Jam 8 malam di Café milik Devi. Devi membawakan
sebuah lagu milik Rossa Hati Yang Kau Sakiti.
“Jangan pernah katakan bahwa cintamu hanyalah
untukku, karna kini kau telah membaginya. Maafkan jika memang kini harus ku
tinggalkan dirimu karna hatiku selalu kau lukai. Tak ada lagi yang bisa
kulakukan tanpamu,ku hanya bisa mengatakan apa yg kurasa, ku menangis
membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku.kau duakan cinta ini, kau pergi
bersamanya… hoohoooo…..ku menangis melepaskan kepergian dirimu dari sisi
hidupku,harus selalu kau tahu, akulah hati yang telah kau sakiti……..” Devi menyanyikannya
dengan penuh penghayatan.
Pengunjung Café pun memberikan applause untuk
penampilan Devi malam ini.
“Proookk…prokkk.prookkk…!” Devi menghampiri Lucki
yang malam ini melihat penampilannya.
“Good Job!
Suara kamu bener-bener Istimewa,Dev.” Ungkap Lucki.
“Makasie,Ki. Tumben bisa lihat perform aku? Biasanya
kan sibuk mulu.” Sahut Devi.
“Ya, pengen aja lihat kamu nyanyi, dengerin suara
kamu. Keren !!” puji Lucki.
“Devi…” sapa seseorang dan membuat Devi membalikkan
badannya ke orang yang menyapanya. Devi
sejenak terdiam,”Wenda!” lirihnya.
Lucki yang
ada di Café pun kaget melihat kehadiran Wenda. Devi dan Wenda pun berbicara
agak serius. “Untuk apa kamu datang kesini?” Tanya Devi memulai pembicaraan.
“Untuk
Sadam!” Devi kaget dan bingung. “Dev, saat ini Sadam butuh kamu!”
“Lebih baik
kamu pergi! Aku ngak mau bahas masalah ini lagi!” perintah Devi.
“Tapi,Dev…”
“Wen,cukup! Aku ngak mau ungkit masa lalu itu! Aku
udah restuin kamu dan Sadam!” ungkap Devi. “Berhenti gangguin aku! Jangan
datang kesini lagi!” Devi pun meninggalkan Wenda.
“Dev,Sadam butuh kamu. Bukan aku!” batinnya.
Dirumah Angel. Angel baru saja sampai
dirumah,setelah tadi sore menemui Gigi. “Udah malem, gue balik dulu ya!” ujar
Randy. “Eh,,,tapi loe bisa turun sendiri ngak? Tanya Randy.
Angel hanya diam, tiba-tiba Devi pulang diantar sama
Lucki.
“Makasie,Ki!” sahut Devi dan turun dari mobil.
“See you,Dev! Salam buat Angel dan Anisa.!” Devi
mengangguk dan mobil Lucki melaju dengan cepat meninggalkan Devi yang masih
berdiri didepan gerbang.
“Ka Devi,diantar sama Lucki?” lirih Randy dan
menatap Angel.
Devi memasuki halaman rumah, “Hei,Angel,Randy… kok
berdiri diluar?”
“Hei Ka…” sahut mereka bersamaan. “Tadi Angel dari
rumah Gigi.”
“Sendirian?”
Tanya Devi lagi.
“Ngak,Ka. Aku pergi sama Randy!” sahutnya.
“Hmm.. kamu bener-bener jagain Angel yah? Makasie
banyak ya,Ran!” ucap Devi.
“U’r Welcome!” sahut Randy.
“Oh ya,Ka
Devi baik-baik aja kan?” pertanyaan Randy membuat Devi kaget. “Loh.emangnya
kenapa ,Ran?”
“Ngak,Cuma mastiin aja kalo Kakak baik-baik aja!”
Angel menatap Randy dan berharap Randy ngak nanya yang macam-macam.
“Oh…” kata Devi manggut-manggut.
“Ya,udah.
Randy pamit ya Ka, udah malam! Ngel, besok gue kesini lagi,jangan tidur larut
malam yah!” pinta Randy dan pamit.Angel hanya menganggu.
“Randy,baik
ya dek? Randy suka sama kamu ya?” Tanya Devi dan membuat Angel kaget.
“Haaah? Kok kakak berpikiran seperti itu?”
“Just ask. Udah kita kedalam yuk. Disini dingin!”
Devi pun mendorong kursi roda Angel.
************
Jam 10 pagi, Randy telah sampai dirumah Angel.
“Pagi semua!” sapa Randy. Saat melihat Anisa dan
Angel.
“Ka Devi mana?’ Tanya Randy.
“Udah pergi ke Café. Tumben nanyain Ka Devi?” ujar
Anisa.
“Hoh… bareng Lucki ya?” pertanyaan itu membuat Anisa
bingung.
“Maksudnya?”Anisa melirik Angel. Angel
mengalihkan pandangannya ke televisi.
“Nis, gue boleh nanya sesuatu ngak?” Tanya Randy
lagi. “Yaa..boleh.” sahut Anisa.
“Tangan loe
itu bukan karena jatuh karena kesalahan sendiri kan? Maksud gue, kesalahan
orang lain. Seperti ada yang sengaja bikin loe jadi begitu.” Ungkap Randy dan
membuat Anisa makin gugup.
“Ehh… apa
alasan kamu bisa ngomong seperti itu?” Anisa menatap Randy.
“Keadaan Angel yang sekarang ini bukan kesalahan dia
sepenuhnya,begitu juga dengan loe!” Anisa tambah bingung.
“Randy, cukup! Jangan bahas masalah itu lagi!” pinta
Angel setengah berteriak. Anisa kaget mendengar Angel berbicara. “Ngel…! Apa
maksudnya?” Tiba-tiba handphone Anisa berbunyi.
“Anisa,ini Egi. Nis,kamu sekarang juga ke rumah
sakit ya! Emergency!” Egi pun memutuskan
telepon. “Egiii…hallo! Ada apa lagi?” seru Anisa bingung.
“Kenapa Ka?”
ujar Angel. “Kita ke rumah sakit sekarang ya!” Angel dan Randy bingung.
Merekapun segera menuju rumah sakit.
Sesampai dirumah sakit, Anisa,Angel dan Randy kaget
melihat orang yang terbaring diranjang. “Ka Devi…” seru mereka bersamaan. Angel
dan Anisa mendekati Devi. “Kakak kenapa bisa begini?” Tanya Angel.
“Kakak ngak apa-apa kok,dek!” lirih Devi. Angel jadi
menangis, “Jangan sedih,dek!” pinta Devi dan menghapus airmata Angel.
“Ka…” Anisa memeluk Devi.
“Egi,apa yang terjadi?” bisik Randy.
“Tadi gue ke Café Devi, saat lagi makan. Tiba-tiba
ada beberapa orang datang dan menghancurkan Café. Devi marah dan bertengkar
dengan salah satu dari mereka. Akhirnya mereka bikin Devi seperti ini. Dan saat
gue nolong Devi,teman Devi datang dan bantu gue menghajar orang-orang itu.”
Jelas Egi.
“Café kita jadi hancur dan berantakan,dek!” ucap
Devi. Randy geram dan emosi melihat apa yang terjadi saat ini. “Kakak ngak usah
mikirin tentang Café dulu! Café masih bisa diperbaiki kak,sekarang nyawa kakak
yang lebih penting!” ujar Anisa.
Beberapa menit kemudian Lucki datang dan menghampiri
Devi. “Dokter bilang loe udah boleh dibawa pulang.” Ujar Lucki.
“Menjauh dari
Ka Devi!!!!” bentak Angel.
Semua yang
ada dikamar itu kaget dengan sikap Angel. “Ngak usah sok baik! Apa mau Ka
Lucki?” Tanya Angel.
Lucki jadi salah tingkah, “Maksud kamu apa,Ngel?”
“Ngak usah
berpura-pura, yang merencanakan ini semua kakak kan?” desak Angel.
“Hah…?” Lucki
melihat Devi.
“Dek,kamu kenapa?” Tanya Devi. “Kok ngomongnya
begitu?”
“Ka,Lucki ngak ngerti sama apa yang kamu bicarakan!”
ucapnya.
“Mau tau maksud ucapan Angel?” Randy angkat bicara.
“Loe Brengsek!!!!” bentak Randy. semua yang ada
dikamar terheran-heran dan bingung. Lucki mendengar kata Randy geram dan
mendekati Randy.
“Apa mau
loe?” lirihnya.
“Seharusnya gue yang nanya. Belum puas loe bikin
kekacauan ini? Dimulai dari Angel,lalu Anisa dan sekarang Devi! Loe udah bikin
kaki Angel patah. Loe juga udah bikin Anisa celaka. Dan loe bikin teman loe
sendiri dikeroyok sama orang-orang suruhan loe! Apa itu semua belum cukup!”
bentak Randy dan membuat Devi kaget.
“Randy,kamu
ngomong apa?” Devi memandang Randy.
“Seperti yang
kakak denger, semua ini adalah rencana dia!” sambil menunjuk Lucki.
“Tutup mulut loe!” Lucki memegang krah baju Randy.
“Woy,tahan sob!” ujar Egi. Lucki melepaskan Randy
lalu berjalan kearah Devi.
Tetapi Randy
menghalanginya, “Minggir loe!” bentaknya.
“Dev,loe ngak berpikiran sama dengan mereka kan?”
Tanya Lucki.
“Apa benar, loe yang ada dibalik semua ini?”
“Hah? Loe
ngak percaya sama gue? Gue teman loe,Dev!” ujar Lucki.
“Teman? Kalo loe emang teman gue,jawab pertanyaan
gue?” desak Devi.
“BUKAN GUE!!!” seru Lucki.
Lalu Devi mengeluarkan sebuah gelang yang biasanya
dipakai Lucki. Lucki kaget dan cemas. “Loe dapat ini dimana?” tanyanya.
“Ini punya loe kan? Gue nemu ini dikamar Angel!
Sehari setelah Angel ditemukan pingsan dikamar mandi!” ungkap Devi.
Dan membuat Lucki menjadi cemas. “Dev,bukan gue!”
ujarnya.
“Masih bisa
bilang kalo ini semua bukan loe yang lakuin?” “Ngak hanya kalung ini sebagai
buktinya!” Devi mengeluarkan beberapa lembar foto dan rekaman suara saat Lucki sedang berbicara dengan
orang-orang suruhannya.
“Masih kurang??” Devi menatap Lucki.
“Gue percaya banget sama loe,tapi apa yang loe lakuin
sama gue? Angel ngak bisa ikut kompetisi dance dan Anisa mau loe tabrak. Dan
gue…? Semua ini karena loe!!!!” bentak Devi. Lucki tidak bisa ngomong apapun.
“PUAS !!!”
Seketika Lucki mendekati Anisa dan mengeluarkan
sebelah pisau lalu meletakkannya ke leher Anisa.
“Anisa…..!”
seru mereka.
“Gue sayang
sama loe, tapi loe ngak pernah mau tau hal itu! Loe masih aja berharap bisa
kembali sama Sadam. Loe ngak pernah mengerti perasaan gue! Semua ini salah
loe!!!” bentak Lucki.
“Eh…lepasin
Anisa!” bentak Egi. “Loe jangan berbuat aneh!” sambungnya.
“Dan gue
harus dengerin kata-kata loe? Jangan sok pahlawan deh!!! Loe udah bikin rencana
gue berantakan!!! Dan sekarang dia akan mati ditangan gue!!!!” Lucki siap-siap
untuk menusuk Anisa, “Menjauh dari Anisa!!!” teriak Randy .
Tiba-tiba
dibelakang Lucki muncullah Wenda. Wenda yang memegang kayu ditangannya lalu
memukul kepala Lucki dengan kuat. Sehingga membuat Luckie kaget. “Awwww….!”
Ujarnya sambil memegang kepalanya yang terkena pukulan.
“Wenda!” ujar Devi. Randy pun mengamankan Lucki.
Egi
menenangkan Anisa, “Tenang,Nis. Semuanya dah berakhir!”
“Game Over!”
seru Angel. Akhirnya Lucki pun dibawa oleh polisi. Kasus ini diserahkan kepada
polisi.
“Wen…makasih yah! Kamu udah nolongin Anisa.” Seru
Devi. “Sama-sama, itulah gunanya teman!” sahutnya.
“Foto dan rekaman suara,semua itu dari kamu kan?”
Tanya Devi.
Wenda
menngangguk, “Aku ngak sengaja lihat semua yang dilakukan Lucki. Semua rencana
dia, Hhhh… cinta itu bisa membuat semua orang berbuat hal-hal nekat yah?
Seperti yang dilakukan Lucki.” Ungkap Wenda.
“Sekali lagi
makasih,Wen.” Pinta Devi.
“Aku ngak nyangka semua yang terjadi akhir-akhir ini
adalah ulah Ka Lucki!” ujar Anisa. “Jadi yang bikin kamu pingsan dikamar itu,Ka
Lucki!” Anisa memandang Angel. Angel mengangguk, “Dan juga yang mau nabrak
kakak!” sambung Angel.
“Kalian juga
merasa kalo ini semua adalah ulah Lucki? Kok bisa tau?” Anisa bertanya pada Egi
dan Randy. “Karena sikapnya mencurigakan!” jawab Randy.
“Dan…..
menyebalkan! Kita sebenarnya kenal sama Lucki. Gue pernah dekat sama almarhum
adiknya,Luna! Lucki itu bisa dibilang Psikopat!” ungkap Egi.
“Ngak ada
yang minta loe curhat!” ledek Randy.
“Just,info dikit!” sahut Egi.
“Waaahh…makin akrab aja!” sahut Angel dan
menertawakan Randy.
“Udah
dek,jangan ledek Randy terus! Alhamdulillah,bisa lihat kalian akur gini!” seru
Anisa.
“Oh No!!!” lirih Randy. dan mereka pun kembali
menemui Devi dikamar rawat.
**************
Tidak ada komentar:
Posting Komentar