung. Dia sudah lama tidak merasakan
suasana kota Bandung, jadi dia memintaku untuk menemaninya!”
“Kasihan
Cherry, Val! Dia ikut menemaniku menunggu kamu, akhirnya dia ketiduran disana!”
ungkap Kim.
Aku
melirik Cherry, lalu melangkahkan kaki menujunya.
“Cherry,
bangun Cherr!” ujarku seraya memegang bahunya.
Cherry
perlahan membuka matanya, “Hhhh… aku dimana?” tanyanya.
“Parkiran
sekolah. Kembalilah ke kamar, disini sangat dingin! Sorry, Cherr!” ungkapku.
“Hmmm…
Kasihan Kim, dia telah menunggu tuan putrinya dari jam 5 sore sampai sekarang! Aku
balik ke kamar duluan ya, udah ngantuk berat!” bisik Cherry
“Kim,
aku duluan ya! See you!” ujar Cherry
sambil meninggalkan kami.
“Bye, Cherr!” sahut Kim.
“Kim,
apa kamu marah padaku? Aku dan Mike hanya teman, dan kamu tahu hal itu kan?”
terangku. Aku tidak ingin Kim membenci Mike dan juga tidak ingin Kim salah
paham atas kedekatanku dengan Mike.
“I know! Tidak perlu dijelaskan berulang
kali! Overall, it’s ok dear!”
ujarnya.
“Hmmm…
lalu ada keperluan apa kamu rela menungguku sampai jam segini?” tanyaku
penasaran.
“Oh.
Wait!” Kim membuka pintu mobilnya dan
mengambil sesuatu.
Kim
menyerahkan sebuah undangan pameran foto untukku. Yang akan diadakan lusa, pada
pukul 10 pagi.
“Kim,
akhirnya salah satu keinginanmu terwujud juga!” ujarku seraya tersenyum dan
memeluknya.
“Selamat
sayang! Aku sangat senang mengetahui berita bahagia ini!” ungkapku.
“Ini
semua berkat dukunganmu! Yang dari awal dan sampai sekarang selalu mendukung
semua kegiatanku! Thank you, Vale!”
ungkap Kim.
Tidak
terasa airmata jatuh di atas pipiku. “Kim…” seruku terharu.
“Valeria,
apa kamu menangis?” Tanya Kim. Kim ingin melepas pelukanku dan ingin melihat
wajahku.
“Jangan,
Kim! Biarkan aku tetap memelukmu!” pintaku.
Kim
mengangguk dan memelukku dengan erat. “Ini adalah berita bahagia, tidak
seharusnya kamu bersedih!” terangnya.
“Aku
bahagia dengan cara seperti ini. Kim, aku sangat menyayangimu!” ungkapku.
“Ya…
Aku juga menyayangimu, Vale!” Kim membelaiku dengan lembut.
Rasanya
aku tidak ingin melepaskan pelukan ini sampai kapanpun. Aku sangat mencintai
Kim.
***
Minggu, 10 Februari
2013.
Siang ini aku mengunjungi Kim di studio pemotretan. Dari
kejauhan aku melihat Kim yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Aku tidak
langsung menghampirinya. Tiba-tiba seseorang menyapaku, “Valeria!”
Aku menoleh dan tersenyum kearah orang itu. “Hai!”
“Aku, Nadine!” ujarnya sambil menyodorkan tangan
kanannya.
Aku meraihnya, “Valeria. Senang
berkenalan denganmu, Nadine!”
Nadine menatapku dengan lembut.
Kuakui dia memiliki postur tubuh seperti seorang model, kulitnya yang bersih
dan senyumannya yang bikin semua orang terpana melihatnya.
“Ada janji dengan Kim?” tanyanya.
Aku menggelengkan kepala, “Aku hanya
ingin melihat dia dengan kesibukkannya. Sepertinya, Kim setiap hari menikmati
kesibukannya ini. Benar tidak?”
“Ya, kamu benar. Kim sangat
menikmatinya.”
Aku merasakan sesuatu yang beda dari
tatapan Nadine saat melihat Kim. Apa maksud tatapan itu? Apa dia menyukai Kim?
Huff… Vale, come on positive thinking.
Kim hanya mencintaimu, Vale.
Akhirnya, Kim menyadari kehadiranku.
Dia tersenyum dan segera menghampiriku.
“Vale…” serunya sambil mencium
pipiku.
“Hai.” Sahutku.
“Nad…” sapa Kim kepada Nadine.
“Hai, Kim. Bagaimana dengan
persiapan pameran besok?” Tanya Nadine.
“Persiapannya baru 80 %. Beberapa
hasil karyaku sudah kuserahkan pada Allan. Semoga pameran besok lancar dan
sukses.” Ungkap Kim.
“Amin. Okay, see you tomorrow. Aku harus kembali ke kantor. Bye!” pamit Nadine.
“Be
careful!” seru Kim.
“Nadine cantik ya, Kim.” Ujarku.
“Hah? Vale, di mataku hanya kamulah
yang paling cantik.” Puji Kim sambil mengacak-acak rambutku.
“Really?”
seruku.
Kim mengangguk, “You’r beautyfull. Muaccch…” sambil
mencium pipiku.
“Kim…” seruku sambil mencubit
lengannya.
“Vale, apa kamu sudah lunch? Aku lapar sekali!”
“Belum. Kasihan, pangeranku
kelaparan. Kita cari makan sekarang yuk!” Ledekku.
“Ok. Let’s go!” ajak Kim.
***
Pameran foto yang digelar Kim dan
teman-temannya, sukses tanpa ada hambatan, kendala dan gangguan. Hasilnya
sangat memuaskan. Aku senang melihat keberhasilan Kim kali ini. Aku menghampiri
Kim.
“Kim.” Seruku.
Kim menoleh dan tersenyum. “Hai,
sayang!” sahutnya sambil mencium pipiku.
“Congratulations.
Kamu hebat, Kim!” pujiku.
“Thank
you. Berkat dukungan kamu juga kan?”
Aku tersenyum mendengarnya. “Juga
karena usaha dan kerja keras kamu! Kim, kita harus merayakan keberhasilan kamu
hari ini?”
“Tentu. Kita harus merayakannya!”
Kim setuju.
Malam harinya Kim mengajakku makan
malam di kediamannya. Tentunya, menu masakan malam ini Kim yang memasaknya. Aku
dengan sabar menunggu hidangan di meja makan. Beberapa detik kemudian, Kim
datang dengan membawa masakan favoritku, spagethi
ala Kim.
“Hmmm… yummy!” seruku seakan-akan spagethi tersebut sudah berada di
mulutku.
Tiba-tiba ponsel Kim berdering, ada
panggilan masuk dari Nadine. Kim memandangku, “Aku angkat teleponnya sebentar
ya!” ujarnya.
Aku mengangguk. “Huh… kenapa selalu
ada yang menganggu saat aku bersama Kim?” batinku kesal.
Beberapa menit kemudian, Kim kembali
menghampiriku.
Aku penasaran, “Telepon dari siapa?”
tanyaku.
“Nadine.” Sahutnya.
“Lalu?”
“Bukan hal yang penting. Kita makan
sekarang ya! Cobain deh, pasti masakannya makin lezat!” ajaknya.
Aku menurutinya dan lagipula aku
juga tidak mau merusak suasana hati Kim yang sedang berbahagia dengan rasa
penasaranku ini. Ada apa antara Kim dan Nadine? Tiba-tiba Kim menyuapiku seraya
tersenyum, berharap aku memuji masakannya.
“Bagaimana rasanya? Apakah ada yang
kurang?” tanyanya.
“Hmmm… lezat banget!” pujiku sambil
mengacungkan dua jempol.
“Really?
Aku benar-benar hebat bukan?” bangganya.
“Of
course, dear!” sahutku dan sekarang gantian aku yang menyuapinya.
“Yummi…” serunya.
Aku berharap setiap hari aku dapat
melewati hari-hariku bersama Kim. Aku bahagia saat Kim selalu disampingku.
Menemaniku dalam suka maupun duka dan sebaliknya aku pun melakukan hal yang
sama. Always Kim forever.
***
Rabu, 13 Februari 2013.
Di asrama sekolah tepatnya di
kamarku dan Cherry. Cherry sibuk dengan gaun barunya. Ya, malam ini adalah
malam valentine days. Malam dimana
orang-orang mencurahkan kasih sayangnya kepada pasangannya. Ya, tidak harus
menunggu valentine days untuk
melakukan semua itu. Dihari-hari biasa pun semua orang bisa melakukannya.
“Vale, bagaimana pendapatmu dengan
gaunku ini?” Tanya Cherry sambil memutar-mutar badannya.
“Hmmm… bagus dan warnanya cocok dengan
kulitmu. Beli dimana?” tanyaku sambil memperhatikan Cherry yang terlihat anggun
dengan gaun pink yang dikenakannya.
“Gaun ini hadiah dari Alan.”
“Alan? Siapa dia?” aku penasaran
dengan pria bernama Alan.
“He
is my boyfriend!” ungkapnya.
“WAW… Cherry memang keren. Dalam
beberapa hari dapat menemukan pengganti…” belum selesai aku menyebutkan nama
mantannya, Cherry memotong pembicaraanku.
“STOP!!! Jangan pernah menyebut
namanya lagi!” perintah Cherry.
“Up’s sorry!” pintaku.
“Hei, bukankah malam ini adalah hari
ulang tahunmu sekaligus malam valentine
days. Hmmm… apa yang akan kamu
lakukan nanti malam? Oh ya, pasti dinner
with pangeran Kim? Iya kan ?” cerocos Cherry ingin tahu.
Aku terdiam mendengar pertanyaan
Cherry yang begitu banyak. Terakhir kali aku bertemu Kim, saat makan malam
bersamanya. Hari ini Kim belum menelponku, aku tahu dia pasti sangat sibuk
dengan pekerjaannya.
“Kim sibuk!” lirihku.
“Come
on, Vale! Besok adalah hari ulang tahunmu, mana mungkin dia membiarkanmu
melewatinya sendirian?” protes Cherry.
“I
don’t know, Cherr!” sahutku.
Cherry meraih ponselnya dan
menghubungi seseorang. Beberapa menit kemudian…
Hei,
Kim! Apa kamu setiap hari harus bekerja? (Cherry)
Aku kaget dan melangkahkan kaki
kearah Cherry berdiri.
“Cherr, apa yang kamu lakukan?”
bentakku.
Apa
kamu akan membiarkan Vale melewati malam ini sendirian? Come on, Kim? (Cherry)
Tolong
berikan ponselmu padanya! (Kim)
Cherry menyodorkan ponselnya padaku.
“Kim ingin berbicara denganmu!” ujar Cherry.
Hallo!
Vale,
maaf!
Untuk
apa?
Aku
tidak bisa menemanimu di malam valentine kali ini. Sorry!
Aku terperangah dan terdiam. Rasanya
air mataku beberapa detik lagi akan menetes.
Why? (Aku)
Tadi
pagi aku berangkat ke Surabaya, ada kerjaan penting di sini. Aku diundang untuk
melakukan pemotretan! Sorry, sebelumnya aku tidak memberitahumu! (Kim)
Aku tidak tahu harus mengatakan
apalagi. Aku hanya bisa terdiam, tidak terasa air mata membasahi pipiku. Cherry
memandangku dan mengusap air mataku.
“Vale…” serunya.
Aku menyerahkan ponsel Cherry,
sementara Kim belum memutuskan pembicaraan.
Kim,
apa yang kamu lakukan? (Cherry)
Apa
dia menangis? (Kim)
Menurutmu?
(Cherry)
Maaf,
aku telah membuat hatinya terluka! (Kim)
Apa
hidupnya hanya untuk bekerja, bekerja dan bekerja? Kenapa kamu tidak menghargai
perasaan Vale? Apa itu yang dinamakan cinta? Kim, aku kecewa denganmu!
(Cherry)
Cherry memutuskan pembicaraan lalu melangkahkan kaki
mendekatiku yang sedang duduk di atas ranjang.
“Vale, sorry! Seharusnya aku tidak menghubunginya!” ujar Cherry.
“It’s
ok, Cherry!” lirihku.
Malam harinya, Cherry telah siap
untuk pergi makan malam bersama Alan. Aku tinggal sendirian di kamar. Aku tidak
semangat untuk bepergian keluar, lagipula tidak ada yang menemaniku. Malam ini
aku kesepian dan hanya ditemani oleh bintang di atas langit. Ku duduk di
pinggir jendela dan memandang ke atas langit. Pemandangan malam ini sangat
indah, tanpa terasa air mata menetes di pipiku.
Jam di dinding kamarku menunjukkan
pukul 23.30 WIB, aku telah berbaring di atas tempat tidur. Aku melirik tempat
tidur Cherry, dia belum juga pulang. Cherry beruntung, karena bisa melewati
malam valentine bersama orang yang
disayanginya. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk oleh seseorang. Siapa itu jam
segini mengetuk kamar orang, kalau itu Cherry, dia pasti langsung masuk karena
dia memiliki kunci kamar ini.
Aku melangkahkan kaki menuju pintu
dan perlahan pintu itu kubuka. Aku tidak menemukan sosok yang mengetuk
pintu. Mataku tertuju ke lantai, dimana di lantai itu ada sebuket
mawar merah. Aku mendekatkan buket itu ke depan hidungku
dan mengendus baunya. Bau tajam bunga mawar serta-merta menyergap hidungku.
Buket mawar ini indah sekali. Siapa yang meletakkan bunga ini di depan pintu
kamarku? Sejuta tanya hadir dibenakku.
Aku melihat ada secarik kertas yang
terselip dalam bunga mawar ini.
Aku
menunggumu di taman sekolah! Temui aku, now!
Kulangkahkan
kaki menuju taman sekolah dan aku mengenggam erat buket mawar ini. Beberapa
menit kemudian aku sampai di taman sekolah. Aku terperangah melihat di sekitar
taman sekolah terpajang foto-fotoku. Aku mencari sosok yang memintaku datang ke
taman ini, tapi ku tak menemukannya.
“Apa kamu mencariku?”
Suara itu tidak asing di telingaku.
Suara orang yang sangat kucintai, Kim.
“Kim…” lirihku sambil membalikkan
badanku.
Kim tersenyum. “Aku tidak mau kamu
melewati malam ini dengan air mata. Aku akan selalu ada bersama kamu. Karena
aku mencintai Valeria!” ungkap Kim.
Aku mendekati Kim dan memeluknya
dengan erat. “Bunga ini indah sekali, Kim. Aku menyukainya. Thank you!” ungkapku dan untuk kesekian
kalinya air mata jatuh di pipiku. Air mata bahagia, karena malam ini aku tidak
melewatinya sendirian.
“Maafkan aku! Aku telah
membohongimu. Ini semua ide aku dan Cherry. Sorry,
Vale!” pinta Kim.
Lalu Kim menjelaskan semua sandiwara yang
dimainkannya, tentunya dibantu oleh Cherry. Kedekatan Kim dan Nadine semuanya
hanya sandiwara. Aku benar-benar cemburu saat Kim dekat dengan Nadine. Aku
kesal dan ingin melampiaskan kekesalanku pada Kim.
“Aku kesal tapi dibalik semua ini,
aku sangat bahagia. Karena ada kamu disisiku. Aku mencintaimu, Kim!” ungkapku.
“Aku juga mencintaimu! Forever with u!” sahutnya.
Jam menunjukkan pukul 00.00 WIB.
“Happy
birthday… Valeeee!” seru Cherry.
Aku kaget mendengar suara Cherry.
Ternyata dia juga berada di taman dan disampingnya ada seseorang, pastinya itu
cowok yang bernama Alan. Cherry memelukku dan mengucapkan selamat untukku.
“Happy
birthday, sayang!” ujar Kim..
“Thank
you…” seruku. Aku benar-benar bahagia malam ini, karena di malam valentine ini aku mendapatkan kasih
sayang yang begitu berlimpah dari orang-orang yang menyayangiku. Terima kasih
untuk semuanya. Semua perhatian dan kasih
sayang yang kalian berikan untukku. Forever
with Kim, because I love Kim.
-END-