Rabu, 19 Juni 2013

PART 8


 
Jam 8 malam di Café milik Devi. Devi membawakan sebuah lagu milik Rossa Hati Yang Kau Sakiti.
 Jangan pernah katakan bahwa cintamu hanyalah untukku, karna kini kau telah membaginya. Maafkan jika memang kini harus ku tinggalkan dirimu karna hatiku selalu kau lukai. Tak ada lagi yang bisa kulakukan tanpamu,ku hanya bisa mengatakan apa yg kurasa, ku menangis membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku.kau duakan cinta ini, kau pergi bersamanya… hoohoooo…..ku menangis melepaskan kepergian dirimu dari sisi hidupku,harus selalu kau tahu, akulah hati yang telah  kau sakiti……..” Devi menyanyikannya dengan penuh penghayatan.
Pengunjung Café pun memberikan applause untuk penampilan Devi malam ini.
“Proookk…prokkk.prookkk…!” Devi menghampiri Lucki yang malam ini melihat penampilannya.
 “Good Job! Suara kamu bener-bener Istimewa,Dev.” Ungkap Lucki.
“Makasie,Ki. Tumben bisa lihat perform aku? Biasanya kan sibuk mulu.” Sahut Devi.
“Ya, pengen aja lihat kamu nyanyi, dengerin suara kamu. Keren !!” puji Lucki.
“Devi…” sapa seseorang dan membuat Devi membalikkan badannya ke orang yang  menyapanya. Devi sejenak terdiam,”Wenda!” lirihnya.
 Lucki yang ada di Café pun kaget melihat kehadiran Wenda. Devi dan Wenda pun berbicara agak serius. “Untuk apa kamu datang kesini?” Tanya Devi memulai pembicaraan.
 “Untuk Sadam!” Devi kaget dan bingung. “Dev, saat ini Sadam butuh kamu!”
 “Lebih baik kamu pergi! Aku ngak mau bahas masalah ini lagi!” perintah Devi.
“Tapi,Dev…”
“Wen,cukup! Aku ngak mau ungkit masa lalu itu! Aku udah restuin kamu dan Sadam!” ungkap Devi. “Berhenti gangguin aku! Jangan datang kesini lagi!” Devi pun meninggalkan Wenda.
“Dev,Sadam butuh kamu. Bukan aku!” batinnya.
Dirumah Angel. Angel baru saja sampai dirumah,setelah tadi sore menemui Gigi. “Udah malem, gue balik dulu ya!” ujar Randy. “Eh,,,tapi loe bisa turun sendiri ngak? Tanya Randy.
Angel hanya diam, tiba-tiba Devi pulang diantar sama Lucki.
“Makasie,Ki!” sahut Devi dan turun dari mobil.
“See you,Dev! Salam buat Angel dan Anisa.!” Devi mengangguk dan mobil Lucki melaju dengan cepat meninggalkan Devi yang masih berdiri didepan gerbang.
“Ka Devi,diantar sama Lucki?” lirih Randy dan menatap Angel.
Devi memasuki halaman rumah, “Hei,Angel,Randy… kok berdiri diluar?”
“Hei Ka…” sahut mereka bersamaan. “Tadi Angel dari rumah Gigi.”
 “Sendirian?” Tanya Devi lagi.
“Ngak,Ka. Aku pergi sama Randy!” sahutnya.
“Hmm.. kamu bener-bener jagain Angel yah? Makasie banyak ya,Ran!” ucap Devi.
“U’r Welcome!” sahut Randy.
 “Oh ya,Ka Devi baik-baik aja kan?” pertanyaan Randy membuat Devi kaget. “Loh.emangnya kenapa ,Ran?”
“Ngak,Cuma mastiin aja kalo Kakak baik-baik aja!” Angel menatap Randy dan berharap Randy ngak nanya yang macam-macam.
“Oh…” kata Devi manggut-manggut.
 “Ya,udah. Randy pamit ya Ka, udah malam! Ngel, besok gue kesini lagi,jangan tidur larut malam yah!” pinta Randy dan pamit.Angel hanya menganggu.
 “Randy,baik ya dek? Randy suka sama kamu ya?” Tanya Devi dan membuat Angel kaget.
“Haaah? Kok kakak berpikiran seperti itu?”
“Just ask. Udah kita kedalam yuk. Disini dingin!” Devi pun mendorong kursi roda Angel.
                                                            ************

Jam 10 pagi, Randy telah sampai dirumah Angel.
“Pagi semua!” sapa Randy. Saat melihat Anisa dan Angel.
“Ka Devi mana?’ Tanya Randy.
“Udah pergi ke Café. Tumben nanyain Ka Devi?” ujar Anisa.
“Hoh… bareng Lucki ya?” pertanyaan itu membuat Anisa bingung.
 “Maksudnya?”Anisa melirik Angel. Angel mengalihkan pandangannya ke televisi.
“Nis, gue boleh nanya sesuatu ngak?” Tanya Randy lagi. “Yaa..boleh.” sahut Anisa.
 “Tangan loe itu bukan karena jatuh karena kesalahan sendiri kan? Maksud gue, kesalahan orang lain. Seperti ada yang sengaja bikin loe jadi begitu.” Ungkap Randy dan membuat Anisa makin gugup.
 “Ehh… apa alasan kamu bisa ngomong seperti itu?” Anisa menatap Randy.
“Keadaan Angel yang sekarang ini bukan kesalahan dia sepenuhnya,begitu juga dengan loe!” Anisa tambah bingung.
“Randy, cukup! Jangan bahas masalah itu lagi!” pinta Angel setengah berteriak. Anisa kaget mendengar Angel berbicara. “Ngel…! Apa maksudnya?” Tiba-tiba handphone Anisa berbunyi.
“Anisa,ini Egi. Nis,kamu sekarang juga ke rumah sakit ya! Emergency!” Egi  pun memutuskan telepon. “Egiii…hallo! Ada apa lagi?” seru Anisa bingung.
 “Kenapa Ka?” ujar Angel. “Kita ke rumah sakit sekarang ya!” Angel dan Randy bingung. Merekapun segera menuju rumah sakit.
Sesampai dirumah sakit, Anisa,Angel dan Randy kaget melihat orang yang terbaring diranjang. “Ka Devi…” seru mereka bersamaan. Angel dan Anisa mendekati Devi. “Kakak kenapa bisa begini?” Tanya Angel.
“Kakak ngak apa-apa kok,dek!” lirih Devi. Angel jadi menangis, “Jangan sedih,dek!” pinta Devi dan menghapus airmata Angel.
“Ka…” Anisa memeluk Devi.
“Egi,apa yang terjadi?” bisik Randy.
“Tadi gue ke Café Devi, saat lagi makan. Tiba-tiba ada beberapa orang datang dan menghancurkan Café. Devi marah dan bertengkar dengan salah satu dari mereka. Akhirnya mereka bikin Devi seperti ini. Dan saat gue nolong Devi,teman Devi datang dan bantu gue menghajar orang-orang itu.” Jelas Egi.
“Café kita jadi hancur dan berantakan,dek!” ucap Devi. Randy geram dan emosi melihat apa yang terjadi saat ini. “Kakak ngak usah mikirin tentang Café dulu! Café masih bisa diperbaiki kak,sekarang nyawa kakak yang lebih penting!” ujar Anisa.
Beberapa menit kemudian Lucki datang dan menghampiri Devi. “Dokter bilang loe udah boleh dibawa pulang.” Ujar Lucki.
 “Menjauh dari Ka Devi!!!!” bentak Angel.
 Semua yang ada dikamar itu kaget dengan sikap Angel. “Ngak usah sok baik! Apa mau Ka Lucki?” Tanya Angel.
Lucki jadi salah tingkah, “Maksud kamu apa,Ngel?”
 “Ngak usah berpura-pura, yang merencanakan ini semua kakak kan?” desak Angel.
 “Hah…?” Lucki melihat Devi.
“Dek,kamu kenapa?” Tanya Devi. “Kok ngomongnya begitu?”
“Ka,Lucki ngak ngerti sama apa yang kamu bicarakan!” ucapnya.
“Mau tau maksud ucapan Angel?” Randy angkat bicara.
“Loe Brengsek!!!!” bentak Randy. semua yang ada dikamar terheran-heran dan bingung. Lucki mendengar kata Randy geram dan mendekati Randy.
 “Apa mau loe?” lirihnya.
“Seharusnya gue yang nanya. Belum puas loe bikin kekacauan ini? Dimulai dari Angel,lalu Anisa dan sekarang Devi! Loe udah bikin kaki Angel patah. Loe juga udah bikin Anisa celaka. Dan loe bikin teman loe sendiri dikeroyok sama orang-orang suruhan loe! Apa itu semua belum cukup!” bentak Randy dan membuat Devi kaget.
 “Randy,kamu ngomong apa?” Devi memandang Randy.
 “Seperti yang kakak denger, semua ini adalah rencana dia!” sambil menunjuk Lucki.
“Tutup mulut loe!” Lucki memegang krah baju Randy.
“Woy,tahan sob!” ujar Egi. Lucki melepaskan Randy lalu berjalan kearah Devi.
 Tetapi Randy menghalanginya, “Minggir loe!” bentaknya.
“Dev,loe ngak berpikiran sama dengan mereka kan?” Tanya Lucki.
“Apa benar, loe yang ada dibalik semua ini?”
 “Hah? Loe ngak percaya sama gue? Gue teman loe,Dev!” ujar Lucki.
“Teman? Kalo loe emang teman gue,jawab pertanyaan gue?” desak Devi.
“BUKAN GUE!!!” seru Lucki.
Lalu Devi mengeluarkan sebuah gelang yang biasanya dipakai Lucki. Lucki kaget dan cemas. “Loe dapat ini dimana?” tanyanya.
“Ini punya loe kan? Gue nemu ini dikamar Angel! Sehari setelah Angel ditemukan pingsan dikamar mandi!” ungkap Devi.
Dan membuat Lucki menjadi cemas. “Dev,bukan gue!” ujarnya.
 “Masih bisa bilang kalo ini semua bukan loe yang lakuin?” “Ngak hanya kalung ini sebagai buktinya!” Devi mengeluarkan beberapa lembar foto dan rekaman suara  saat Lucki sedang berbicara dengan orang-orang suruhannya.
“Masih kurang??” Devi menatap Lucki.
“Gue percaya banget sama loe,tapi apa yang loe lakuin sama gue? Angel ngak bisa ikut kompetisi dance dan Anisa mau loe tabrak. Dan gue…? Semua ini karena loe!!!!” bentak Devi. Lucki tidak bisa ngomong apapun. “PUAS !!!”
Seketika Lucki mendekati Anisa dan mengeluarkan sebelah pisau lalu meletakkannya ke leher Anisa.
 “Anisa…..!” seru mereka.
 “Gue sayang sama loe, tapi loe ngak pernah mau tau hal itu! Loe masih aja berharap bisa kembali sama Sadam. Loe ngak pernah mengerti perasaan gue! Semua ini salah loe!!!” bentak Lucki.
 “Eh…lepasin Anisa!” bentak Egi. “Loe jangan berbuat aneh!” sambungnya.
 “Dan gue harus dengerin kata-kata loe? Jangan sok pahlawan deh!!! Loe udah bikin rencana gue berantakan!!! Dan sekarang dia akan mati ditangan gue!!!!” Lucki siap-siap untuk menusuk Anisa, “Menjauh dari Anisa!!!” teriak Randy .
 Tiba-tiba dibelakang Lucki muncullah Wenda. Wenda yang memegang kayu ditangannya lalu memukul kepala Lucki dengan kuat. Sehingga membuat Luckie kaget. “Awwww….!” Ujarnya sambil memegang kepalanya yang terkena pukulan.
“Wenda!” ujar Devi. Randy pun mengamankan Lucki.
 Egi menenangkan Anisa, “Tenang,Nis. Semuanya dah berakhir!”
 “Game Over!” seru Angel. Akhirnya Lucki pun dibawa oleh polisi. Kasus ini diserahkan kepada polisi.
“Wen…makasih yah! Kamu udah nolongin Anisa.” Seru Devi. “Sama-sama, itulah gunanya teman!” sahutnya.
“Foto dan rekaman suara,semua itu dari kamu kan?” Tanya Devi.
 Wenda menngangguk, “Aku ngak sengaja lihat semua yang dilakukan Lucki. Semua rencana dia, Hhhh… cinta itu bisa membuat semua orang berbuat hal-hal nekat yah? Seperti yang dilakukan Lucki.” Ungkap Wenda.
 “Sekali lagi makasih,Wen.” Pinta Devi.
“Aku ngak nyangka semua yang terjadi akhir-akhir ini adalah ulah Ka Lucki!” ujar Anisa. “Jadi yang bikin kamu pingsan dikamar itu,Ka Lucki!” Anisa memandang Angel. Angel mengangguk, “Dan juga yang mau nabrak kakak!” sambung Angel.
 “Kalian juga merasa kalo ini semua adalah ulah Lucki? Kok bisa tau?” Anisa bertanya pada Egi dan Randy. “Karena sikapnya mencurigakan!” jawab Randy.
 “Dan….. menyebalkan! Kita sebenarnya kenal sama Lucki. Gue pernah dekat sama almarhum adiknya,Luna! Lucki itu bisa dibilang Psikopat!” ungkap Egi.
 “Ngak ada yang minta loe curhat!” ledek Randy.
“Just,info dikit!” sahut Egi.
“Waaahh…makin akrab aja!” sahut Angel dan menertawakan Randy.
 “Udah dek,jangan ledek Randy terus! Alhamdulillah,bisa lihat kalian akur gini!” seru Anisa.
“Oh No!!!” lirih Randy. dan mereka pun kembali menemui Devi dikamar rawat.
                                                            **************

Tidak ada komentar:

Posting Komentar