Rabu, 19 Juni 2013

^^My bodyguard^^


            Kenalin gue Sadam, umur gue 17 tahun. Gue anak tunggal dan hobi banget sama  basketball. Gue juga jago main gitar, setidaknya gue sering banget menang pada setiap perlombaan musik yang diadain di kota kelahiran gue, Jakarta. Gue sayang banget sama nyokap gue… because MY MOM IS WONDER WOMEN. Ya, bokap dan nyokap gue udah berpisah sejak gue berumur 3 tahun. Hmmm… bukan berarti gue ngak sayang sama bokap gue lho. Didunia ini ngak ada yang namanya mantan bokap atau mantan nyokap.
            Sore hari,tepatnya  setelah selesai latihan basket.  Gue ketemu sama Gigi. “Gigi…” sapa gue ketika melihat sosok teman sekelas gue yang sedang berada di tempat bakso langganan gue. 
“Hei…Dam.” Sahutnya.
“Wah… makan bakso sendirian aja? Mana dayang-dayang loe?”
“Hmmm… maksudnya Anisa dan Angel?”
 “Ya… sapa lagi lah kalo bukan mereka. Emang ada gitu dayang-dayang loe yang lain?” seru gue.
 “Mereka lagi pada sibuk sama urusan masing-masing.”
“Owh… gue temenin ya?” Gigi tersenyum dan mengangguk. “Bang… pesen baksonya yang seperti biasa!” Lalu gue dan Gigi pun asyik menikmati baksonya Bang Didi.
            Gigi… hmmm nih cewek tomboy abis, jago karate,and dance.  hahaaa bisa dibilang dia bodyguard gue. Setiap kali kalo ada yang menghajar gue, pasti Gigi lah yang jadi pahlawannya. Setidaknya sudah beberapa kali gue kena masalah sama troublemaker sekolah, Radit, pasti Gigi bakalan datang buat bantuin gue.
Radit, dia anak orang kaya yang punya segala-galanya. Termasuk bidadari yang gue sukai, that’s right Christy cewek Radit. Gue suka banget sama yang namanya Christy. Karena menurut gue Christy tuh cantik pake banget, apalagi kalo dia lagi tersenyum. Beuuuh …. ^^  Tapi sayang dia miliknya Radit, musuh bebuyutan gue. Cuma didunia khayalan aja gue bisa jalan ama Christy.
            Keesokan harinya di sekolah , baru juga memasuki pintu gerbang sekolah gue udah melihat pemandangan yang ngak gue sukai. Huft… sang bidadari dengan pangeran tikus alias Christy dan Radit.
 “Sialan… harusnya gue yang ada disamping Christy, bukannya si tikus jelek itu!” gerutu gue.  Christy melihat kearah gue dan tersenyum.
“Owh… My God. Makhluk Tuhan paling cantik !” batin gue takjub.
 Saking terpesonanya gue melihat Christy, gue ngak menyadari kehadiran Gigi.Gigi menginjak sepatu gue dengan keras, “Aduuh… sakit euy!” lirih gue.
“Sakit… mau lagi?” sahutnya.
 “Ogah…!!!” “Lagian ngapain loe senyum-senyum ngak jelas begitu?”
“Hmmm… ada aja. Mau tau aja urusan gue!” Gigi melihat arah mata gue yang sedari tadi menuju sosok Christy.
 “Oh… masih ngak kapok-kapok juga ngelirik cewek orang? Kayak ngak ada cewek lain aja!” serunya.
“Bener… emang ngak  ada yang bisa nandingin kecantikan Christy.” Sahut gue.Gigi hanya terdiam sambil memandang gue.
 “Why? Gue benerkan?” Gigi berlalu meninggalkan gue. “Hei… Gigi… gi…” teriak gue. Yang dipanggil-panggil tidak menoleh. “Makhluk tuhan paling misterius.!” Batin gue.
            Dikantin sekolah, Gigi masih kesal sama sikap Sadam yang tadi pagi. Alhasilnya pun Gigi bĂȘte abis, Anisa dan Angel kena imbasnya. Gigi melampiaskan kemarahannya pada sahabatnya.
“Uggghtt… gue benci ama dia. Gue sebel ama dia. Dasar cowok rese! ngak punya perasaan!” 
“Gigi… sabar! Tahan emosi loe… ngak ada gunanya juga loe kayak gini.” Seru Angel. “Bener tuw…!” sahut Anisa.
“Hei…semua!” sapa Bobby. Bobby ini suka sama Gigi, sudah berkali-kali dia menyatakan perasaannya pada Gigi.Namun Gigi selalu saja menolaknya. “Hei….” Sahut Gigi,Anisa dan Angel bersamaan.
            Tiba-tiba Christy dan Radit datang. Mereka mengumumkan kepada semua murid-murid yang ada dikantin bahwa Radit akan mengadakan pesta dan semuanya diundang. 
“Guy’s… mohon perhatiannya ! Besok gue akan mengadakan sebuah party, so… kalian semua harus pada datang.” Radit pun menuju tempat duduk Gigi cs.
 “Hei… kalian semua pada datang ya? Dijamin party nya seru. “ pesan Radit.Anisa dan Angel hanya mengangguk sedangkan Gigi acuh saja. 
“Sadam….” Seru Radit saat melihat gue melintasi kantin . Dia berjalan menuju tempat gue berdiri.
“Hei…Dam!” seru Christy. “Hei Christy…”sahut gue sambil tersenyum.  “Dam… besok gue akan mengadakan  party,jadi gue harap loe datang! Acaranya seru kok .” pesan Radit. “Ya…Dam. Kamu datang ya !” sahut Christy.
 “Oh… ya! Gue pasti datang!”  Christy dan Radit pun meninggalkan kantin . Gigi lalu menghampiri gue. “Loe…mau pergi ke partynya Radit?” “Iya…”sahut gue tegas.
 “Yakin loe? Ngak takut apa dikerjain sama mereka?”  “Hmmm…. Takut?” gue hanya mengangkat bahu. “Lebih baik jangan pergi!” pinta Gigi.
“O…tidak bisa! Gue akan tetap pergi. Mau gue dikerjain atau ngak itu urusan belakangan. Yang penting happy !” jelas gue dan berlalu meninggalkan Gigi. “Ughhht….”batin Gigi kesal.
                                                *****
Dipestanya Radit, ternyata yang datang banyak juga. Radit menyambut kedatangan gue dengan baik. “Hei… datang juga loe!” seru Radit , gue hanya tersenyum. “Christy mana ya?” batin gue sambil mencari sosok Christy. Christy muncul dan mendekati Radit , “Hei sayang…” ucap Christy sambil mencium pipi Radit.
 Gue gerah melihat sikap  Christy tersebut. “Sial!!!” batin gue.  Dan ternyata , Gigi  juga datang ke party Radit bersama Anisa,Angel dan Bobby.
“Sayang…lihat siapa yang datang!” seru Christy pada Radit. Radit pun menoleh dan tersenyum melihat kedatangan Gigi. 
“Proook…proook…proook…” Radit tepuk tangan menyambut Gigi. “Hei… malam ini loe kelihatan cantik !” puji Radit. “Makasie!” sahut Gigi.
“Cantik? Apanya Dit? Kayak ondel-ondel begini,dibilang cantik.Payah loe Dit!” sahut Geri, teman segenk Radit. Dan yang ada dipesta pun tertawa mendengar perkataan Geri. “Hahahahaaaa……..” 
Gigi yang biasanya lebih suka bergaya tomboy, malam itu menghias dirinya tidak seperti hari-hari biasanya.Gigi memakai gaun,high heels, dan make-up. Anisa dan Angel  menghibur Gigi. “Gi…ngak usah didengerin!” pinta Anisa. Gigi  hanya memandang Anisa.
Beberapa menit kemudian, Christy dengan sengaja menabrak Gigi. “Aww…” seru Gigi kesakitan karena terjatuh.
“Hei… loe apa-apaan sih?” ujar Bobby sambil mendorong Christy. Christy pun terjatuh, Radit tidak tinggal diam.
Radit lalu menghajar Bobby tepat diwajahnya. “Dukk..” Bobby pun terjatuh. “Hei…berani banget loe mendorong cewek gue?Loe pikir,loe itu siapa???!” bentak Radit emosi. 
“Cewek loe tu, yang rese!” sahut Bobby. “Akkhh…!” Radit kembali ingin menghajar Bobby, tetapi kali ini tidak berhasil. Gigi dengan cepat menahan tangan Radit dan lalu menampar Radit.
“Plaaakk….” Radit memegang pipinya, emosi Radit kian memuncak.
Dengan secepatnya teman segenk Radit memegang kedua tangan Gigi. “Apa-apaan nih? Lepasin gue !” bentak Gigi. “Berani banget loe nampar gue ? mau cari mati loe ?!” Radit menggepalkan kedua tangannya.
“Orang seperti loe, emang harus diperlakukan seperti itu!”  Tiba-tiba Christy menyiram Gigi dengan air minuman. “Byuuurrr….” Gigi kaget dan menatap Christy.
 “Loe harus mendapat ganjarannya!”Christy pun memberi isyarat pada teman-temannya. Dan lalu teman-teman Radit mendorong
Gigi ke kolam renang. “Byuuuurrrrrr…..!!” 
“Gigi……..” teriak Angel dan Anisa. “Kalian keterlaluan…!” bentak Angel. “Toloooong….tolooong…..!!!” pinta Gigi.
“Nis…tolongin Gigi…!Gigi ngak bisa berenang!” pinta Angel.
“Sial…!!!” batin gue dan langsung menceburkan diri ke kolam renang.
“Sadam…..” seru Angel dan Anisa. Gue berusaha menolong Gigi dan membawa Gigi ketepi kolam. “Gi…..” seru Anisa sambil membantu gue. “uhuukkk…uhuukkk..uhuk…” Gigi terengah-engah.
Gue pun keluar dari kolam renang dan lalu berjalan menuju Radit. “Duuukkkkk…..!” gue tanpa basa-basi menonjok wajah Radit, lalu memegang krah bajunya. “Puas loe semua ?!!” bentak gue.
Radit memegang wajahnya, teman-teman Radit mendekat ke arah gue.
“Jangan pernah menghina dan memperlakukan Gigi seperti tadi! Kalau sampai itu terjadi lagi, gue ngak akan segan-segan untuk menghabisi loe semua. Ngerti Loe!!!” gue mendorong Radit kearah teman-temannya.
Gue menghampiri Gigi, “Loe ngak apa-apakan?” Gigi hanya mengangguk. “Kita pergi dari sini!” pinta gue.
                                                            *****
Keesokkan harinya Gigi tidak sekolah karena kejadian semalam telah membuat dirinya masuk angin. “Gigi… ngak masuk ea,Nis?” Tanya gue. “Iya…karena kejadian semalam dia masuk angin. Jadi butuh waktu buat memulihkan keadaannya.” Jelasnya.
“Hmmm… ntar pulang sekolah jenguk Gigi ,yuuuk !!!” ajak gue. “Iya…tadi gue sama Angel udah bahas itu.” “Ohh…ya ya ya…”
Sepulang sekolah gue bareng Anisa dan Angel akan menjenguk Gigi. Sesampainya dirumah Gigi, Anisa dan Angel meminta gue untuk menunggu diluar.
 “Dam… tunggu diluar bentar ya! Gue sama Angel masuk duluan.” Seru Anisa. “Okeh…!”
“Tookk..tookk…took.”  “Gigi…” seru Anisa dan Angel setelah sampai didepan pintu kamar Gigi. “Masuk… Pintunya ngak dikunci!” sahutnya.
“Heii… gimana keadaan loe?” Tanya Angel. “Seperti yang kalian lihat.”  “Makin jeleekk…” canda Anisa.  “Emmm…dasar!” sahut Gigi.
“Oh…iya.  La…!” seru Angel sambil memberi isyarat pada Anisa bahwa Sadam daritadi menunggu diluar. “Eh…lupa! Gi… ada yang mau ketemu loe diluar, temuin gih!” ujar Anisa. “Siapa?”  “Udah deh,lihat aja sendiri!” Anisa membantu Gigi berdiri.
Gigi agak kaget melihat ada gue diluar. “Sadam…?” batinnya. Gigi berjalan menuju teras rumah tetapi tidak memandang gue.
“Gi…”seru gue dan Gigi hanya diam. “Gi… gue mau minta maaf! Sekarang gue baru sadar,kalo semua yang loe katakan itu memang benar.”
“Maksudnya…???” Gigi membalikkan badannya. “Ya…semua yang pernah loe bilang. Christy itu ngak baik dan yang lainnya.” Sahut gue.
”Dia memang cantik,tapi hatinya ngak secantik wajahnya. Dia begitu jahat, kejadian semalam menyadarkan gue betapa bodohnya gue. Menyukai cewek, tapi cewek itu ngak punya perasaan sama sekali. Seharusnya dari dulu gue dengerin kata-kata loe! Dan seharusnya semalam gue ngak datang ke party itu Tapi,gue nya aja yang keras kepala.Karena gue,loe dihina sama mereka.karena gue juga loe jadi sakit. Sorry, atas semua yang telah gue lakuin. Sorry, karena telah menyakiti loe.”
“Syukur deh, kalo loe udah sadar.”
“Maaf…!”seru gue. “Iya…udah gue maafin. Makasie juga karena semalam loe udah nolongin gue,” sahutnya.
 “Hmmm…ya. Gue pikir tadinya loe bisa berenang. Ternyata …. Weeww… memalukan juga!” ledek gue.
“Maksudnya…???” Gigi menatap gue.  “Ya… jago karate,tomboy and bla…bla..bla… ternyata kagak bisa berenang!”
 “Ngak semua bidang dapat kita kuasai. Manusia ngak ada yang sempurna. Begitu juga dengan gue. Ohh…ya semalam kok bisa-bisanya loe nonjok Radit? Bukankah selama ini ngak bisa melawan orang dengan otot ???”
  “Hmmm…itu reflek aja.ngak tau juga bisa tepat kena sasaran.Ya,reflek !” jelas gue sambil mengangkat bahu. “Ohhh….” Gigi mengangguk.
“Gi… gue juga baru sadar kalau gue tuh…. Kalau gue tuh…. Hmmmm….. kok jadi susah ngomongnya ya?”  “Ngomong apaan sih…?” 
“Ternyata gue sukaaaaa samaaaaaa bodyguard gue!” bisik gue ketelinga Gigi.
“Hah….Bodyguard? Siapa?” Gigi bingung.
“Hmmmmm… Brigitta Chintya… Loe !” “Haaaaah..... loe suka sama gue ?” Gigi kaget.
Gue hanya mengangguk, “Jadi gue diterima ngak?”
 “Huuufffttttt…..” Gigi menghela nafas.
“Kok ekspresinya gitu…? Ngak suka sama gue ya?” 
“Siapa bilang..?”  “Nah,itu dari ekspresinya.”
 “Hufffttt… bakalan capek dech, tiap hari jadi bodyguardnya. Ckckckck….” seru Gigi sambil geleng-geleng kepala.
”So………..Gigi mau jadi pacarnya Sadam.” Gigi mengangguk.  Lalu gue memeluk Gigi dengan eratnya.
“Cieee..cieee… ada yang jadian nich !” ujar Angel yang dari tadi mengintip dari dalam rumah. “Eheemmm… let’s go to Bang Didi… lapeeeerrr euy.” ledek Anisa. Semuanya happy.^.^
“Yeach… Makhluk Tuhan Paling  (……..). Pacar Gue  !!!” batin gue.

***


^STORY ANGEL^



Aku terlahir dari keluarga yang sederhana. Aku anak pertama dari dua bersaudara. Aku tinggal bersama ibu dan adik perempuan ku. Dari kecil aku diajarkan untuk hidup mandiri. Pada saat usia ku 15 tahun, terjadi sebuah kecelakaan yang akhirnya merenggut nyawa ayahku. Kehilangan seorang ayah? Aku tidak pernah  membayangkan hal itu.
Ya, Tuhan lah yang mengatur segala sesuatu yang terjadi pada kehidupan umatnya. Dibalik musibah itu pasti ada hikmahnya.  Aku tetap bertahan walau ditengah kepedihan ! Sejak kepergian ayah, ibu memutuskan untuk bekerja menjadi TKI di Hongkong. Adik ku satu-satunya diasuh oleh pamanku,kakak dari ibu. Sedangkan aku lebih memilih untuk tinggal di panti asuhan. Sekolah ku tetap berjalan.Tidak terasa sudah 2 tahun aku melewati hari-hari dipanti asuhan. Sekarang aku telah duduk dikelas 2 SMA.
Aku mempunyai teman dekat, kami berteman sejak aku berada dipanti asuhan. Christy , dia anak pemilik Yayasan Sosial Kasih Ibu. Papa Christy adalah donator tetap dipanti asuhanku. Walaupun Christy adalah anak yang berada, dia tidak pernah memandang rendah seseorang. Christy, dia baik, sopan santun dan tidak pernah sombong. Buktinya sampai sekarang dia masih mau berteman denganku, yang hanya seorang anak panti asuhan.
Di saat pertambahan usiaku, Christy memberiku kejutan. Christy membawa sebuah tart yang ukurannya tidak terlalu besar dan diatasnya ada angka 17. Tidak hanya sebuah kue tart, Christy ternyata telah menyiapkan kado untukku. Sebuah boneka besar berbentuk lumba-lumba pun dihadiahkan untukku.
Saat itu aku pun meneteskan airmata, selama aku hidup tidak pernah ada yang begitu peduli sama hari lahirku. Tapi,saat ini ada seseorang yang begitu peduli sama aku. “Christy , terima kasih banyak atas semuanya.” ujarku.
“Iya…Jangan nangis! Ntar makin jelekk loh.” Pinta Christy sambil menghapus airmata ku.
“Makasie Christy… makasie atas semuanya!” seru aku.
“Hmmm… kamu mau berterimakasih sebanyak apa sih? Aku melakukan semua ini karena tulus ingin membuat kamu bahagia. Kamu senang, dan aku pun lebih senang dari kamu. Aku bisa membuat kamu tersenyum dihari ini.” Jelas Christy.
“Kadonya bagus ngak?” Tanya Christy.
“Iya… bagus banget.” Sahutku.
            “Kenapa kamu suka sama dolphin?”
“Hmmm… karena dolphin itu lucu,baik dan imut-imut. Lagipula dolphin itu kan lambang persahabatan.” Jelasku.
            “Owh… aku baru tahu. Dan hari ini aku mau membawa kamu kesuatu tempat, pokoknya hari ini aku akan menemani kamu dan akan membuat kamu selalu tersenyum. Hari ini tidak boleh dilewatkan begitu saja!” Christy membawa ku pergi ketaman.
Dimana taman itu telah dihiasi oleh bunga-bunga yang begitu cantik. Ditaman telah hadir anak-anak panti yang lainnya beserta ibu panti. Mereka bernyanyi untuk ku. Hari ini tidak bisa aku lupakan,aku akan mengenang semua kebaikan yang kalian berikan untukku.
Terimakasih . Terimakasih semua. Terima kasih Christy.
Waktupun terus berjalan , hari-hariku tidak terasa kesepian. Karena hadirnya seorang teman baik, seperti Christy. Setiap hari Christy menemani aku, tidak hanya di sekolah tetapi dipanti pun Christy selalu ada.
“Jelekkk… lagi ngapain?” seru Christy menghampiriku.
“Kamu ngak lihat aku sedang ngapain?” sahutku.
“Yeee…malah balik nanya! Huh…” Christy pun mencipratkan air ke wajahku.
“Ikh… kamu usil deh! Ngangguin aku terus…”
“Bodoo… !” dan akhirnya aku pun tidak selesai menyiram bunga-bunga yang ada dipekarangan.
Aku dan Christy saling siram menyiram.  Indahnya hidup ini dengan hadirnya teman disampingku.
“Jelekkk… jika aku tidak bisa lagi menemani kamu, kamu jangan sedih ya !”
“Kok kamu ngomongnya begitu…?” tanyaku.
“Setiap manusia kan pasti akan kembali kepada pencipta-Nya… aku tidak akan selamanya ada disampingmu, ada pertemuan dan akan ada perpisahan. Dan kamu harus tahu satu hal, aku senaaaaaaaaaaaang banget bisa mengenalmu. Kamu teman terbaikku.” Terang Christy sambil memelukku.
“Jangan pergi Christy, jika kamu pergi siapa lagi yang akan mau jadi temanku? Jangan pergi!” seruku dan airmata menetes dipipiku.
 “Ikh… jelekkk jangan nangis dong ! kan udah aku bilang berkali-kali, kalo kamu nangis kamu itu makin jelekkk… cup…cup..cup…!!” hibur Christy.
“Janji sama aku, kalo kamu akan selalu menjadi temanku. Selamanya…!” pintaku.
“Iya, Christy janji sama jelekk. Christy akan selalu menjadi teman kamu. Dan kamu juga harus janji untuk tidak menangis lagi! Kamu harus kuat, tegar dan jangan putus asa. Jangan jadi orang yang lemah!”
 “Ok… janji!!! Best friend forever !!!”
                                                            *****
Dan lagi, sebuah kecelakaan terjadi kembali. Kejadian yang tidak pernah kami bayangkan.  Kali ini menimpa Christy. Karena kecelakaan itu Christy menjadi buta. Christy tidak dapat menerimanya.
            Sejak saat itu Christy jadi pemurung dan lebih suka menghabiskan waktunya sendiri. Saat  aku datang berkunjung kerumahnya , aku tidak dapat bertatap muka dengannya. Christy tidak mau bertemu siapapun, termasuk aku. Aku kembali kepanti asuhan dengan lesu.
“Christy aku kangen dijahili sama kamu, aku kangen bermain denganmu, aku kangen Christy yang dulu selalu ceria…” batinku.
Suatu hari, Papa Christy berkunjung kepanti asuhan. Papa Christy ingin berbicara denganku.
 “ Sejak kecelakaan itu, Christy tidak mau bertemu siapapun. Christy tidak punya semangat untuk hidup. Beberapa hari yang lalu Christy berniat untuk mengakhiri hidupnya. Untung saja itu semua bisa digagalkan oleh pembantu yang saat itu mengantarkan makanan untuk Christy. Kamu bisa temani Christy? Christy butuh seseorang yang bisa menghiburnya…” jelas papa Christy.  “Iya om. Aku akan menemani Christy.”
Papa Christy membawaku kerumahnya untuk menemani Christy. Kami pun memasuki kamar Christy yang bernuansa biru putih.
“Sayang… Angel datang untuk menemani kamu. Angel, om tinggal kalian berdua ya !”  “Iya…om.”
Aku tidak tahu harus memulai semuanya dengan apa. “Huft… aku pasti bisa!” batinku.
            “Hei…. Christy Kamu apa kabar?” Christy hanya diam.  “Christy … aku kangen sama kamu. Kangen melihat kamu tertawa karena berhasil menjahili aku. Aku kangen bermain ditaman bersama kamu. Christy … jawab aku Chris …!” pinta ku.
“…Kamu ngak lihat keadaan aku yang sekarang?.. a..a..ku bukan Christy yang dulu. Aku buta … aku butaaaaa.. aku butaaaa…. Aku cacat !!!” Seru Christy tersedu-sedu.
“Christy …” sahutku sambil menenangkan Christy.
            “Aku cacat …aku cacat…” lirih Christy.
“Aku akan selalu ada disamping kamu.” Bisikku.
                                                            ***
Tiga bulan, sejak kecelakaan itu. Perlahan Christy mau berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya. Aku terus menemani Christy dan menyemangati Christy untuk tetap bertahan menjalani rintangan dalam hidup ini.
            “Chris … aku baru aja membuat sebuah gambar. Suatu saat nanti kamu harus lihat dan kasih nilai untuk lukisan aku yang satu ini. Ini aku hadiahkan untukmu, hadiah pertama untukmu teman.” Kataku sambil menyodorkan gambar yang baru saja selesai aku buat.
“Makasie ya … Angel!”
“Ngak jelekk lagi nih?” ujarku tertawa. “Hmmm…. Maunya!” sahut. Christy
“Wah… diseberang jalan sana ada bunga yang indah banget. Hmmm… aku petik buat kamu ya. Tunggu aku disini!” Aku pun berlari menuju bunga itu. Bunga yang indah itu telah berpindah ketanganku.
Aku kembali berjalan kearah Christy. Tanpa ku sadari ada sebuah mobil yang melaju sangat kencang, dan tabrakan pun tak dapat dielakkan.
            “Angeeeeel……..”  teriak Christy.
                                                                        *****
“Kenapa kamu yang pergi? Kenapa bukan aku? Angel ….” Christy menangisi kepergian Angel untuk selama-lamanya.
            Sebelum Angel pergi, Angel mendonorkan kedua matanya untuk Christy. Christy memandang lukisan yang dibuat Angel, ternyata itu gambarnya.
            “Makasie… buat lukisannya. Makasie buat kedua mata yang indah ini. Makasie sahabatku . Makasie jelek.” Batin Christy sambil menghapus airmatanya dan berusaha untuk tetap tersenyum.
Menjalin sebuah hubungan didasari dengan niat dan rasa tulus, pasti akan mendatangkan kebahagiaan. Aku tulus berteman denganmu. Aku senang bisa mengenalmu. Aku bangga punya kamu yang mempunyai hati begitu mulia dan baik terhadap sesama.
            Terimakasih telah membuat hari-hariku penuh warna. Kau bagaikan pelangi dalam hidupku. Persahabatan itu memang indah. Terima kasih sahabatku…. ^^


Mawar Untuk Valeria (lomba novelet peri penulis)


Mawar Untuk Valeria
Malam ini langit dipenuhi dengan bintang-bintang yang berkelip dan hawa dingin menusuk tulangku. Sedikit pun, aku tidak mau beranjak dari beranda kamarku. Aku meninggalkan sejenak aktifitas belajar, karena pemandangan diluar sangat menarik untuk dilihat. Terlintas dibenakku untuk menghubungi Kim, kekasihku. Aku merongoh ponsel yang ada di kantong celanaku, lalu menekan nomor ponsel Kim.
Hallo, Kim! sapaku.
Hallo! Hah? Suara cewek? Aku kaget, ternyata yang mengangkat teleponku bukan Kim.
Hallo, Valeria! sapa cewek itu.
Kim?
seruku.
Maaf, Kim sedang menjalani pemotretan. Jadi dia tidak bisa mengangkat teleponmu. Terangnya.
Ini siapa? tanyaku penasaran.
Nadine. Teman Kim. Jawabnya.
Oh… Kalau Kim memang sedang sibuk, biar nanti saja aku menghubunginya kembali! seruku.
Ok!
Terima kasih! sahutku sambil memutuskan pembicaraan.
Ya, Kim adalah seorang fotografer. Akhir-akhir ini Kim memang disibukkan dengan pekerjaannya itu. Dia memutuskan untuk berhenti kuliah dan menekuni hobi photograpy. Yah, sangat disayangkan, walaupun begitu aku tetap mendukung apapun keputusan yang dia pilih. Tapi, ayah Kim tidak menyetujui jalan hidup yang dipilih Kim. Ayah Kim menginginkan Kim untuk menjadi seorang dokter atau seorang pengusaha muda, seperti beliau. Akibatnya, ayahnya tidak mau tahu lagi mengenai kehidupan dan masa depan Kim. Kim tidak sendirian, karena ada aku yang akan selalu mendukungnya. Aku sayang Kim.
Jam di dinding telah menunjukkan pukul 9 lewat 15 menit, aku bergegas menuju tempat tidur dan menghempaskan tubuhku di atas kasur yang empuk. Saatnya mimpi indah, good nite all!
Paginya, di meja makan sudah terhidang sarapan pagi buatan mama. Mama menyambut kedatanganku.
“Selamat pagi, sayang!”
“Pagi, ma! Muaacch.” seruku sambil mengecup kedua pipi mama.
“Sarapan dulu ya, sayang! Mama udah bikin nasi goreng kesukaan kamu dan segelas susu.” Ungkap mama.
Thank you, ma!”
Saat aku menginap di rumah, mama selalu sibuk sendiri untuk memasak masakan kesukaanku. Yah, walaupun aku harus tinggal di asrama sekolah, sesekali aku bisa menyempatkan diri untuk sekedar makan malam bersama mama.
“Selamat pagi semua!”
“Mike?” seruku kaget dan berlari kearahnya lalu memeluknya.
“Wooo… Vale!” ujarnya.
“Aku merindukanmu!” ungkapku.
Mike adalah temanku. Teman yang 2 tahun belakangan ini melanjutkan study-nya keluar negeri, tepatnya Australia. Aku benar-benar kangen padanya. Aku melepaskan pelukan dan mengacak rambutnya.
“Wah… kamu terlihat keren!” pujiku.
“Tentu saja. Siapa dulu, Mike! Hai tante!” ujarnya sambil tersenyum.
“Hai, Mike. Vale benar, kami merindukanmu!” tambah mama sambil memeluk Mike.
“Aku juga merindukan kalian! Hmmm… wangi sekali, pasti ada nasi goreng kesukaan tuan putri!” ujarnya.
“Kamu laper? Ayo sekalian, kita sarapan bareng!” ajak mama.
“Dengan senang hati, tante!”
“Dasar!” ledekku.
Akhirnya pagi ini aku sarapan ditemani oleh mama dan Mike. Setelah sarapan selesai, aku pergi ke sekolah dan diantar sama Mike. Dalam perjalanan aku dan Mike mengenang kembali masa-masa dulu, Mike juga tidak lupa menceritakan kehidupannya selama berada di Australia. Tidak terasa, aku sudah sampai di halaman sekolah.
Thank you, Mike.”
U’r welcome, tuan putri! Apa nanti siang ada waktu menemaniku mengelilingi kota Bandung?” pintanya.
Sorry. Hari ini aku ada ujian dan malam ini aku harus tetap berada di asrama. Lusa, mungkin aku bisa!” ungkapku.
“Oke. Lusa kita ketemu di sini! Bye-bye!” pamitnya sambil melajukan mobilnya.
Bye!”
Di kamar asrama. Aku menghempaskan tubuhku di atas kasur. Beberapa detik kemudian teman sekamarku, yang juga adalah sahabat terdekatku, Cherry datang dan dia terlihat habis menangis. Entah apa yang telah terjadi padanya? Aku beranjak dari tempat tidur dan mendekatinya.
“Cher, kenapa?”
Tiba-tiba dia memelukku dan menangis dipundakku.
“Hik’s… hik’s… hik’s…”
“Apa yang terjadi?” aku semakin bingung.
“Cher, tenangkan dirimu! Coba ceritakan padaku, apa yang terjadi?” kataku lagi.
“Ramon selingkuh, Val! Aku melihatnya jalan dan bermesraan dengan wanita lain!” ungkapnya.
“Hah? Ramon berbuat seperti itu? Sabar, Cherr! Jangan buang airmatamu untuk pria seperti itu!” ujarku menenangkan Cherry.
“Aku tidak terima perlakuannya itu, Val! Aku kecewa!” kesalnya.
“Udahlah, balas dendam itu ngak ada gunanya, Cherr. Lebih baik kamu tunjukkin ke dia, kalo kamu itu kuat dan bisa menemukan pria yang lebih daripada dia! Jangan seperti ini!” nasehatku.
“Kamu benar, aku harus bisa menemukan pria yang lebih baik! Aku benci dia, Val!”
“Iya, aku tahu! Udah, jangan nangis lagi!” kataku.
“Terima kasih, Val!” ujarnya.
Tiba-tiba ponselku berdering, aku melangkahkan kaki menuju meja belajar. Aku menatap layar ponsel dan ada nama Kim. Aku tersenyum dan mengangkatnya.
Vale! (Sapanya)
Kim! (Seruku)
Iya… ini aku, Kim! (jawabnya)
Hai!
Vale, apa kamu sudah lunch? (Ujarnya)
Hmmm… belum! Apa kamu mau mengajakku keluar untuk lunch? (Tanyaku)
Ya. Ayolah aku sudah lapar!
Tapi, Kim! Aku tidak bisa keluar, besok masih ada ujian. Aku harus belajar! (Seruku)
Hmm… aku sudah membuat spagethi kesukaanmu. Apa kamu tidak mau mencicipinya? Tidak perlu jauh-jauh dari asrama, sekarang aku sudah menunggumu dari tadi di taman belakang sekolah! Datanglah! (pintanya dan memutuskan pembicaraan)
Kim! (Seruku)
Aku memandang Cherry yang masih tersedu-sedu.
“Cherr, Kim sedang menungguku di taman. Apa aku bisa menemuinya sekarang? Kamu sudah lebih baik kan?” tanyaku agak khawatir dengan keadaan Cherry.
“Ya, temuilah Kim! Aku baik-baik saja!” ujar Cherry.
“Ok!”
Aku bergegas menuju taman sekolah. Hanya butuh waktu 5 menit untuk sampai di taman. Dari kejauhan terlihat Kim melambaikan tangannya kearahku. Aku mempercepat langkah kakiku dan segera menghampirinya.
“Kim!” seruku seraya memeluknya.
“Kamu merindukanku kah?” tanyanya.
“Ya, aku sangat merindukanmu!” aku tidak mau melepaskan pelukan ini.
“Aku juga!” serunya.
“Apa hari ini kamu libur kerja?”
“Hmmm… tidak! Aku setiap hari bekerja, tidak ada waktu untuk libur!”
“Oh...” sahutku seraya melepaskan pelukan.
“Ayolah, aku sudah lapar!” ujarnya seraya menarikku menuju meja yang di atasnya telah ada dua piring spagethi dan dua minuman kaleng.
“Ini rasanya sangat enak, aku memasaknya dari hati yang tulus. Karena aku tahu, kamu sangat menyukainya!” ungkapnya.
“Hah? Benarkah makanan ini lezat? Mari kita cicipi!” ajakku seraya mencicipi masakan Kim.
Kim memperhatikan dan menunggu komentarku.
“Bagaimana? Apa ada sesuatu yang kurang?” tanyanya.
“Hmmm… mungkin masakan ini akan lezat jika kamu menyuapiku!” ledekku.
Kim hanya bisa tersenyum mendengar ucapanku. Kim meraih sendok yang ada ditanganku, dan bersiap-siap untuk menyuapiku. Sendok itu sudah berada tepat di depan mulutku, aku membuka mulut. Akhirnya, Kim menarik kembali sendok itu dari hadapanku dan memakan spagethi itu sendiri.
“Kiiiim…” ujarku kesal.
“Hahahaa…” tawanya berhasil menipuku.
Sorry! Tenang nona, suapan berikutnya adalah untukmu!” serunya dan benar kali ini dia menyuapiku.
“Bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanyaku.
“Semuanya berjalan dengan lancar. Dalam waktu dekat ini aku dan teman-teman sedang merancang sebuah event pameran. Semoga saja bisa terwujud!” ungkapnya antusias.
“Amin. Lalu, kapan aku bisa menjadi modelmu?” aku sangat menginginkannya.
Kim hanya tersenyum lalu mengambil kameranya dan mengarahkan kamera kearahku.
“Setiap saat kamu bisa menjadi modelku! Tapi, foto ini bukan untuk publik! Hanya aku yang boleh memandang dan menatap model yang satu ini! Kamu hanya milikku!” ungkapnya sambil memegang pipiku.
“Kamu harus membayar mahal untuk itu, Kim!” terangku.
“Tentu saja! Aku sudah membayarnya dengan masakanku ini!” sahutnya.
Aku melonggo dan bersiap-siap untuk mencubit lengannya.
“Aww… aku hanya bercanda!” rintihnya.
“Kim, Nadine itu siapa?” tanyaku penasaran dengan cewek yang semalam mengangkat teleponku.
“Oh, Nadine adalah temanku. Dia yang mencarikan job dan beberapa orang model. Kamu tahu darimana soal Nadine?” ujarnya balik nanya.
“Semalam aku menelponmu, tapi dia yang mengangkatnya!” ujarku singkat.
Kim meraih ponselnya dan menatap ke layar ponsel. “Dia tidak menceritakannya kepadaku? Ah… mungkin dia lupa! Semalam aku benar-benar disibukkan oleh pemotretan. Vale, sorry!” ungkapnya merasa bersalah.
It’s oke, Kim!” seruku sambil mengacak rambutnya.
“Kim, apakah di hari valentine nanti kamu akan tetap bekerja?” tiba-tiba aku teringat dengan hari kelahirnku.
“Semoga saja tidak. Aku juga ingin dihari valentine nanti menghabiskan waktu bersamamu!” ungkap Kim.
Aku tersenyum mendengarnya. Kim kembali menyuapiku, Kim memperlakukanku seperti seorang putri. I Love Kim Forever.
***
Jam di tanganku menunjukkan pukul 10 pagi, akhirnya ujian ini berakhir juga. Aku lelah dan kelaperan. Cherry mengajakku ke kantin sekolah, dia juga merasakan hal yang sama denganku. Pagi tadi aku dan Cherry tidak sempat untuk sarapan pagi. Sesampainya di kantin sekolah, Cherry menyebutkan makanan yang ingin dipesannya.
“Val, aku mau pesan mie ayam dua mangkuk dan dua teh botol. Ngak pake lama!!!” pintanya.
“HAH? Laper atau doyan? Banyak amat, Cher?” ujarku heran.
“Dua-duanya, Vale! Udah sana, pesan makanannya!”
Oke, wait !” aku meninggalkan Cherry dan lalu memesan makanan.
5 menit kemudian, aku datang dengan membawa makanan yang kami pesan. Cherry sama sekali tidak membantuku.“Cherr, bantuin dong!” pintaku.
Cherry hanya mencibir sambil memainkan ponselnya.
“Ini pesanannya tuan putri!” ujarku sedikit kesal.
Thank you!” sahutnya sambil tersenyum.
“Untung aja ya, aku punya satu teman seperti kamu! Satu-satunya yang paling menyebalkan!” kesalku.
Cherry hanya cengegesan mendengar keluhanku. Tiba-tiba ponselku berdering, ada panggilan masuk dari Mike, aku langsung menekan tombol hijau.
Mike! (Sapaku)
Hai, tuan putri! Apa nanti sore kamu ada acara? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat! (Ungkapnya)
Hmmm… sepertinya, aku mau ikut denganmu! Aku di sini juga sudah merasa jenuh dan bosan! Jam berapa kamu akan menjemputku?
Jam 3 sore, di parkiran sekolah! Tunggu disana! (Pintanya)
Ok. See you, Mike!
See you!
“Vale, sudah punya pacar, tapi masih saja jalan sama cowok lain! Apa Kim tidak cemburu dengan hal ini?” selidik Cherry.
“Cherr, Kim mengenal Mike! Dan aku sama Mike cuma temenan doang, ngak lebih! Jangan negative thinking deh!” aku kesal mendengar ucapan Cherry.
Sorry, just kidding, Vale!”
Aku menyantap makananku dengan rasa kesal melihat tingkah Cherry hari ini.
***
Pukul 3 sore, di parkiran sekolah. Aku menunggu kedatangan Mike. Sudah pukul 3 lewat 15 menit, namun Mike belum juga datang. Ah! aku paling sebal kalau harus berada dalam situasi saat ini. Menunggu adalah hal yang paling membosankan. Tunggu! Itu dia, Mike. Mike tepat memarkir mobilnya di depanku, lalu dia turun dari mobil dan menghampiriku.
Sorry, Val! Aku telat!” pintanya.
“Oh…” aku melangkahkan kaki menuju mobilnya.
“Vale… sorry!” serunya.
It’s oke, Mike! Kamu mau mengajakku kemana?” tanyaku.
“Kemanapun yang kamu inginkan!” Mike merayuku.
“Hmmm… jangan bercanda Mike!” keluhku.
“Kita akan pergi makan dan jalan-jalan seputar kota Bandung. Kita jalan sekarang, tuan putri!” ajaknya.
Aku mengangguk dan tidak lupa untuk memasang sabuk pengaman. Aku dan Mike menikmati suasana sore hari kota Bandung. Wisata kuliner dan membeli beberapa pernak-pernik yang lucu.
***
Jam 8 malam di parkiran sekolah. Kim dari jam 5 sore menunggu kedatangan Vale, Kim ditemani Cherry. Cherry menceritakan perihal kemana Vale pergi dan bersama siapa.
“Kim, apa ponsel Vale sudah bisa dihubungi?” Tanya Cherry.
Kim hanya menggelengkan kepala.
“Mungkin ponselnya lowbat. Atau kamu hubungi Mike saja?”  usul Cherry.
“Tidak perlu, Cherr. Biar aku menunggunya disini!”
“Oh… baiklah! Biar aku temani!” kata Cherry.
Thank you!” ujar Kim sambil tersenyum. Cherry pun membalas senyuman Kim.
Tidak terasa jam ditangan telah menunjukkan pukul 11 malam. Kim masih setia menunggu Vale di parkiran sekolah. Cherry tidak tahan menahan kantuknya, sehingga dia tertidur di salah satu kursi yang tersedia di parkiran. Akhirnya yang ditunggu pun datang juga. Mobil BMW berwarna silver memasuki halaman parkir dan Mike memarkir mobilnya tepat di sebelah Honda Jazz berwarna putih milik Kim.
“Val… Val… Vale… bangun! Kita sudah sampai di asrama!” kata Mike.
“Hhhh… ada apa Mike?” ujarku seraya membuka mata perlahan-lahan.
“Kita sudah sampai! Vale, Kim menunggumu di luar!”
“Hah? Kim?” seruku sambil melihat keluar kaca jendela mobil. Dan benar ada Kim yang sedang berdiri tepat disebelah mobilnya. Cherry juga ada disana, tapi dalam keadaan tertidur pulas. Aku turun dari mobil Mike dan melangkahkan kaki menuju Kim.
“Kim.” Seruku.
“Hai!” sahutnya sambil tersenyum.
“Apa yang kamu lakukan disini?” tanyaku penasaran.
“Menunggumu.” Jawabnya singkat.
“Kenapa tidak menghubungiku?”
Kim menyodorkan ponselnya dan memperlihatkan panggilan keluar yang dilakukannya untuk menghubungiku. Aku merongoh ponselku  dari dalam tas dan melihat ponselku yang mati total.
“Ponselku mati total! Sorry, Kim!” pintaku sambil memegang tangan kanannya.
It’s ok!” sahutnya singkat.
“Val… aku balik dulu ya! Thank you, buat hari ini !” pamit Mike.
“Ya, makasih juga Mike! Be careful!” seruku.
Mike telah pergi dan aku melirik Kim, “Sorry! Mike mengajakku untuk berkeliling kota Bandung. Dia sudah lama tidak merasakan suasana kota Bandung, jadi dia memintaku untuk menemaninya!”
“Kasihan Cherry, Val! Dia ikut menemaniku menunggu kamu, akhirnya dia ketiduran disana!” ungkap Kim.
Aku melirik Cherry, lalu melangkahkan kaki menujunya.
“Cherry, bangun Cherr!” ujarku seraya memegang bahunya.
Cherry perlahan membuka matanya, “Hhhh… aku dimana?” tanyanya.
“Parkiran sekolah. Kembalilah ke kamar, disini sangat dingin! Sorry, Cherr!” ungkapku.
“Hmmm… Kasihan Kim, dia telah menunggu tuan putrinya dari jam 5 sore sampai sekarang! Aku balik ke kamar duluan ya, udah ngantuk berat!” bisik Cherry
“Kim, aku duluan ya! See you!” ujar Cherry sambil meninggalkan kami.
Bye, Cherr!” sahut Kim.
“Kim, apa kamu marah padaku? Aku dan Mike hanya teman, dan kamu tahu hal itu kan?” terangku. Aku tidak ingin Kim membenci Mike dan juga tidak ingin Kim salah paham atas kedekatanku dengan Mike.
I know! Tidak perlu dijelaskan berulang kali! Overall, it’s ok dear!” ujarnya.
“Hmmm… lalu ada keperluan apa kamu rela menungguku sampai jam segini?” tanyaku penasaran.
“Oh. Wait!” Kim membuka pintu mobilnya dan mengambil sesuatu.
Kim menyerahkan sebuah undangan pameran foto untukku. Yang akan diadakan lusa, pada pukul 10 pagi.
“Kim, akhirnya salah satu keinginanmu terwujud juga!” ujarku seraya tersenyum dan memeluknya.
“Selamat sayang! Aku sangat senang mengetahui berita bahagia ini!” ungkapku.
“Ini semua berkat dukunganmu! Yang dari awal dan sampai sekarang selalu mendukung semua kegiatanku! Thank you, Vale!” ungkap Kim.
Tidak terasa airmata jatuh di atas pipiku. “Kim…” seruku terharu.
“Valeria, apa kamu menangis?” Tanya Kim. Kim ingin melepas pelukanku dan ingin melihat wajahku.
“Jangan, Kim! Biarkan aku tetap memelukmu!” pintaku.
Kim mengangguk dan memelukku dengan erat. “Ini adalah berita bahagia, tidak seharusnya kamu bersedih!” terangnya.
“Aku bahagia dengan cara seperti ini. Kim, aku sangat menyayangimu!” ungkapku.
“Ya… Aku juga menyayangimu, Vale!” Kim membelaiku dengan lembut.
Rasanya aku tidak ingin melepaskan pelukan ini sampai kapanpun. Aku sangat mencintai Kim.
***
            Minggu, 10 Februari 2013.
            Siang ini aku mengunjungi Kim di studio pemotretan. Dari kejauhan aku melihat Kim yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Aku tidak langsung menghampirinya. Tiba-tiba seseorang menyapaku, “Valeria!”
            Aku menoleh dan tersenyum kearah orang itu. “Hai!”
            “Aku, Nadine!” ujarnya sambil menyodorkan tangan kanannya.
            Aku meraihnya, “Valeria. Senang berkenalan denganmu, Nadine!”    
            Nadine menatapku dengan lembut. Kuakui dia memiliki postur tubuh seperti seorang model, kulitnya yang bersih dan senyumannya yang bikin semua orang terpana melihatnya.
            “Ada janji dengan Kim?” tanyanya.
            Aku menggelengkan kepala, “Aku hanya ingin melihat dia dengan kesibukkannya. Sepertinya, Kim setiap hari menikmati kesibukannya ini. Benar tidak?”
            “Ya, kamu benar. Kim sangat menikmatinya.”
            Aku merasakan sesuatu yang beda dari tatapan Nadine saat melihat Kim. Apa maksud tatapan itu? Apa dia menyukai Kim? Huff… Vale, come on positive thinking. Kim hanya mencintaimu, Vale.
            Akhirnya, Kim menyadari kehadiranku. Dia tersenyum dan segera menghampiriku.
            “Vale…” serunya sambil mencium pipiku.
            “Hai.” Sahutku.
            “Nad…” sapa Kim kepada Nadine.
            “Hai, Kim. Bagaimana dengan persiapan pameran besok?” Tanya Nadine.
            “Persiapannya baru 80 %. Beberapa hasil karyaku sudah kuserahkan pada Allan. Semoga pameran besok lancar dan sukses.” Ungkap Kim.
            “Amin. Okay, see you tomorrow. Aku harus kembali ke kantor. Bye!” pamit Nadine.
            Be careful!” seru Kim.
            “Nadine cantik ya, Kim.” Ujarku.
            “Hah? Vale, di mataku hanya kamulah yang paling cantik.” Puji Kim sambil mengacak-acak rambutku.
            Really?” seruku.
            Kim mengangguk, “You’r beautyfull. Muaccch…” sambil mencium pipiku.
            “Kim…” seruku sambil mencubit lengannya.
            “Vale, apa kamu sudah lunch? Aku lapar sekali!”
            “Belum. Kasihan, pangeranku kelaparan. Kita cari makan sekarang yuk!” Ledekku.
            “Ok. Let’s go!” ajak Kim.
                                                                        ***
            Pameran foto yang digelar Kim dan teman-temannya, sukses tanpa ada hambatan, kendala dan gangguan. Hasilnya sangat memuaskan. Aku senang melihat keberhasilan Kim kali ini. Aku menghampiri Kim.
            “Kim.” Seruku.
            Kim menoleh dan tersenyum. “Hai, sayang!” sahutnya sambil mencium pipiku.
            Congratulations. Kamu hebat, Kim!” pujiku.
            Thank you. Berkat dukungan kamu juga kan?”
            Aku tersenyum mendengarnya. “Juga karena usaha dan kerja keras kamu! Kim, kita harus merayakan keberhasilan kamu hari ini?”
            “Tentu. Kita harus merayakannya!” Kim setuju.
            Malam harinya Kim mengajakku makan malam di kediamannya. Tentunya, menu masakan malam ini Kim yang memasaknya. Aku dengan sabar menunggu hidangan di meja makan. Beberapa detik kemudian, Kim datang dengan membawa masakan favoritku, spagethi ala Kim.
            “Hmmm… yummy!” seruku seakan-akan spagethi tersebut sudah berada di mulutku.
            Tiba-tiba ponsel Kim berdering, ada panggilan masuk dari Nadine. Kim memandangku, “Aku angkat teleponnya sebentar ya!” ujarnya.
            Aku mengangguk. “Huh… kenapa selalu ada yang menganggu saat aku bersama Kim?” batinku kesal.
            Beberapa menit kemudian, Kim kembali menghampiriku.
            Aku penasaran, “Telepon dari siapa?” tanyaku.
            “Nadine.” Sahutnya.
            “Lalu?”
            “Bukan hal yang penting. Kita makan sekarang ya! Cobain deh, pasti masakannya makin lezat!” ajaknya.
            Aku menurutinya dan lagipula aku juga tidak mau merusak suasana hati Kim yang sedang berbahagia dengan rasa penasaranku ini. Ada apa antara Kim dan Nadine? Tiba-tiba Kim menyuapiku seraya tersenyum, berharap aku memuji masakannya.
            “Bagaimana rasanya? Apakah ada yang kurang?” tanyanya.
            “Hmmm… lezat banget!” pujiku sambil mengacungkan dua jempol.
            Really? Aku benar-benar hebat bukan?” bangganya.
            “Of course, dear!” sahutku dan sekarang gantian aku yang menyuapinya.
            “Yummi…” serunya.
            Aku berharap setiap hari aku dapat melewati hari-hariku bersama Kim. Aku bahagia saat Kim selalu disampingku. Menemaniku dalam suka maupun duka dan sebaliknya aku pun melakukan hal yang sama. Always Kim forever.
                                                            ***
            Rabu, 13 Februari 2013.
            Di asrama sekolah tepatnya di kamarku dan Cherry. Cherry sibuk dengan gaun barunya. Ya, malam ini adalah malam valentine days. Malam dimana orang-orang mencurahkan kasih sayangnya kepada pasangannya. Ya, tidak harus menunggu valentine days untuk melakukan semua itu. Dihari-hari biasa pun semua orang bisa melakukannya.
            “Vale, bagaimana pendapatmu dengan gaunku ini?” Tanya Cherry sambil memutar-mutar badannya.
            “Hmmm… bagus dan warnanya cocok dengan kulitmu. Beli dimana?” tanyaku sambil memperhatikan Cherry yang terlihat anggun dengan gaun pink yang dikenakannya.
            “Gaun ini hadiah dari Alan.”
            “Alan? Siapa dia?” aku penasaran dengan pria bernama Alan.
            “He is my boyfriend!” ungkapnya.
            “WAW… Cherry memang keren. Dalam beberapa hari dapat menemukan pengganti…” belum selesai aku menyebutkan nama mantannya, Cherry memotong pembicaraanku.
            “STOP!!! Jangan pernah menyebut namanya lagi!” perintah Cherry.
            “Up’s sorry!” pintaku.
            “Hei, bukankah malam ini adalah hari ulang tahunmu sekaligus malam valentine days. Hmmm… apa yang akan kamu lakukan nanti malam? Oh ya, pasti dinner with pangeran Kim? Iya kan ?” cerocos Cherry ingin tahu.
            Aku terdiam mendengar pertanyaan Cherry yang begitu banyak. Terakhir kali aku bertemu Kim, saat makan malam bersamanya. Hari ini Kim belum menelponku, aku tahu dia pasti sangat sibuk dengan pekerjaannya.
            “Kim sibuk!” lirihku.
            Come on, Vale! Besok adalah hari ulang tahunmu, mana mungkin dia membiarkanmu melewatinya sendirian?” protes Cherry.
            I don’t know, Cherr!” sahutku.
            Cherry meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. Beberapa menit kemudian…
            Hei, Kim! Apa kamu setiap hari harus bekerja? (Cherry)
            Aku kaget dan melangkahkan kaki kearah Cherry berdiri.
            “Cherr, apa yang kamu lakukan?” bentakku.
            Apa kamu akan membiarkan Vale melewati malam ini sendirian? Come on, Kim? (Cherry)
            Tolong berikan ponselmu padanya! (Kim)
            Cherry menyodorkan ponselnya padaku. “Kim ingin berbicara denganmu!” ujar Cherry.
            Hallo!
            Vale, maaf!
            Untuk apa?
            Aku tidak bisa menemanimu di malam valentine kali ini. Sorry!
            Aku terperangah dan terdiam. Rasanya air mataku beberapa detik lagi akan menetes.
            Why?  (Aku)
            Tadi pagi aku berangkat ke Surabaya, ada kerjaan penting di sini. Aku diundang untuk melakukan pemotretan! Sorry, sebelumnya aku tidak memberitahumu! (Kim)
            Aku tidak tahu harus mengatakan apalagi. Aku hanya bisa terdiam, tidak terasa air mata membasahi pipiku. Cherry memandangku dan mengusap air mataku.
            “Vale…” serunya.
            Aku menyerahkan ponsel Cherry, sementara Kim belum memutuskan pembicaraan.
            Kim, apa yang kamu lakukan? (Cherry)
            Apa dia menangis? (Kim)
            Menurutmu? (Cherry)
            Maaf, aku telah membuat hatinya terluka! (Kim)
            Apa hidupnya hanya untuk bekerja, bekerja dan bekerja? Kenapa kamu tidak menghargai perasaan Vale? Apa itu yang dinamakan cinta? Kim, aku kecewa denganmu! (Cherry)
            Cherry  memutuskan pembicaraan lalu melangkahkan kaki mendekatiku yang sedang duduk di atas ranjang.
            “Vale, sorry! Seharusnya aku tidak menghubunginya!” ujar Cherry.
            It’s ok, Cherry!” lirihku.
            Malam harinya, Cherry telah siap untuk pergi makan malam bersama Alan. Aku tinggal sendirian di kamar. Aku tidak semangat untuk bepergian keluar, lagipula tidak ada yang menemaniku. Malam ini aku kesepian dan hanya ditemani oleh bintang di atas langit. Ku duduk di pinggir jendela dan memandang ke atas langit. Pemandangan malam ini sangat indah, tanpa terasa air mata menetes di pipiku.
            Jam di dinding kamarku menunjukkan pukul 23.30 WIB, aku telah berbaring di atas tempat tidur. Aku melirik tempat tidur Cherry, dia belum juga pulang. Cherry beruntung, karena bisa melewati malam valentine bersama orang yang disayanginya. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk oleh seseorang. Siapa itu jam segini mengetuk kamar orang, kalau itu Cherry, dia pasti langsung masuk karena dia memiliki kunci kamar ini.
            Aku melangkahkan kaki menuju pintu dan perlahan pintu itu kubuka. Aku tidak menemukan sosok yang mengetuk pintu.  Mataku tertuju  ke lantai, dimana di lantai itu ada sebuket mawar merah. Aku mendekatkan buket itu ke depan hidungku dan mengendus baunya. Bau tajam bunga mawar serta-merta menyergap hidungku. Buket mawar ini indah sekali. Siapa yang meletakkan bunga ini di depan pintu kamarku? Sejuta tanya hadir dibenakku.
            Aku melihat ada secarik kertas yang terselip dalam bunga mawar ini.
            Aku menunggumu di taman sekolah! Temui aku, now!
            Kulangkahkan kaki menuju taman sekolah dan aku mengenggam erat buket mawar ini. Beberapa menit kemudian aku sampai di taman sekolah. Aku terperangah melihat di sekitar taman sekolah terpajang foto-fotoku. Aku mencari sosok yang memintaku datang ke taman ini, tapi ku tak menemukannya.
            “Apa kamu mencariku?”
            Suara itu tidak asing di telingaku. Suara orang yang sangat kucintai, Kim.
            “Kim…” lirihku sambil membalikkan badanku.
            Kim tersenyum. “Aku tidak mau kamu melewati malam ini dengan air mata. Aku akan selalu ada bersama kamu. Karena aku mencintai Valeria!” ungkap Kim.
            Aku mendekati Kim dan memeluknya dengan erat. “Bunga ini indah sekali, Kim. Aku menyukainya. Thank you!” ungkapku dan untuk kesekian kalinya air mata jatuh di pipiku. Air mata bahagia, karena malam ini aku tidak melewatinya sendirian.
            “Maafkan aku! Aku telah membohongimu. Ini semua ide aku dan Cherry. Sorry, Vale!” pinta Kim.
             Lalu Kim menjelaskan semua sandiwara yang dimainkannya, tentunya dibantu oleh Cherry. Kedekatan Kim dan Nadine semuanya hanya sandiwara. Aku benar-benar cemburu saat Kim dekat dengan Nadine. Aku kesal dan ingin melampiaskan kekesalanku pada Kim.
            “Aku kesal tapi dibalik semua ini, aku sangat bahagia. Karena ada kamu disisiku. Aku mencintaimu, Kim!” ungkapku.
            “Aku juga mencintaimu! Forever with u!” sahutnya.
            Jam menunjukkan pukul 00.00 WIB.
            Happy birthday… Valeeee!” seru Cherry.
            Aku kaget mendengar suara Cherry. Ternyata dia juga berada di taman dan disampingnya ada seseorang, pastinya itu cowok yang bernama Alan. Cherry memelukku dan mengucapkan selamat untukku.
            Happy birthday, sayang!” ujar Kim..
            Thank you…” seruku. Aku benar-benar bahagia malam ini, karena di malam valentine ini aku mendapatkan kasih sayang yang begitu berlimpah dari orang-orang yang menyayangiku. Terima kasih untuk semuanya. Semua perhatian dan  kasih sayang yang kalian berikan untukku. Forever with Kim, because I love Kim.
                                                                        -END-