Senin, 27 Mei 2013

^I’LL BE THERE FOR YOU^ PART 1


^I’LL BE THERE FOR YOU^

PARA PEMAIN :
CHERRY BELLE…
1.      ANISA RAHMA                                                          : ANISA
2.      MARGARETH ANGELINA                                        : ANGEL
3.       CHRISTY SAURA NOELA UNU                              : CHRISTY
4.       GENOVEVA JESSYCA STEFANI AURYN               : RYN
5.      YEFANI FILLIANG                                                    : FELLY
6.      BRIGITTA CYNTHIA                                                  : GIGI
7.      CHERLY YULIANA ANGGRAINI                             : CHERLY
^o^     Randy_Pangalila  ^o^
^o^     Egi_John   ^o^
^o^     Derby_Romero ^o^
^_^   AURELI DEVI NOVIATY                                   : DEVI
^_^   SARWENDAH TAN                                           : WENDA










PART 1

Di lapangan basket… Seorang cowok sedang asik berlari mengelilingi lapangan. Tepatnya sih mendapatkan hukuman karna membuat keributan dengan teman sekelasnya. Ya cowok itu adalah Randy,si Trouble Maker. Ini bukanlah pertama kalinya Randy mendapat hukuman.
“ Ah, si Botak emang rese banget!” ujar Randy.
 “Hahahahah….” Diseberang sana Geri dan teman-temannya tertawa, karena senang melihat Randy dihukum. “Gimana rasanya…. Seru kan mengelilingi lapangan basket dibawah terik matahari?” Teriak Geri.
 Are you Shut Up!” Perintah Randy.
“Hahahaaaa… Udah akui saja kalo loe itu Looser… PECUNDANG !” Seru Geri.
 “Shit…!” Randy menuju Geri, dan…. “Dug…” Satu tonjokkan pun melayang ke wajah Geri. “Jangan coba cari masalah sama gue.. Ngerti Loe !!!” Randy memperingatkan Geri. “Uggght,,,!” Geri memegang pipinya.
Randy adalah anak kedua dari keluarga broken home. Inilah yang menyebabkan Randy tumbuh menjadi seorang yang liar dan suka lepas kendali. Ya… sifat Randy berbeda dengan sang kakak Egi. Egi dan Randy dibesarkan dalam keluarga yang berkecukupan. Tapi mereka berdua kurang akan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Randy tinggal bersama Ibunya, sedangkan Egi tinggal bersama sang Ayah. Sifat Egi berbanding terbalik dari sifat Randy, mungkin ini disebabkan karena Egi lebih dewasa ketimbang Randy. Jadi Egi lebih bisa mengontrol emosinya.
Egi melihat apa yang terjadi dilapangan basket. Egi mencoba untuk berbicara dengan Randy. “Loe ngak apa-apa kan?” ujar Egi sambil menyodorkan sebotol air mineral.
Randy tidak mengambilnya, “Apa urusan loe nanya-nanya? Emang penting buat loe?” Randy sibuk dengan ponselnya.
“Ya, gue peduli sama loe. Karna loe adik gue.”
Bulshit…!!” Randy berlalu meninggalkan Egi.
 “Ran… Randy !” teriak Egi. “Sampai kapan loe kayak gini Ran ?” batin Egi.
Di ruang musik…
It's not about the money, money, money
We don't need your money, money, money
We just wanna make the world dance
Forget about the price tag”
Dua gadis cantik sedang asik latihan dance. Gerakan mereka begitu enerjik dan lincah. Mereka adalah Angel dan Gigi. Dua orang sahabat yang sama-sama menyukai hal-hal yang berbau dance.  Gigi mematikan lagu yang mengiringinya latihan dance.
“Angel, kita istirahat dulu yah? Capek nich.” Seru Gigi dan lalu menyodorkan Angel sebotol minuman.
 Thank.. Gi !” sambil tersenyum.
“Kalo kita sering latihan seperti ini, pasti kita bisa menang dikompetisi dance itu.”ujar Gigi.
“Ya… kita harus tetap berusaha dan giat berlatih, tentunya tetap berdo’a.” sahut  Angel.
“Bener banget…Semangat!”
Angel dan Gigi sedang asik berbagi cerita tiba-tiba Randy masuk ke ruang Music. “Udah selesai make tempat ini? Gua mau latihan juga.” Seru Randy ketus.
“Huh… ngapain sich nih orang nongol. Merusak suasana aja!” batin Angel.
“Kita udah selesai latihan. Kita juga lagi mau beres-beres. Kalo mau latihan silahkan..” sahut Gigi.
 “Gi…kok gitu? Belum juga nyampe 2jam an… Kita belum selesai latihan!” kata Angel sambil melotot ke arah Gigi.
“Kalo mau latihan juga. Tunggu kami selesai latihan. Setengah jam lagi.” Ujar Angel.
“Loe nyuruh gue nunggu kalian latihan setengah jam lagi?” Randy mendekat ke arah Angel. “Emangnya Loe siapa?”
“Gue Angel dan Gigi ,my best friend.” Sahut Angel.
“Angel…? Ngak cocok banget nama sama muka loe!”
“Hah,,,” Angel melotot. “Kurang ajar banget sih!” tangan kanan Angel melayang kearah muka Randy, tapi Randy dapat menahan tangan mulus itu.
“Op’s… tangan yang mulus ini jangan digunakan buat nampar orang.” Randy memegang tangan Angel dengan lembut.
“Ih… apa-apaan sih… lepasin tangan gue!” bentak Angel dan lalu menginjak kaki Randy.
“Awww…” seru Randy.
 “ Ngak sopan banget sich sama cewek!” kata Angel.
“Angel, udah! Kita balik aja yuk,jangan cari masalah deh!” Gigi mengingatkan.
 “Gi,siapa yang nyari masalah coba? Nih cowok rese banget!” sahut Angel.
Gigi memegang tangan Angel dan membawa Angel keluar dari ruangan itu.
“Kak Randy mau make tempat ini,silahkan! Kita udah selesai dan mau pulang. Maafin teman gue Kak.!”
“Kali ini loe selamat. Tapi lain kali,loe ngak bakalan gue kasih ampun.” Batin Randy dan lalu mengambil gitar.

                                                                ************

Malam harinya di sebuah Café didaerah Kemang.

^I’LL BE THERE FOR YOU^
“Sedihnya diriku merindukanmu..rindukanmu
Katakan padaku arti diriku…dihatimu..
Ku kan ada ..untukmu..
Kau selalu ..dihatiku..
Everytime you miss me..you need me..
Remember me
I will come to you i promise you i love you
Everytime you miss me..you need me
Call me call me
I will come to you i promise you.. i’ll be there for you..”
Pengunjung  di Café itu pun memberikan applause kepada si penyanyi.
 “Wah suaranya merdu sekali. Saya suka !” kata salah satu pengunjung café.
“Iya benar.” Sahut pengunjung lainnya.
“Yeeee… performnya keren. 2 jempol deh buat Kakakku.” Ujar Anisa dan memeluk Devi.
“Makasih dek.”
  “Wah, ngak rugi deh lihat performnya Ka Devi. Keren abissssss.” Sahut Cherly.
“Yup. Bener banget Cher. Suara Ka Devi itu mengalahkan penyanyi luar sana.” Balas Ryn.
 “Betul…betul.”
“Hmmmm…makasie buat pujiannya. Kalian benar-benar istimewa.” Seru Devi dan memeluk Anisa,Ryn dan Cherly.
 “Oh,,, co cweett..”
 ^_^
                                                                        ***
Sementara itu dikamar Angel. (Waduh kamarnya kayak kapal pecah… semua barang-barangnya tidak terletak pada tempatnya). Sepertinya Angel masih kesal sama kejadian diruang music. “Ugghhttt… Gigi reseeee… Cowok itu juga lebih reseeeee…. Kesaaaaaaal !!!” Teriak Angel sambil melempar beberapa barang yang ada dikamarnya.
Devi dan Anisa sudah kembali dari Café. Baru saja mau masuk rumah, Bi Lisa langsung menghampiri mereka. “Kenapa Bi? kok panik gitu ?” Tanya Anisa.
 “Itu Non…Non Angel dikamarnya… ehh.. Non Angel ngamuk.” Seru Bi Lisa.
“Haaah” sahut Devi dan Anisa bersamaan.
“Kenapa Bi. Kok Angel ngamuk ?” Tanya Devi.
 “Bibi kurang tau juga non. Mending non Devi nanya sendiri deh. Bibi takut!”
Devi dan Anisa pun berjalan menuju kamar Angel. Saat Devi mau membuka pintu kamar Angel, tiba-tiba boneka Doraemon melayang tepat kewajah Devi.
“Aduuuuuuuuuhhhhhhh…..” teriak Devi sambil memegang wajahnya.
 Angel pun kaget dan langsung menghampiri Devi. “Ka Devi ngak apa-apakan?” Tanya Angel cemas.
 “Angel,kamu apa-apaan sih?” seru Anisa sambil membantu Devi untuk berdiri.
Beberapa menit kemudian di ruang tamu dilantai 1.
“Angel… bisa tolong dijelasin sama kakak,apa yang terjadi?” Angel disidang Devi dan Anisa.
“Huh….” Sahut Angel.
“Jawab pertanyaan kakak?”
 “Ngak ada apa-apa kok Ka.” Jawab Angel singkat.
“Kamar kamu berantakan seperti itu,siapa yang bikin? Kamu kan?”  Angel hanya mengangguk.
“Lalu?” Tanya Devi lagi.
“Aku lagi kesal,jadi ya gitu deh.” Jawab Angel sambil manyun.
“Sama siapa?” 
“Aduh kakak… udah kayak polisi aja. Kebanyakan nanya deh. Angel pusing tau.” 
“Angel… jawab aja napa sih?” Anisa ikut berbicara.
“Aku kasih tau,kakak juga ngak bakalan tau orangnya.” Devi dan Anisa saling memandang.
“Udah ya,interogasinya aku ngantuk.” Angel berdiri dan melangkah menuju kamarnya.
 “Maafin kakak ya, kakak ngak bisa memberikan perhatian yang cukup buat kalian. Kakak juga ngak pernah menginginkan semua yang telah terjadi dalam keluarga kita. Kakak akan tetap ada dibelakang kalian,mensupport kalian,mewujudkan apa yang kalian inginkan. Kakak janji!!!” jelas Devi sambil melangkah menuju kamarnya.
Anisa dan Angel terdiam setelah mendengarkan kata-kata Devi. Dan airmata pun jatuh di pipi mereka.
“Anisa sayang Ka Devi.”
 “Angel sayang Ka Devi.” Batinnya.
Pagi harinya dirumah Angel, tepatnya dimeja makan. Angel sibuk merapikan dan menata makanan yang telah dibikinnya. “Hmmm… Istimewa..” ujarnya.
Beberapa menit kemudian Devi dan Anisa bersamaan melangkah menuju meja makan. “Wawww… ada perayaan apa nih?” seru Anisa sambil melirik Angel.
“Ka Devi duduknya disini yah.” Kata Angel sambil mempersilahkan Devi duduk.
 “Kakak jadi bingung.?” Devi memandang Angel lalu Anisa.
Anisa hanya mengangkat bahunya.
 “Sarapan pagi ini aku yang masak lho… Nasi goreng special buatan Angel.Cobain deh kak.” Devi pun mencicipinya.
“Hmmm… ini bukan masakan Bi Lisa kan?” Tanya Anisa lalu mencicipinya.
“Yeee… aku yang bikin lah! Cobain dulu, baru komen!” sahut Angel.
Devi dan Anisa saling memandang lalu mereka tersenyum.
 “Nasi gorengnya……”
“ISTIMEWA……” ujar Devi dan Anisa bersamaan. Dan lalu tertawa.
“Hehehe… beneran?” Tanya Angel tidak percaya. Devi dan Anisa mengangguk.
“Wahh… masakan Bi Lisa kalah nih. Tiap hari sarapannya seperti ini boleh tuh.” Jelas Devi sambil tersenyum.
 “Yee…masa tiap hari aku harus bangun subuh-subuh. Ngak mau ah.!” Jawab Angel.
“Hmmm…ngomonk-ngomonk tumben kamu yang bikin sarapan? Ayoo ada apa?” Tanya Anisa.
“Pengen aja. Hmmm… Ka Devi, aku minta maaf ya. Atas ulahku yang semalam. Beneran deh,Maafin aku ya…!” pinta Angel lalu mendekat ke Devi. “Angel sayang sama Ka Devi!” lalu memeluk Devi.
“Ahh… co cweett…”seru Anisa lalu ikut berpelukan.
“Kakak ngak marah kok… lain kali kalo kamu ada masalah share dunk sama kakak atau Anisa. Ngak baik nyimpen masalah itu sendiri, siapa tau kakak bisa bantu nyari solusinya.” Nasihat Devi.
“Iya…aku janji ngak akan mengulanginya lagi. Suer deh!” Angel tersenyum.
“Makin sayang sama Ka Devi.” Angel kembali memeluk Devi.
“Trus aku ??” seru Anisa cemburu.
 “Kenapa? Ohh…pengen dipeluk juga? Sini tak peluk ?” sahut Angel tertawa.
“Ihh…males banget!” “Angel sayang Ka Devi dan Ka Anisa.Sayang bangeeeeeeeet !”
Mereka pun tersenyum dan tertawa bahagia.  ^_^




Sabtu, 18 Mei 2013

TEMAN TERINDAH (Cerpen)



TEMAN TERINDAH

Seseorang yang sering aku panggil dengan sebutan teman terindah. Anna. Aku dan Anna berteman sejak duduk dibangku kuliah pada tahun 2010. Tapi, pertemanan yang dulu dengan sekarang terasa berbeda sekali. Dulu, aku tidak terlalu peduli dengan apa yang dilakukannya, apa yang terjadi dengannya dan semuanya. Berbeda dengan sekarang, mataku terbuka lebar untuk melihat siapa dia yang sebenarnya bisa dianggap sebagai seorang teman. Suka dan duka kita lalui bersama.
Jam di ruangan tamu menunjukkan pukul 9.30, aku telah siap untuk menuju kampus. Huh, sayang banget hari ini aku ngak pergi kuliah bareng, Anna. Karena dia, dari jam 8 pagi tadi sudah mengudara di sebuah radio di kota kelahiranku. No problem! Nanti juga bisa ketemu di kampus.
Pukul 1 siang, aku masih ada kuliah. Tapi, tidak tahu kenapa, Anna, mengajakku untuk pulang. Dia terlihat kelelahan.
“Kamu masuk kuliah ntar siang?” tanyanya.
“Emangnya kenapa?” aku balik nanya.
“Pulang yuk!”
“Pulang? Hmm... ya udah.” Aku menerima ajakannya untuk pulang.
Di tengah perjalanan menuju pasar Padangpanjang, tiba-tiba Anna berhenti dan terduduk di depan toko yang masih tutup.
“Pit, berhenti sebentar ya!” pintanya.
Aku terdiam dan bingung melihat pemandangan yang ada dihadapanku. Tidak seperti biasanya Anna seperti ini. Sesak napas? Dua kata itu yang terlintas dibenakku. Beberapa menit kemudian, Anna bangkit dan mengajakku untuk meneruskan perjalanan. Anna sampai juga di terminal angkot yang akan menuju rumahnya.
“Pit, aku naik angkotnya disini ya!” ujarnya.
“Pinjam, aku flashdisk kamu!” pintaku.
Anna merongoh tasnya dan menyerahkan flashdisknya. Aku meraih flashdisk itu.
“Aku duluan ya!” pamitnya.
Aku mengangguk dan dalam hati ku mengatakan, Hati-hati ya!
Dalam perjalananku menuju rumah, flashdisk yang ada ditanganku kugenggam erat-erat. Kamu harus tahan sakit itu. Kamu harus kuat. Kamu pasti bisa melaluinya. Harus kuat. Harus kuat...
Seminggu belakangan ini, Anna sering merasakan sesak napas dan dia tidak tahu apa penyebabnya. Sesampai ku di rumah, aku langsung meng-sms Anna. Apa dia sudah sampai di rumah dengan selamat.
Udah nyampe di rumah?
Beberapa menit kemudian, ponselku bergetar.
Udah. (balasnya)
Malam harinya di sudut kamarku, aku membayangkan apa yang telah terjadi tadi siang. Anna yang tiba-tiba terduduk karena sesak napas. Pemandangan yang tak pernah kulihat dan hal itu membuatku bertanya-tanya, apa yang terjadi padanya?
***
Keesokkan harinya, Minggu 28 April.
“Pagi dunia...” lirihku seraya mengambil ponsel.
Jariku sibuk mengetik sms, hatiku belum tenang sebelum mengetahui keadaan seseorang yang akhir-akhir ini dekat denganku.
Pagiii... isi sms-ku.
Beberapa menit kemudian, ponselku bergetar, sms balasan dari Anna.
Pagi juga.
Kalau ngerasain lelah dan capek, langsung istirahat ya. Tetap semangat... J (balasku)
Iya. Makasih. (balasnya)

Pukul 9 pagi di kampusku ada seminar dan mahasiswa harus mengikuti jalannya seminar tersebut. Dan seperti hari kemarin, aku menuju kampus seorang diri, karena Anna telah sampai duluan di kampus. Sejak saat Anna sering menjemputku waktu mau berangkat ke kampus, ada rasa bahagia dan aku menjadi semangat untuk memulai aktifitasku. Tapi, beberapa hari ini hal itu sudah jarang terjadi, karena kondisinya yang tidak memungkinkan. Tapi, hal itu tidak menyurutkan kakiku untuk melangkah menuju kampus tercinta. Sesampai di kampus aku disambut oleh senyumannya, aku langsung duduk di sebelahnya. Tidak terasa jam telah menunjukkan pukul 1 siang, seminar masih berlangsung.
“Pulang yuk!” ajak Anna.
“Hah? Udah jam berapa?” tanyaku.
“Jam 1, aku mau siaran nih!” ingatnya.
“Hmm... ya udah. Kita pulang sekarang!” ajakku.
Aku berpisah dengan Anna di terminal angkot. Anna melanjutkan perjalanannya ke radio, karena siang ini dia ada siaran. Aku melanjutkan perjalananku menuju rumah. Sesampai di rumah, aku mengganti pakaian dan menghempaskan tubuhku ke atas ranjang. Setelah beberapa menit terbaring di tempat tidur, aku ingat bahwa Anna belum makan siang. Tumben hari ini dia ngak ngajak makan siang bareng? Aneh deh? Perasaan kalau ngak makan siang, dia ngak bakalan kuat buat melanjutkan aktifitasnya. Tiba-tiba ponselku bergetar, ada sms masuk dari cowoknya, Anna. Dia menanyakan keadaan Anna.
Udah makan siang Anna, Pit?
Pertanyaan cowok Anna itu, membuatku bangkit dari ranjang dan bergegas menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian aku mengganti pakaian dan bersiap-siap untuk melangkahkan kaki menuju radio. Tiba-tiba... HUJAN DERAS! Ya Allah, kenapa harus hujan sih? Aku mau pergi nih! Aduh, kenapa harus pusing sih? Itu cuma hujan, kan masih ada payung! Akhirnya, aku pun keluar rumah di saat hujan deras. Mantap kan, demi makan siang bareng Anna. Aku juga khawatir sama keadaannya, ntar gara-gara ngak makan siang, dia jadi sakit. Alhasilnya, aku sampai juga di radio dan aku melihat dia yang sedang berada di ruang siaran. Tiba-tiba dia menghampiriku.
“Ikh... kok bisa sampai sini?” katanya bingung sambil senyum.
“Ah, ngak tahu. Mungkin lagi mimpi nih!” jawabku asal.
“Tadi katanya di sms mau tidur siang. Kok sekarang sampai ke sini!” serunya.
“Makan yuk!” ajakku sambil menyodorkan nasi bungkus.
Dia tersenyum dan menggajakku masuk ke ruangan siaran. Dan setelah itu kami makan sore bareng.
Hidup ini begitu indah. Keindahan itu dirasakan saat kamu bisa membuat seseorang tersenyum bahagia. Hanya dengan  melakukan hal kecil saja, keindahan tersebut akan mudah kamu dapatkan. Beberapa waktu yang lalu, telah terlintas dibenakku untuk melakukan hal kecil itu. Namun, aku belum yakin, keindahan yang kubayangkan itu akan kudapatkan. Hmm... hati kecilku berkata, selalu positive thinking dan yakinlah dengan niatmu yang tulus itu, semua yang kamu bayangkan akan terwujud.
Sore ini, keindahan itu kembali kudapatkan. Dan ternyata benar, aku bisa menyimpulkan bahwa kamu benar-benar senang berada di dekatku. Tak perlu lagi ku meragukan hal itu, karena aku telah melihat bukti nyatanya, terpampang nyata sekali dihadapanku saat ini. Kamu tersenyum, itu lebih dari cukup. Senang banget bisa bikin orang yang kita sayang bahagia, walaupun beberapa hari belakangan ini kamu tidak bersemangat karena kondisi kamu yang kurang sehat.
Apapun yang terjadi pada dirimu,tetaplah semangat dan yakinlah bahwa kamu tidak seorang diri. Banyak orang yang sayang sama kamu, jadi jangan pernah putus asa dan jangan bersedih.
***

Dua minggu kemudian, tepatnya pada tanggal 11 Mei, Anna ngak masuk kuliah, karena hari ini dia pergi ke rumah sakit untuk chek-up. Sehari ngak lihat dia di kelas rasanya ada yang hilang. I Loss U today!
Sore harinya, Anna memberitahu kepada ku, kalau tidak ada halangan hari senin dia akan di operasi.
JLEB!!!
Seminggu yang lalu, dia juga pernah mengatakan hal yang sama. Dan terbukti, itu ngak terjadi. Lalu bagaimana dengan yang sekarang, apa benar itu akan terjadi? Operasi? Rumah sakit? Ah... tak ada yang menyenangkan dari dua kata itu. Kenapa harus dia? Kenapa bukan aq? Dan kenapa juga bukan kalian? Kenapa?
Minggu, sorenya setelah pulang dari kota Bukittinggi, aku menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Anna. Dia kaget melihat kedatanganku.
“Ikhh... katanya mau tidur siang? Kok bisa ada disini?” tanyanya kesal.
“Yeee... orang mau ketemu Kak Ria juga!” alasanku.
“Oh ya... habis darimana?” tanyanya.
“Darimana aja boleh!” seruku.
Ternyata, emang benar besok dia mau di operasi. Huftt... pikiranku melayang. Dia memintaku besok datang ke rumah sakit. Tanpa diminta pun, aku juga bakalan ke sana.
***
Senin, 13 Mei 2013. Rumah Sakit Umum Padangpanjang.
Sejak pagi, Anna sudah berada di rumah sakit. Dia menunggu waktu buat masuk ruang operasi. Operasi? Pagi harinya, aku membantu mama menjahit. Hah, badanku memang ada di toko, tapi pikiranku sudah bercabang-cabang. Kapan pekerjaanku selesai? Apa Anna tetap akan di operasi hari ini? Pengen ada di dekatnya! Perasaanku kacau balau, ngak bakalan bisa tenang sebelum bisa melihat sendiri keadaan Anna.
Pukul 16.30 WIB, pekerjaanku selesai dan aku langsung menuju rumah sakit. Butuh waktu 15 menit untuk sampai di rumah sakit. Dari kejauhan aku melihat cowoknya Anna sedang duduk, mungkin dia menunggu kedatanganku. Aku melangkahkan kaki menujunya dan bersalaman dengannya, karena selama ini belum pernah ketemu secara langsung. Dia mengajakku masuk dan dia bercerita kalau Anna sekarang masih berada di ruang operasi.
Aku melihat ada kak Ria, Mya dan ayahnya Anna. Aku duduk di sebelah kak Ria yang sedang sibuk menelepon. Selama 45 menit aku duduk di tempat itu, menunggu itu memang hal yang paling membosankan. Yang paling penting adalah tetap berdo’a untuk kelancaran operasi Anna. Beberapa menit kemudian, beberapa perawat memasuki ruang operasi. Kak Ria bangkit dan mengikuti perawat itu. Perawat tadi membawa seorang pasien untuk di tempatkan di ruang bedah. Dan pasien itu, orang yang kami tunggu. Aku terdiam saat perawat itu lewat dihadapanku membawa Anna yang masih terbaring. Cowok Anna, memanggilku dan lalu aku mengikutinya. Perawat tadi membawa Anna ke lantai atas dengan lift.
Ruang Bedah ‘Sirsak’.
Setelah menyelesaikan tugasnya, perawat-perawat tadi meninggalkan ruang bedah. Kak Ria, Mya dan cowoknya Anna, mendekati ranjang Anna. Aku memilih berdiri menjauh dari ranjang Anna. Beberapa menit kemudian, Anna siuman.
“Sa...kit!” serunya.
Satu kata yang berulang kali diucapkannya. Dia merintih kesakitan dan dia menangis. Dan lagi, aku melihat pemandangan yang tidak pernah kulihat selama ini. Anna menangis. Ini untuk pertama kalinya, aku melihat dia menangis. Aku paling ngak tahan melihat orang menangis. Rasanya pengen keluar dari ruangan ini, karena sekarang mataku berkaca-kaca, aku mau nangis juga!
“Kak Titis, berdiri di sini dong!” ajak Mya.
“Pit, jangan menangis pula!” seru kak Ria.
Anna berusaha melihat ke arahku berdiri. “Ngapain si Pit berdiri di sana?” tanyanya.
“Pit, pindah berdiri ke samping Anna. Susah dia melihat Pit!” ujar cowok Anna.
Akhirnya, aku melangkahkan kaki ke dekat ranjang Anna. Aku ngak kuat untuk melihat dia yang terbaring di ranjang itu. Tidak berani untuk menatapnya. Aku mengalihkan pandanganku ke luar jendela. Kuingin menggengam erat tangannya dan  memberinya semangat. Tapi apa daya, aku saja tidak kuasa melihat keadaannya saat ini. Tuhan, kenapa harus dia?
Rencana Tuhan memang indah. Sejak aku mengetahui kondisinya seperti itu, sejak saat itu aku semakin care sama dia. Sehari saja ngak melihat dia rasanya ada yang hilang. Dan aku yakin,bahwa semua ini akan indah pada waktunya. Tidak selamanya seseorang hidup menderita, karena kebahagiaan itu pasti kamu dapatkan. Percayalah!

Kamis, 18 April 2013

Puisi "Tetaplah Tersenyum"

Sore ini angin berhembus kencang
di hadapanku kau tersenyum
Senyuman yang melukiskan, kau sedang bahagia

Kudengar, kau tertawa riang
Kucoba mendekatimu
Kududuk di sampingmu
Ku tahu, apa yang kau rasakan
hatimu menjerit....

Disaat kau tak di sampingku
Kau terdiam
Kau melamun
Dan kau menangis seorang diri

Tuhan...
Ku tak kuasa membayangkan keadaan itu
Ku tak ingin air mata jatuh dipipinya
Tetaplah tersenyum setiap saat
Kau tidak sendirian....

Puisi "Keindahan"


Mentari pancarkan sinarnya,
Kududuk di tepi jendela.
Menatap indahnya pesona pagi ini.
Kududuk sambil menopang dagu,
Menatap hamparan sawah mnguning.
 

Tuhan...
Betapa indahnya suasana pagi ini.
Ku bersyukur,
Pagi ini ku masih bisa merasakan keindahan alam-MU...