Rabu, 27 Maret 2013

BAHASA JURNALISTIK


MENULIS PARAGRAF JURNALISTIK
A.    DEFINISI PARAGRAF JURNALISTIK
Definisi Paragraf jurnalistik menurut ahli bahasa:
1. Djago Tarigan
Paragraf adalah seperangkat kalimat tersusun logis-sistematis yang merupakan satu kesatuan ekspresi pikiran yang relevan dan mendukung pikiran pokok yang tersirat dalam keseluruhan karangan.
2. Gorys Keraf
Paragraf adalah suatu kesatuan pikiran atau suatu kesatuan yang lebih luas dari kalimat.

Paragraf  jurnalistik adalah seperangkat kalimat tersusun logis-sistematis yang merupakan satu kesatuan ekspresi pikiran yang relevan dan mendukung pikiran pokok yang tersirat dalam keseluruhan paparan materi jurnalistik.
Paragraf jurnalistik menunjuk kepada paragraf yang berpijak kepada proses dan hasil karya jurnalistik. Paragraf jurnalistik berada dalam ruang-lingkup serta tunduk kepada kaidah bahasa jurnalistik. Jika suatu paragraf mengandung unsur materi jurnalistik, misalnya tajuk rencana, karikatur, pojok, artikel, kolom, berita, teks foto berita, wawancara, feature, maka paragraf itu disebut paragraf jurnalistik.

B.     KARAKTERISTIK PARAGRAF JURNALISTIK
1. Memiliki satu ide pokok
Paragraf jurnalistik yang baik hanya memiliki satu gagasan pokok dalam keseluruhan kalimat. Gagasan pokok bisa ditempatkan pada awal paragraf, bisa pada akhir paragraf, tetapi sedikit sekali yang ditempatkan pada tengah paragraf.
2. Dibangun oleh sejumlah kalimat
Panjang-pendeknya paragraf ditentukan oleh pertimbangan latar belakang pembaca dan faktor  isi-sifat media yang dipilih.
3. Kesatuan ekspresi pikiran
Paragraf merupakan satuan terkecil dari sebuah wacana. Pada paragraf sudah terdapat adanya satu kesatuan ekspresi pikiran dan perasaan mengenai gagasan sentral apa yang ingin disampaikan penulis atau jurnalis kepada pembaca.
4. Kesatuan koheren dan padat
Kesatuan sebuah paragraf jurnalistik bukan hanya terletak pada bentuknya sebagai kumpulan kalimat yang ditandai dengan penulisan awal paragraf yang menjorok ke dalam 5-7 ketukan, melainkan juga pada kepaduan materi isi dan gagasannya.
Sebuah paragraf jurnalistik disebut padat apabila memuat banyak informasi.
5. Logis dan sistematis
Paragraf jurnalistik yang baik, disusun secara tertib, teratur, dan merujuk kepada kaidah logika.

C.     FUNGSI PARAGRAF JURNALISTIK
1. Penampung ide pokok
Fungsi paragraf jurnalistik, secara teknis ialah menampung ide pokok yang hendak disampaikan penulis atau jurnalis kepada pembaca.
2. Memudahkan pemahaman jalan pikiran
Pembaca dapat mengetahui jalan pikiran penulis atau jurnalis, dengan cara menyimak kata demi kata, dan kalimat demi kalimat yang terdapat dalam satuan-satuan paragraf pada karya-karya jurnalistik yang ditulis dan disajikannya dalam media massa.
3. Melahirkan jalan pikiran sistematis
Penulis atau jurnalis mampu melahirkan karya-karya jurnalistik bermutu tinggi. Karya jurnalistik bermutu tinggi  dapat dilihat dan diperiksa pada jalan pikiran yang muncul dalam setiap kalimat dan paragraf jurnalistik yang ditulisnya.
4.Mengarahkan pembaca ikuti alur penulis
Seorang penulis atau jurnalis yang baik akan mengarahkan, memandu, sekaligus mengikat pikiran dan perasaan pembaca, pendengar, atau pemirsanya untuk hanya mengikuti jejak-langkahnya.

D.    UNSUR-UNSUR PARAGRAF JURNALISTIK
1. Transisi
Transisi berarti peralihan dari paragraf yang satu ke paragraf berikutnya. Transisi menghubungkan dua paragraf yang berdekatan. Transisi bisa berupa kata, bisa juga berupa kalimat. Dalam bahasa jurnalistik, tidak ada ketentuan apakah setiap paragraf
harus memakai transisi.
2. Kalimat Topik
Kalimat topik dalam bahasa jurnalistik disebut kalimat utama.
3. Kalimat Pengembang
Kalimat pengembang dalam jurnalistik disebut sebagai kalimat penjelas. Kalimat utama yang diberi penjelasan dan uraian penekanan serta contoh-contoh pada kalimat-kalimat berikutnya dalam satu paragraf yang sama, itulah yang disebut dengan kalimat pengembang. Kalimat pengembang merupakan penjabaran atau perluasan dari gagasan pokok yang terdapat pada kalimat utama.
4. Kalimat Penegas
Dimaksudkan untuk memberi penegasan atau penekanan terhadap apa yang telah dinyatakan dalam kalimat utama.

E.     JENIS-JENIS PARAGRAF JURNALISTIK
1. Paragraf Deduktif
Paragraf yang dimulai dengan kalimat utama disusul dengan penjelasan atau uraian secara lebih perinci dengan mengikuti pola urutan pesan dari umum ke khusus.
2. Paragraf Induktif
Paragraf yang dimulai dengan kalimat penjelas yang menekankan bagian-bagian terkecil disusul dengan penjelasan bagian-bagian yang lebih besar sebelum kemudian diakhiri dengan kesimpulan atau kalimat penegas.
3. Paragraf Campuran
Merupakan gabungan beberapa unsur paragraf deduktif dan paragraf induktif. Bahasa jurnalistik kurang menyukai paragraf campuran karena cenderung menyulitkan pembaca, pendengar untuk cepat mengambil kesimpulan mengenai pokok pikiran yang terdapat dalam suatu paragraf.
4. Paragraf Perbandingan
Suatu paragraf disebut paragraf perbandingan apabila kalimat utama yang biasanya ditempatkan pada awal paragraf, membandingkan dua hal mengenai unsur-unsur sifat atau keadaan yang terdapat di dalamnya.
5. Paragraf Pertanyaan
Paragraf yang bertujuan untuk mempertanyakan atau menggugat sesuatu dengan mengajukan kalimat Tanya pada kalimat pertama atau kalimat kedua di awal paragraf jurnalistik.
6. Paragraf Sebab-Akibat
Paragraf yang disusun berdasarkan urutan logis disebut paragraf sebab-akibat. Artinya, kalimat utama dalam paragraf dikembangkan ke dalam urutan sebab dan akibat.
7. Paragraf Contoh
Paragraf yang disusun dengan menunjukkan banyak contoh pada kalimat utama, kalimat pengembang dan kalimat penjelas. Fungsi utama paragraf contoh tidak dimaksudkan untuk menekankan suatu gagasan, tetapi justru untuk memberikan gambaran sesuatu hal secara konkret kepada pembaca.
8. Paragraf Perulangan
Paragraf yang melakukan pengulangan kata, istilah, frasa, atau klausa dalam susunan kalimat yang berbeda tetapi masih dalam satu paragraf jurnalistik yang sama. Fungsi paragraf perulangan terutama dimaksudkan untuk lebih menekankan efek psikologis yang ingin dicapai dari khalayak pembaca, sekaligus menunjukkan variasi kata dan kalimat.
9. Paragraf Definisi
Paragraf yang menunjukkan suatu istilah atau konsep pada kalimat utama dan istilah atau konsep itu masih memerlukan uraian serta penjelasan perinci pada kalimat-kalimat berikutnya. Fungsinya untuk memperjelas suatu istilah, konsep, atau definisi sehingga pembaca diharapkan dapat mengikuti jalan pikiran si penulis atau jurnalis.

F.      KUALITAS PARAGRAF JURNALISTIK
1. Satu hal saja
Paragraf jurnalistik yang baik hanya memusatkan bahasan pada satu hal atau satu ide saja.
2. Relevan
Relevan artinya berkaitan atau sesuai dengan pokok bahasan, tidak menyimpang dari topik.

3. Menyatu dan padu
Paragraf jurnalistik harus memenuhi prinsip kesatuan dan prinsip pertautan. Prinsip kesatuan mencakup tiga unsur: sifat, isi, tujuan. Artinya, masalah apa pun yang kita kupas dalam karya jurnalistik tidak boleh keluar dari koridor ini. Prinsip pertautan menunjukkan tentang keharusan pesan yang kita uraikan mengalir lancar dari kalimat yang satu ke kalimat yang lain.
4. Jelas dan sempurna
Kalimat utama yang terdapat dalam paragraf jurnalistik harus dikembangkan dan diperinci dengan jelas dan sempurna.
5. Harus bervariasi
Variasi pada paragraf jurnalistik terletak pada pilihan kata atau diksi, penempatan frasa atau klausa, penempatan panjang-pendeknya kalimat atau paragraph, penentuan kalimat efektif, dan pemilihan gaya bahasa.
6. Benar dan baik
Bahasa jurnalistik merujuk sekaligus tunduk kepada kaidah bahasa baku. Pertama, bahasa jurnalistik harus benar menurut kaidah tata bahasa. Kedua, bahasa hurnalistik juga harus baik menurut pertimbangan situasi dan kondisi sosiologis, psikologis, dan etis.
7. Singkat padat
Paragraf jurnalistik juga wajib disajikan secara singkat dan padat. Singkat berarti hanya menggunakan kata-kata yang penting, terukur, fungsional. Singkat juga berarti tidak menyebabkan pembaca kehilangan banyak waktu berharga untuk menyimak karya jurnalistik kita.
8. Logis dan sistematis
Logis berarti sesuai dengan atau dapat diterima menurut pertimbangan akal sehat. Sistematis berarti deretan kata dan kalimat yang terdapat dalam setiap paragraf jurnalistik, tertata dengan baik, dan runtut.
9. Memiliki karakter khas
Karya-karya jurnalistik harus memiliki karakter tertentu. Karakter itu hanya mungkin muncul dalam paragraf-paragraf jurnalistik apabila kita sebagai penulis atau jurnalis, sejak awal memiliki dan mengembangkan karakter atau gaya penulisan yang khas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar