Rabu, 19 Juni 2013

Mawar Untuk Valeria (lomba novelet peri penulis)


Mawar Untuk Valeria
Malam ini langit dipenuhi dengan bintang-bintang yang berkelip dan hawa dingin menusuk tulangku. Sedikit pun, aku tidak mau beranjak dari beranda kamarku. Aku meninggalkan sejenak aktifitas belajar, karena pemandangan diluar sangat menarik untuk dilihat. Terlintas dibenakku untuk menghubungi Kim, kekasihku. Aku merongoh ponsel yang ada di kantong celanaku, lalu menekan nomor ponsel Kim.
Hallo, Kim! sapaku.
Hallo! Hah? Suara cewek? Aku kaget, ternyata yang mengangkat teleponku bukan Kim.
Hallo, Valeria! sapa cewek itu.
Kim?
seruku.
Maaf, Kim sedang menjalani pemotretan. Jadi dia tidak bisa mengangkat teleponmu. Terangnya.
Ini siapa? tanyaku penasaran.
Nadine. Teman Kim. Jawabnya.
Oh… Kalau Kim memang sedang sibuk, biar nanti saja aku menghubunginya kembali! seruku.
Ok!
Terima kasih! sahutku sambil memutuskan pembicaraan.
Ya, Kim adalah seorang fotografer. Akhir-akhir ini Kim memang disibukkan dengan pekerjaannya itu. Dia memutuskan untuk berhenti kuliah dan menekuni hobi photograpy. Yah, sangat disayangkan, walaupun begitu aku tetap mendukung apapun keputusan yang dia pilih. Tapi, ayah Kim tidak menyetujui jalan hidup yang dipilih Kim. Ayah Kim menginginkan Kim untuk menjadi seorang dokter atau seorang pengusaha muda, seperti beliau. Akibatnya, ayahnya tidak mau tahu lagi mengenai kehidupan dan masa depan Kim. Kim tidak sendirian, karena ada aku yang akan selalu mendukungnya. Aku sayang Kim.
Jam di dinding telah menunjukkan pukul 9 lewat 15 menit, aku bergegas menuju tempat tidur dan menghempaskan tubuhku di atas kasur yang empuk. Saatnya mimpi indah, good nite all!
Paginya, di meja makan sudah terhidang sarapan pagi buatan mama. Mama menyambut kedatanganku.
“Selamat pagi, sayang!”
“Pagi, ma! Muaacch.” seruku sambil mengecup kedua pipi mama.
“Sarapan dulu ya, sayang! Mama udah bikin nasi goreng kesukaan kamu dan segelas susu.” Ungkap mama.
Thank you, ma!”
Saat aku menginap di rumah, mama selalu sibuk sendiri untuk memasak masakan kesukaanku. Yah, walaupun aku harus tinggal di asrama sekolah, sesekali aku bisa menyempatkan diri untuk sekedar makan malam bersama mama.
“Selamat pagi semua!”
“Mike?” seruku kaget dan berlari kearahnya lalu memeluknya.
“Wooo… Vale!” ujarnya.
“Aku merindukanmu!” ungkapku.
Mike adalah temanku. Teman yang 2 tahun belakangan ini melanjutkan study-nya keluar negeri, tepatnya Australia. Aku benar-benar kangen padanya. Aku melepaskan pelukan dan mengacak rambutnya.
“Wah… kamu terlihat keren!” pujiku.
“Tentu saja. Siapa dulu, Mike! Hai tante!” ujarnya sambil tersenyum.
“Hai, Mike. Vale benar, kami merindukanmu!” tambah mama sambil memeluk Mike.
“Aku juga merindukan kalian! Hmmm… wangi sekali, pasti ada nasi goreng kesukaan tuan putri!” ujarnya.
“Kamu laper? Ayo sekalian, kita sarapan bareng!” ajak mama.
“Dengan senang hati, tante!”
“Dasar!” ledekku.
Akhirnya pagi ini aku sarapan ditemani oleh mama dan Mike. Setelah sarapan selesai, aku pergi ke sekolah dan diantar sama Mike. Dalam perjalanan aku dan Mike mengenang kembali masa-masa dulu, Mike juga tidak lupa menceritakan kehidupannya selama berada di Australia. Tidak terasa, aku sudah sampai di halaman sekolah.
Thank you, Mike.”
U’r welcome, tuan putri! Apa nanti siang ada waktu menemaniku mengelilingi kota Bandung?” pintanya.
Sorry. Hari ini aku ada ujian dan malam ini aku harus tetap berada di asrama. Lusa, mungkin aku bisa!” ungkapku.
“Oke. Lusa kita ketemu di sini! Bye-bye!” pamitnya sambil melajukan mobilnya.
Bye!”
Di kamar asrama. Aku menghempaskan tubuhku di atas kasur. Beberapa detik kemudian teman sekamarku, yang juga adalah sahabat terdekatku, Cherry datang dan dia terlihat habis menangis. Entah apa yang telah terjadi padanya? Aku beranjak dari tempat tidur dan mendekatinya.
“Cher, kenapa?”
Tiba-tiba dia memelukku dan menangis dipundakku.
“Hik’s… hik’s… hik’s…”
“Apa yang terjadi?” aku semakin bingung.
“Cher, tenangkan dirimu! Coba ceritakan padaku, apa yang terjadi?” kataku lagi.
“Ramon selingkuh, Val! Aku melihatnya jalan dan bermesraan dengan wanita lain!” ungkapnya.
“Hah? Ramon berbuat seperti itu? Sabar, Cherr! Jangan buang airmatamu untuk pria seperti itu!” ujarku menenangkan Cherry.
“Aku tidak terima perlakuannya itu, Val! Aku kecewa!” kesalnya.
“Udahlah, balas dendam itu ngak ada gunanya, Cherr. Lebih baik kamu tunjukkin ke dia, kalo kamu itu kuat dan bisa menemukan pria yang lebih daripada dia! Jangan seperti ini!” nasehatku.
“Kamu benar, aku harus bisa menemukan pria yang lebih baik! Aku benci dia, Val!”
“Iya, aku tahu! Udah, jangan nangis lagi!” kataku.
“Terima kasih, Val!” ujarnya.
Tiba-tiba ponselku berdering, aku melangkahkan kaki menuju meja belajar. Aku menatap layar ponsel dan ada nama Kim. Aku tersenyum dan mengangkatnya.
Vale! (Sapanya)
Kim! (Seruku)
Iya… ini aku, Kim! (jawabnya)
Hai!
Vale, apa kamu sudah lunch? (Ujarnya)
Hmmm… belum! Apa kamu mau mengajakku keluar untuk lunch? (Tanyaku)
Ya. Ayolah aku sudah lapar!
Tapi, Kim! Aku tidak bisa keluar, besok masih ada ujian. Aku harus belajar! (Seruku)
Hmm… aku sudah membuat spagethi kesukaanmu. Apa kamu tidak mau mencicipinya? Tidak perlu jauh-jauh dari asrama, sekarang aku sudah menunggumu dari tadi di taman belakang sekolah! Datanglah! (pintanya dan memutuskan pembicaraan)
Kim! (Seruku)
Aku memandang Cherry yang masih tersedu-sedu.
“Cherr, Kim sedang menungguku di taman. Apa aku bisa menemuinya sekarang? Kamu sudah lebih baik kan?” tanyaku agak khawatir dengan keadaan Cherry.
“Ya, temuilah Kim! Aku baik-baik saja!” ujar Cherry.
“Ok!”
Aku bergegas menuju taman sekolah. Hanya butuh waktu 5 menit untuk sampai di taman. Dari kejauhan terlihat Kim melambaikan tangannya kearahku. Aku mempercepat langkah kakiku dan segera menghampirinya.
“Kim!” seruku seraya memeluknya.
“Kamu merindukanku kah?” tanyanya.
“Ya, aku sangat merindukanmu!” aku tidak mau melepaskan pelukan ini.
“Aku juga!” serunya.
“Apa hari ini kamu libur kerja?”
“Hmmm… tidak! Aku setiap hari bekerja, tidak ada waktu untuk libur!”
“Oh...” sahutku seraya melepaskan pelukan.
“Ayolah, aku sudah lapar!” ujarnya seraya menarikku menuju meja yang di atasnya telah ada dua piring spagethi dan dua minuman kaleng.
“Ini rasanya sangat enak, aku memasaknya dari hati yang tulus. Karena aku tahu, kamu sangat menyukainya!” ungkapnya.
“Hah? Benarkah makanan ini lezat? Mari kita cicipi!” ajakku seraya mencicipi masakan Kim.
Kim memperhatikan dan menunggu komentarku.
“Bagaimana? Apa ada sesuatu yang kurang?” tanyanya.
“Hmmm… mungkin masakan ini akan lezat jika kamu menyuapiku!” ledekku.
Kim hanya bisa tersenyum mendengar ucapanku. Kim meraih sendok yang ada ditanganku, dan bersiap-siap untuk menyuapiku. Sendok itu sudah berada tepat di depan mulutku, aku membuka mulut. Akhirnya, Kim menarik kembali sendok itu dari hadapanku dan memakan spagethi itu sendiri.
“Kiiiim…” ujarku kesal.
“Hahahaa…” tawanya berhasil menipuku.
Sorry! Tenang nona, suapan berikutnya adalah untukmu!” serunya dan benar kali ini dia menyuapiku.
“Bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanyaku.
“Semuanya berjalan dengan lancar. Dalam waktu dekat ini aku dan teman-teman sedang merancang sebuah event pameran. Semoga saja bisa terwujud!” ungkapnya antusias.
“Amin. Lalu, kapan aku bisa menjadi modelmu?” aku sangat menginginkannya.
Kim hanya tersenyum lalu mengambil kameranya dan mengarahkan kamera kearahku.
“Setiap saat kamu bisa menjadi modelku! Tapi, foto ini bukan untuk publik! Hanya aku yang boleh memandang dan menatap model yang satu ini! Kamu hanya milikku!” ungkapnya sambil memegang pipiku.
“Kamu harus membayar mahal untuk itu, Kim!” terangku.
“Tentu saja! Aku sudah membayarnya dengan masakanku ini!” sahutnya.
Aku melonggo dan bersiap-siap untuk mencubit lengannya.
“Aww… aku hanya bercanda!” rintihnya.
“Kim, Nadine itu siapa?” tanyaku penasaran dengan cewek yang semalam mengangkat teleponku.
“Oh, Nadine adalah temanku. Dia yang mencarikan job dan beberapa orang model. Kamu tahu darimana soal Nadine?” ujarnya balik nanya.
“Semalam aku menelponmu, tapi dia yang mengangkatnya!” ujarku singkat.
Kim meraih ponselnya dan menatap ke layar ponsel. “Dia tidak menceritakannya kepadaku? Ah… mungkin dia lupa! Semalam aku benar-benar disibukkan oleh pemotretan. Vale, sorry!” ungkapnya merasa bersalah.
It’s oke, Kim!” seruku sambil mengacak rambutnya.
“Kim, apakah di hari valentine nanti kamu akan tetap bekerja?” tiba-tiba aku teringat dengan hari kelahirnku.
“Semoga saja tidak. Aku juga ingin dihari valentine nanti menghabiskan waktu bersamamu!” ungkap Kim.
Aku tersenyum mendengarnya. Kim kembali menyuapiku, Kim memperlakukanku seperti seorang putri. I Love Kim Forever.
***
Jam di tanganku menunjukkan pukul 10 pagi, akhirnya ujian ini berakhir juga. Aku lelah dan kelaperan. Cherry mengajakku ke kantin sekolah, dia juga merasakan hal yang sama denganku. Pagi tadi aku dan Cherry tidak sempat untuk sarapan pagi. Sesampainya di kantin sekolah, Cherry menyebutkan makanan yang ingin dipesannya.
“Val, aku mau pesan mie ayam dua mangkuk dan dua teh botol. Ngak pake lama!!!” pintanya.
“HAH? Laper atau doyan? Banyak amat, Cher?” ujarku heran.
“Dua-duanya, Vale! Udah sana, pesan makanannya!”
Oke, wait !” aku meninggalkan Cherry dan lalu memesan makanan.
5 menit kemudian, aku datang dengan membawa makanan yang kami pesan. Cherry sama sekali tidak membantuku.“Cherr, bantuin dong!” pintaku.
Cherry hanya mencibir sambil memainkan ponselnya.
“Ini pesanannya tuan putri!” ujarku sedikit kesal.
Thank you!” sahutnya sambil tersenyum.
“Untung aja ya, aku punya satu teman seperti kamu! Satu-satunya yang paling menyebalkan!” kesalku.
Cherry hanya cengegesan mendengar keluhanku. Tiba-tiba ponselku berdering, ada panggilan masuk dari Mike, aku langsung menekan tombol hijau.
Mike! (Sapaku)
Hai, tuan putri! Apa nanti sore kamu ada acara? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat! (Ungkapnya)
Hmmm… sepertinya, aku mau ikut denganmu! Aku di sini juga sudah merasa jenuh dan bosan! Jam berapa kamu akan menjemputku?
Jam 3 sore, di parkiran sekolah! Tunggu disana! (Pintanya)
Ok. See you, Mike!
See you!
“Vale, sudah punya pacar, tapi masih saja jalan sama cowok lain! Apa Kim tidak cemburu dengan hal ini?” selidik Cherry.
“Cherr, Kim mengenal Mike! Dan aku sama Mike cuma temenan doang, ngak lebih! Jangan negative thinking deh!” aku kesal mendengar ucapan Cherry.
Sorry, just kidding, Vale!”
Aku menyantap makananku dengan rasa kesal melihat tingkah Cherry hari ini.
***
Pukul 3 sore, di parkiran sekolah. Aku menunggu kedatangan Mike. Sudah pukul 3 lewat 15 menit, namun Mike belum juga datang. Ah! aku paling sebal kalau harus berada dalam situasi saat ini. Menunggu adalah hal yang paling membosankan. Tunggu! Itu dia, Mike. Mike tepat memarkir mobilnya di depanku, lalu dia turun dari mobil dan menghampiriku.
Sorry, Val! Aku telat!” pintanya.
“Oh…” aku melangkahkan kaki menuju mobilnya.
“Vale… sorry!” serunya.
It’s oke, Mike! Kamu mau mengajakku kemana?” tanyaku.
“Kemanapun yang kamu inginkan!” Mike merayuku.
“Hmmm… jangan bercanda Mike!” keluhku.
“Kita akan pergi makan dan jalan-jalan seputar kota Bandung. Kita jalan sekarang, tuan putri!” ajaknya.
Aku mengangguk dan tidak lupa untuk memasang sabuk pengaman. Aku dan Mike menikmati suasana sore hari kota Bandung. Wisata kuliner dan membeli beberapa pernak-pernik yang lucu.
***
Jam 8 malam di parkiran sekolah. Kim dari jam 5 sore menunggu kedatangan Vale, Kim ditemani Cherry. Cherry menceritakan perihal kemana Vale pergi dan bersama siapa.
“Kim, apa ponsel Vale sudah bisa dihubungi?” Tanya Cherry.
Kim hanya menggelengkan kepala.
“Mungkin ponselnya lowbat. Atau kamu hubungi Mike saja?”  usul Cherry.
“Tidak perlu, Cherr. Biar aku menunggunya disini!”
“Oh… baiklah! Biar aku temani!” kata Cherry.
Thank you!” ujar Kim sambil tersenyum. Cherry pun membalas senyuman Kim.
Tidak terasa jam ditangan telah menunjukkan pukul 11 malam. Kim masih setia menunggu Vale di parkiran sekolah. Cherry tidak tahan menahan kantuknya, sehingga dia tertidur di salah satu kursi yang tersedia di parkiran. Akhirnya yang ditunggu pun datang juga. Mobil BMW berwarna silver memasuki halaman parkir dan Mike memarkir mobilnya tepat di sebelah Honda Jazz berwarna putih milik Kim.
“Val… Val… Vale… bangun! Kita sudah sampai di asrama!” kata Mike.
“Hhhh… ada apa Mike?” ujarku seraya membuka mata perlahan-lahan.
“Kita sudah sampai! Vale, Kim menunggumu di luar!”
“Hah? Kim?” seruku sambil melihat keluar kaca jendela mobil. Dan benar ada Kim yang sedang berdiri tepat disebelah mobilnya. Cherry juga ada disana, tapi dalam keadaan tertidur pulas. Aku turun dari mobil Mike dan melangkahkan kaki menuju Kim.
“Kim.” Seruku.
“Hai!” sahutnya sambil tersenyum.
“Apa yang kamu lakukan disini?” tanyaku penasaran.
“Menunggumu.” Jawabnya singkat.
“Kenapa tidak menghubungiku?”
Kim menyodorkan ponselnya dan memperlihatkan panggilan keluar yang dilakukannya untuk menghubungiku. Aku merongoh ponselku  dari dalam tas dan melihat ponselku yang mati total.
“Ponselku mati total! Sorry, Kim!” pintaku sambil memegang tangan kanannya.
It’s ok!” sahutnya singkat.
“Val… aku balik dulu ya! Thank you, buat hari ini !” pamit Mike.
“Ya, makasih juga Mike! Be careful!” seruku.
Mike telah pergi dan aku melirik Kim, “Sorry! Mike mengajakku untuk berkeliling kota Bandung. Dia sudah lama tidak merasakan suasana kota Bandung, jadi dia memintaku untuk menemaninya!”
“Kasihan Cherry, Val! Dia ikut menemaniku menunggu kamu, akhirnya dia ketiduran disana!” ungkap Kim.
Aku melirik Cherry, lalu melangkahkan kaki menujunya.
“Cherry, bangun Cherr!” ujarku seraya memegang bahunya.
Cherry perlahan membuka matanya, “Hhhh… aku dimana?” tanyanya.
“Parkiran sekolah. Kembalilah ke kamar, disini sangat dingin! Sorry, Cherr!” ungkapku.
“Hmmm… Kasihan Kim, dia telah menunggu tuan putrinya dari jam 5 sore sampai sekarang! Aku balik ke kamar duluan ya, udah ngantuk berat!” bisik Cherry
“Kim, aku duluan ya! See you!” ujar Cherry sambil meninggalkan kami.
Bye, Cherr!” sahut Kim.
“Kim, apa kamu marah padaku? Aku dan Mike hanya teman, dan kamu tahu hal itu kan?” terangku. Aku tidak ingin Kim membenci Mike dan juga tidak ingin Kim salah paham atas kedekatanku dengan Mike.
I know! Tidak perlu dijelaskan berulang kali! Overall, it’s ok dear!” ujarnya.
“Hmmm… lalu ada keperluan apa kamu rela menungguku sampai jam segini?” tanyaku penasaran.
“Oh. Wait!” Kim membuka pintu mobilnya dan mengambil sesuatu.
Kim menyerahkan sebuah undangan pameran foto untukku. Yang akan diadakan lusa, pada pukul 10 pagi.
“Kim, akhirnya salah satu keinginanmu terwujud juga!” ujarku seraya tersenyum dan memeluknya.
“Selamat sayang! Aku sangat senang mengetahui berita bahagia ini!” ungkapku.
“Ini semua berkat dukunganmu! Yang dari awal dan sampai sekarang selalu mendukung semua kegiatanku! Thank you, Vale!” ungkap Kim.
Tidak terasa airmata jatuh di atas pipiku. “Kim…” seruku terharu.
“Valeria, apa kamu menangis?” Tanya Kim. Kim ingin melepas pelukanku dan ingin melihat wajahku.
“Jangan, Kim! Biarkan aku tetap memelukmu!” pintaku.
Kim mengangguk dan memelukku dengan erat. “Ini adalah berita bahagia, tidak seharusnya kamu bersedih!” terangnya.
“Aku bahagia dengan cara seperti ini. Kim, aku sangat menyayangimu!” ungkapku.
“Ya… Aku juga menyayangimu, Vale!” Kim membelaiku dengan lembut.
Rasanya aku tidak ingin melepaskan pelukan ini sampai kapanpun. Aku sangat mencintai Kim.
***
            Minggu, 10 Februari 2013.
            Siang ini aku mengunjungi Kim di studio pemotretan. Dari kejauhan aku melihat Kim yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Aku tidak langsung menghampirinya. Tiba-tiba seseorang menyapaku, “Valeria!”
            Aku menoleh dan tersenyum kearah orang itu. “Hai!”
            “Aku, Nadine!” ujarnya sambil menyodorkan tangan kanannya.
            Aku meraihnya, “Valeria. Senang berkenalan denganmu, Nadine!”    
            Nadine menatapku dengan lembut. Kuakui dia memiliki postur tubuh seperti seorang model, kulitnya yang bersih dan senyumannya yang bikin semua orang terpana melihatnya.
            “Ada janji dengan Kim?” tanyanya.
            Aku menggelengkan kepala, “Aku hanya ingin melihat dia dengan kesibukkannya. Sepertinya, Kim setiap hari menikmati kesibukannya ini. Benar tidak?”
            “Ya, kamu benar. Kim sangat menikmatinya.”
            Aku merasakan sesuatu yang beda dari tatapan Nadine saat melihat Kim. Apa maksud tatapan itu? Apa dia menyukai Kim? Huff… Vale, come on positive thinking. Kim hanya mencintaimu, Vale.
            Akhirnya, Kim menyadari kehadiranku. Dia tersenyum dan segera menghampiriku.
            “Vale…” serunya sambil mencium pipiku.
            “Hai.” Sahutku.
            “Nad…” sapa Kim kepada Nadine.
            “Hai, Kim. Bagaimana dengan persiapan pameran besok?” Tanya Nadine.
            “Persiapannya baru 80 %. Beberapa hasil karyaku sudah kuserahkan pada Allan. Semoga pameran besok lancar dan sukses.” Ungkap Kim.
            “Amin. Okay, see you tomorrow. Aku harus kembali ke kantor. Bye!” pamit Nadine.
            Be careful!” seru Kim.
            “Nadine cantik ya, Kim.” Ujarku.
            “Hah? Vale, di mataku hanya kamulah yang paling cantik.” Puji Kim sambil mengacak-acak rambutku.
            Really?” seruku.
            Kim mengangguk, “You’r beautyfull. Muaccch…” sambil mencium pipiku.
            “Kim…” seruku sambil mencubit lengannya.
            “Vale, apa kamu sudah lunch? Aku lapar sekali!”
            “Belum. Kasihan, pangeranku kelaparan. Kita cari makan sekarang yuk!” Ledekku.
            “Ok. Let’s go!” ajak Kim.
                                                                        ***
            Pameran foto yang digelar Kim dan teman-temannya, sukses tanpa ada hambatan, kendala dan gangguan. Hasilnya sangat memuaskan. Aku senang melihat keberhasilan Kim kali ini. Aku menghampiri Kim.
            “Kim.” Seruku.
            Kim menoleh dan tersenyum. “Hai, sayang!” sahutnya sambil mencium pipiku.
            Congratulations. Kamu hebat, Kim!” pujiku.
            Thank you. Berkat dukungan kamu juga kan?”
            Aku tersenyum mendengarnya. “Juga karena usaha dan kerja keras kamu! Kim, kita harus merayakan keberhasilan kamu hari ini?”
            “Tentu. Kita harus merayakannya!” Kim setuju.
            Malam harinya Kim mengajakku makan malam di kediamannya. Tentunya, menu masakan malam ini Kim yang memasaknya. Aku dengan sabar menunggu hidangan di meja makan. Beberapa detik kemudian, Kim datang dengan membawa masakan favoritku, spagethi ala Kim.
            “Hmmm… yummy!” seruku seakan-akan spagethi tersebut sudah berada di mulutku.
            Tiba-tiba ponsel Kim berdering, ada panggilan masuk dari Nadine. Kim memandangku, “Aku angkat teleponnya sebentar ya!” ujarnya.
            Aku mengangguk. “Huh… kenapa selalu ada yang menganggu saat aku bersama Kim?” batinku kesal.
            Beberapa menit kemudian, Kim kembali menghampiriku.
            Aku penasaran, “Telepon dari siapa?” tanyaku.
            “Nadine.” Sahutnya.
            “Lalu?”
            “Bukan hal yang penting. Kita makan sekarang ya! Cobain deh, pasti masakannya makin lezat!” ajaknya.
            Aku menurutinya dan lagipula aku juga tidak mau merusak suasana hati Kim yang sedang berbahagia dengan rasa penasaranku ini. Ada apa antara Kim dan Nadine? Tiba-tiba Kim menyuapiku seraya tersenyum, berharap aku memuji masakannya.
            “Bagaimana rasanya? Apakah ada yang kurang?” tanyanya.
            “Hmmm… lezat banget!” pujiku sambil mengacungkan dua jempol.
            Really? Aku benar-benar hebat bukan?” bangganya.
            “Of course, dear!” sahutku dan sekarang gantian aku yang menyuapinya.
            “Yummi…” serunya.
            Aku berharap setiap hari aku dapat melewati hari-hariku bersama Kim. Aku bahagia saat Kim selalu disampingku. Menemaniku dalam suka maupun duka dan sebaliknya aku pun melakukan hal yang sama. Always Kim forever.
                                                            ***
            Rabu, 13 Februari 2013.
            Di asrama sekolah tepatnya di kamarku dan Cherry. Cherry sibuk dengan gaun barunya. Ya, malam ini adalah malam valentine days. Malam dimana orang-orang mencurahkan kasih sayangnya kepada pasangannya. Ya, tidak harus menunggu valentine days untuk melakukan semua itu. Dihari-hari biasa pun semua orang bisa melakukannya.
            “Vale, bagaimana pendapatmu dengan gaunku ini?” Tanya Cherry sambil memutar-mutar badannya.
            “Hmmm… bagus dan warnanya cocok dengan kulitmu. Beli dimana?” tanyaku sambil memperhatikan Cherry yang terlihat anggun dengan gaun pink yang dikenakannya.
            “Gaun ini hadiah dari Alan.”
            “Alan? Siapa dia?” aku penasaran dengan pria bernama Alan.
            “He is my boyfriend!” ungkapnya.
            “WAW… Cherry memang keren. Dalam beberapa hari dapat menemukan pengganti…” belum selesai aku menyebutkan nama mantannya, Cherry memotong pembicaraanku.
            “STOP!!! Jangan pernah menyebut namanya lagi!” perintah Cherry.
            “Up’s sorry!” pintaku.
            “Hei, bukankah malam ini adalah hari ulang tahunmu sekaligus malam valentine days. Hmmm… apa yang akan kamu lakukan nanti malam? Oh ya, pasti dinner with pangeran Kim? Iya kan ?” cerocos Cherry ingin tahu.
            Aku terdiam mendengar pertanyaan Cherry yang begitu banyak. Terakhir kali aku bertemu Kim, saat makan malam bersamanya. Hari ini Kim belum menelponku, aku tahu dia pasti sangat sibuk dengan pekerjaannya.
            “Kim sibuk!” lirihku.
            Come on, Vale! Besok adalah hari ulang tahunmu, mana mungkin dia membiarkanmu melewatinya sendirian?” protes Cherry.
            I don’t know, Cherr!” sahutku.
            Cherry meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. Beberapa menit kemudian…
            Hei, Kim! Apa kamu setiap hari harus bekerja? (Cherry)
            Aku kaget dan melangkahkan kaki kearah Cherry berdiri.
            “Cherr, apa yang kamu lakukan?” bentakku.
            Apa kamu akan membiarkan Vale melewati malam ini sendirian? Come on, Kim? (Cherry)
            Tolong berikan ponselmu padanya! (Kim)
            Cherry menyodorkan ponselnya padaku. “Kim ingin berbicara denganmu!” ujar Cherry.
            Hallo!
            Vale, maaf!
            Untuk apa?
            Aku tidak bisa menemanimu di malam valentine kali ini. Sorry!
            Aku terperangah dan terdiam. Rasanya air mataku beberapa detik lagi akan menetes.
            Why?  (Aku)
            Tadi pagi aku berangkat ke Surabaya, ada kerjaan penting di sini. Aku diundang untuk melakukan pemotretan! Sorry, sebelumnya aku tidak memberitahumu! (Kim)
            Aku tidak tahu harus mengatakan apalagi. Aku hanya bisa terdiam, tidak terasa air mata membasahi pipiku. Cherry memandangku dan mengusap air mataku.
            “Vale…” serunya.
            Aku menyerahkan ponsel Cherry, sementara Kim belum memutuskan pembicaraan.
            Kim, apa yang kamu lakukan? (Cherry)
            Apa dia menangis? (Kim)
            Menurutmu? (Cherry)
            Maaf, aku telah membuat hatinya terluka! (Kim)
            Apa hidupnya hanya untuk bekerja, bekerja dan bekerja? Kenapa kamu tidak menghargai perasaan Vale? Apa itu yang dinamakan cinta? Kim, aku kecewa denganmu! (Cherry)
            Cherry  memutuskan pembicaraan lalu melangkahkan kaki mendekatiku yang sedang duduk di atas ranjang.
            “Vale, sorry! Seharusnya aku tidak menghubunginya!” ujar Cherry.
            It’s ok, Cherry!” lirihku.
            Malam harinya, Cherry telah siap untuk pergi makan malam bersama Alan. Aku tinggal sendirian di kamar. Aku tidak semangat untuk bepergian keluar, lagipula tidak ada yang menemaniku. Malam ini aku kesepian dan hanya ditemani oleh bintang di atas langit. Ku duduk di pinggir jendela dan memandang ke atas langit. Pemandangan malam ini sangat indah, tanpa terasa air mata menetes di pipiku.
            Jam di dinding kamarku menunjukkan pukul 23.30 WIB, aku telah berbaring di atas tempat tidur. Aku melirik tempat tidur Cherry, dia belum juga pulang. Cherry beruntung, karena bisa melewati malam valentine bersama orang yang disayanginya. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk oleh seseorang. Siapa itu jam segini mengetuk kamar orang, kalau itu Cherry, dia pasti langsung masuk karena dia memiliki kunci kamar ini.
            Aku melangkahkan kaki menuju pintu dan perlahan pintu itu kubuka. Aku tidak menemukan sosok yang mengetuk pintu.  Mataku tertuju  ke lantai, dimana di lantai itu ada sebuket mawar merah. Aku mendekatkan buket itu ke depan hidungku dan mengendus baunya. Bau tajam bunga mawar serta-merta menyergap hidungku. Buket mawar ini indah sekali. Siapa yang meletakkan bunga ini di depan pintu kamarku? Sejuta tanya hadir dibenakku.
            Aku melihat ada secarik kertas yang terselip dalam bunga mawar ini.
            Aku menunggumu di taman sekolah! Temui aku, now!
            Kulangkahkan kaki menuju taman sekolah dan aku mengenggam erat buket mawar ini. Beberapa menit kemudian aku sampai di taman sekolah. Aku terperangah melihat di sekitar taman sekolah terpajang foto-fotoku. Aku mencari sosok yang memintaku datang ke taman ini, tapi ku tak menemukannya.
            “Apa kamu mencariku?”
            Suara itu tidak asing di telingaku. Suara orang yang sangat kucintai, Kim.
            “Kim…” lirihku sambil membalikkan badanku.
            Kim tersenyum. “Aku tidak mau kamu melewati malam ini dengan air mata. Aku akan selalu ada bersama kamu. Karena aku mencintai Valeria!” ungkap Kim.
            Aku mendekati Kim dan memeluknya dengan erat. “Bunga ini indah sekali, Kim. Aku menyukainya. Thank you!” ungkapku dan untuk kesekian kalinya air mata jatuh di pipiku. Air mata bahagia, karena malam ini aku tidak melewatinya sendirian.
            “Maafkan aku! Aku telah membohongimu. Ini semua ide aku dan Cherry. Sorry, Vale!” pinta Kim.
             Lalu Kim menjelaskan semua sandiwara yang dimainkannya, tentunya dibantu oleh Cherry. Kedekatan Kim dan Nadine semuanya hanya sandiwara. Aku benar-benar cemburu saat Kim dekat dengan Nadine. Aku kesal dan ingin melampiaskan kekesalanku pada Kim.
            “Aku kesal tapi dibalik semua ini, aku sangat bahagia. Karena ada kamu disisiku. Aku mencintaimu, Kim!” ungkapku.
            “Aku juga mencintaimu! Forever with u!” sahutnya.
            Jam menunjukkan pukul 00.00 WIB.
            Happy birthday… Valeeee!” seru Cherry.
            Aku kaget mendengar suara Cherry. Ternyata dia juga berada di taman dan disampingnya ada seseorang, pastinya itu cowok yang bernama Alan. Cherry memelukku dan mengucapkan selamat untukku.
            Happy birthday, sayang!” ujar Kim..
            Thank you…” seruku. Aku benar-benar bahagia malam ini, karena di malam valentine ini aku mendapatkan kasih sayang yang begitu berlimpah dari orang-orang yang menyayangiku. Terima kasih untuk semuanya. Semua perhatian dan  kasih sayang yang kalian berikan untukku. Forever with Kim, because I love Kim.
                                                                        -END-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar