TEMAN TERINDAH
Seseorang yang sering aku panggil dengan
sebutan teman terindah. Anna. Aku dan Anna berteman sejak duduk dibangku kuliah
pada tahun 2010. Tapi, pertemanan yang dulu dengan sekarang terasa berbeda
sekali. Dulu, aku tidak terlalu peduli dengan apa yang dilakukannya, apa yang
terjadi dengannya dan semuanya. Berbeda dengan sekarang, mataku terbuka lebar
untuk melihat siapa dia yang sebenarnya bisa dianggap sebagai seorang teman.
Suka dan duka kita lalui bersama.
Jam di ruangan tamu menunjukkan pukul
9.30, aku telah siap untuk menuju kampus. Huh, sayang banget hari ini aku ngak
pergi kuliah bareng, Anna. Karena dia, dari jam 8 pagi tadi sudah mengudara di
sebuah radio di kota kelahiranku. No
problem! Nanti juga bisa ketemu di kampus.
Pukul 1 siang, aku masih ada kuliah.
Tapi, tidak tahu kenapa, Anna, mengajakku untuk pulang. Dia terlihat kelelahan.
“Kamu masuk kuliah ntar siang?”
tanyanya.
“Emangnya kenapa?” aku balik nanya.
“Pulang yuk!”
“Pulang? Hmm... ya udah.” Aku menerima
ajakannya untuk pulang.
Di tengah perjalanan menuju pasar
Padangpanjang, tiba-tiba Anna berhenti dan terduduk di depan toko yang masih
tutup.
“Pit, berhenti sebentar ya!” pintanya.
Aku terdiam dan bingung melihat
pemandangan yang ada dihadapanku. Tidak seperti biasanya Anna seperti ini. Sesak napas? Dua kata itu yang terlintas
dibenakku. Beberapa menit kemudian, Anna bangkit dan mengajakku untuk
meneruskan perjalanan. Anna sampai juga di terminal angkot yang akan menuju
rumahnya.
“Pit, aku naik angkotnya disini ya!”
ujarnya.
“Pinjam, aku flashdisk kamu!” pintaku.
Anna merongoh tasnya dan menyerahkan flashdisknya. Aku meraih flashdisk itu.
“Aku duluan ya!” pamitnya.
Aku mengangguk dan dalam hati ku
mengatakan, Hati-hati ya!
Dalam perjalananku menuju rumah, flashdisk yang ada ditanganku kugenggam
erat-erat. Kamu harus tahan sakit itu. Kamu harus kuat. Kamu pasti bisa
melaluinya. Harus kuat. Harus kuat...
Seminggu belakangan ini, Anna sering
merasakan sesak napas dan dia tidak tahu apa penyebabnya. Sesampai ku di rumah,
aku langsung meng-sms Anna. Apa dia
sudah sampai di rumah dengan selamat.
Udah
nyampe di rumah?
Beberapa menit kemudian, ponselku
bergetar.
Udah. (balasnya)
Malam harinya di sudut kamarku, aku
membayangkan apa yang telah terjadi tadi siang. Anna yang tiba-tiba terduduk
karena sesak napas. Pemandangan yang tak pernah kulihat dan hal itu membuatku
bertanya-tanya, apa yang terjadi padanya?
***
Keesokkan harinya, Minggu 28 April.
“Pagi dunia...” lirihku seraya mengambil
ponsel.
Jariku sibuk mengetik sms, hatiku belum tenang sebelum
mengetahui keadaan seseorang yang akhir-akhir ini dekat denganku.
Pagiii... isi sms-ku.
Beberapa menit kemudian, ponselku
bergetar, sms balasan dari Anna.
Pagi
juga.
Kalau
ngerasain lelah dan capek, langsung istirahat ya. Tetap semangat... J (balasku)
Iya.
Makasih. (balasnya)
Pukul 9 pagi di kampusku ada seminar dan
mahasiswa harus mengikuti jalannya seminar tersebut. Dan seperti hari kemarin,
aku menuju kampus seorang diri, karena Anna telah sampai duluan di kampus.
Sejak saat Anna sering menjemputku waktu mau berangkat ke kampus, ada rasa
bahagia dan aku menjadi semangat untuk memulai aktifitasku. Tapi, beberapa hari
ini hal itu sudah jarang terjadi, karena kondisinya yang tidak memungkinkan.
Tapi, hal itu tidak menyurutkan kakiku untuk melangkah menuju kampus tercinta.
Sesampai di kampus aku disambut oleh senyumannya, aku langsung duduk di
sebelahnya. Tidak terasa jam telah menunjukkan pukul 1 siang, seminar masih
berlangsung.
“Pulang yuk!” ajak Anna.
“Hah? Udah jam berapa?” tanyaku.
“Jam 1, aku mau siaran nih!” ingatnya.
“Hmm... ya udah. Kita pulang sekarang!”
ajakku.
Aku berpisah dengan Anna di terminal
angkot. Anna melanjutkan perjalanannya ke radio, karena siang ini dia ada
siaran. Aku melanjutkan perjalananku menuju rumah. Sesampai di rumah, aku
mengganti pakaian dan menghempaskan tubuhku ke atas ranjang. Setelah beberapa
menit terbaring di tempat tidur, aku ingat bahwa Anna belum makan siang. Tumben
hari ini dia ngak ngajak makan siang bareng? Aneh deh? Perasaan kalau ngak
makan siang, dia ngak bakalan kuat buat melanjutkan aktifitasnya. Tiba-tiba
ponselku bergetar, ada sms masuk dari
cowoknya, Anna. Dia menanyakan keadaan Anna.
Udah
makan siang Anna, Pit?
Pertanyaan cowok Anna itu, membuatku
bangkit dari ranjang dan bergegas menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian
aku mengganti pakaian dan bersiap-siap untuk melangkahkan kaki menuju radio.
Tiba-tiba... HUJAN DERAS! Ya Allah, kenapa harus hujan sih? Aku mau pergi nih!
Aduh, kenapa harus pusing sih? Itu cuma hujan, kan masih ada payung! Akhirnya,
aku pun keluar rumah di saat hujan deras. Mantap kan, demi makan siang bareng
Anna. Aku juga khawatir sama keadaannya, ntar gara-gara ngak makan siang, dia
jadi sakit. Alhasilnya, aku sampai juga di radio dan aku melihat dia yang
sedang berada di ruang siaran. Tiba-tiba dia menghampiriku.
“Ikh... kok bisa sampai sini?” katanya
bingung sambil senyum.
“Ah, ngak tahu. Mungkin lagi mimpi nih!”
jawabku asal.
“Tadi katanya di sms mau tidur siang. Kok sekarang sampai ke sini!” serunya.
“Makan yuk!” ajakku sambil menyodorkan
nasi bungkus.
Dia tersenyum dan menggajakku masuk ke
ruangan siaran. Dan setelah itu kami makan sore bareng.
Hidup ini begitu indah. Keindahan itu dirasakan saat
kamu bisa membuat seseorang tersenyum bahagia. Hanya dengan melakukan hal kecil saja, keindahan tersebut
akan mudah kamu dapatkan. Beberapa waktu yang lalu, telah terlintas dibenakku
untuk melakukan hal kecil itu. Namun, aku belum yakin, keindahan yang
kubayangkan itu akan kudapatkan. Hmm... hati kecilku berkata, selalu positive thinking dan yakinlah dengan niatmu
yang tulus itu, semua yang kamu bayangkan akan terwujud.
Sore ini, keindahan itu kembali kudapatkan. Dan
ternyata benar, aku bisa menyimpulkan bahwa kamu benar-benar senang berada di
dekatku. Tak perlu lagi ku meragukan hal itu, karena aku telah melihat bukti
nyatanya, terpampang nyata sekali dihadapanku saat ini. Kamu tersenyum, itu
lebih dari cukup. Senang banget bisa bikin orang yang kita sayang bahagia,
walaupun beberapa hari belakangan ini kamu tidak bersemangat karena kondisi
kamu yang kurang sehat.
Apapun yang terjadi pada dirimu,tetaplah semangat
dan yakinlah bahwa kamu tidak seorang diri. Banyak orang yang sayang sama kamu,
jadi jangan pernah putus asa dan jangan bersedih.
***
Dua minggu kemudian, tepatnya pada
tanggal 11 Mei, Anna ngak masuk kuliah, karena hari ini dia pergi ke rumah
sakit untuk chek-up. Sehari ngak
lihat dia di kelas rasanya ada yang hilang. I
Loss U today!
Sore harinya, Anna memberitahu kepada
ku, kalau tidak ada halangan hari senin dia akan di operasi.
JLEB!!!
Seminggu yang lalu, dia juga pernah
mengatakan hal yang sama. Dan terbukti, itu ngak terjadi. Lalu bagaimana dengan
yang sekarang, apa benar itu akan terjadi? Operasi? Rumah sakit? Ah... tak ada
yang menyenangkan dari dua kata itu. Kenapa harus dia? Kenapa bukan aq? Dan
kenapa juga bukan kalian? Kenapa?
Minggu, sorenya setelah pulang dari kota
Bukittinggi, aku menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Anna. Dia kaget
melihat kedatanganku.
“Ikhh... katanya mau tidur siang? Kok
bisa ada disini?” tanyanya kesal.
“Yeee... orang mau ketemu Kak Ria juga!”
alasanku.
“Oh ya... habis darimana?” tanyanya.
“Darimana aja boleh!” seruku.
Ternyata, emang benar besok dia mau di
operasi. Huftt... pikiranku melayang. Dia memintaku besok datang ke rumah
sakit. Tanpa diminta pun, aku juga bakalan ke sana.
***
Senin, 13 Mei 2013. Rumah Sakit Umum Padangpanjang.
Senin, 13 Mei 2013. Rumah Sakit Umum Padangpanjang.
Sejak pagi, Anna sudah berada di rumah
sakit. Dia menunggu waktu buat masuk ruang operasi. Operasi? Pagi harinya, aku
membantu mama menjahit. Hah, badanku memang ada di toko, tapi pikiranku sudah
bercabang-cabang. Kapan pekerjaanku selesai? Apa Anna tetap akan di operasi
hari ini? Pengen ada di dekatnya! Perasaanku kacau balau, ngak bakalan bisa
tenang sebelum bisa melihat sendiri keadaan Anna.
Pukul 16.30 WIB, pekerjaanku selesai dan
aku langsung menuju rumah sakit. Butuh waktu 15 menit untuk sampai di rumah
sakit. Dari kejauhan aku melihat cowoknya Anna sedang duduk, mungkin dia
menunggu kedatanganku. Aku melangkahkan kaki menujunya dan bersalaman
dengannya, karena selama ini belum pernah ketemu secara langsung. Dia
mengajakku masuk dan dia bercerita kalau Anna sekarang masih berada di ruang
operasi.
Aku melihat ada kak Ria, Mya dan ayahnya
Anna. Aku duduk di sebelah kak Ria yang sedang sibuk menelepon. Selama 45 menit
aku duduk di tempat itu, menunggu itu memang hal yang paling membosankan. Yang
paling penting adalah tetap berdo’a untuk kelancaran operasi Anna. Beberapa
menit kemudian, beberapa perawat memasuki ruang operasi. Kak Ria bangkit dan
mengikuti perawat itu. Perawat tadi membawa seorang pasien untuk di tempatkan
di ruang bedah. Dan pasien itu, orang yang kami tunggu. Aku terdiam saat
perawat itu lewat dihadapanku membawa Anna yang masih terbaring. Cowok Anna,
memanggilku dan lalu aku mengikutinya. Perawat tadi membawa Anna ke lantai atas
dengan lift.
Ruang Bedah ‘Sirsak’.
Setelah menyelesaikan tugasnya,
perawat-perawat tadi meninggalkan ruang bedah. Kak Ria, Mya dan cowoknya Anna,
mendekati ranjang Anna. Aku memilih berdiri menjauh dari ranjang Anna. Beberapa
menit kemudian, Anna siuman.
“Sa...kit!” serunya.
Satu kata yang berulang kali
diucapkannya. Dia merintih kesakitan dan dia menangis. Dan lagi, aku melihat
pemandangan yang tidak pernah kulihat selama ini. Anna menangis. Ini untuk
pertama kalinya, aku melihat dia menangis. Aku paling ngak tahan melihat orang
menangis. Rasanya pengen keluar dari ruangan ini, karena sekarang mataku
berkaca-kaca, aku mau nangis juga!
“Kak Titis, berdiri di sini dong!” ajak
Mya.
“Pit, jangan menangis pula!” seru kak
Ria.
Anna berusaha melihat ke arahku berdiri.
“Ngapain si Pit berdiri di sana?” tanyanya.
“Pit, pindah berdiri ke samping Anna.
Susah dia melihat Pit!” ujar cowok Anna.
Akhirnya, aku melangkahkan kaki ke dekat
ranjang Anna. Aku ngak kuat untuk melihat dia yang terbaring di ranjang itu.
Tidak berani untuk menatapnya. Aku mengalihkan pandanganku ke luar jendela. Kuingin
menggengam erat tangannya dan memberinya
semangat. Tapi apa daya, aku saja tidak kuasa melihat keadaannya saat ini.
Tuhan, kenapa harus dia?
Rencana Tuhan memang indah. Sejak aku
mengetahui kondisinya seperti itu, sejak saat itu aku semakin care sama dia. Sehari saja ngak melihat
dia rasanya ada yang hilang. Dan aku yakin,bahwa semua ini akan indah pada
waktunya. Tidak selamanya seseorang hidup menderita, karena kebahagiaan itu
pasti kamu dapatkan. Percayalah!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar