Sabtu, 18 Mei 2013

TEMAN TERINDAH (Cerpen)



TEMAN TERINDAH

Seseorang yang sering aku panggil dengan sebutan teman terindah. Anna. Aku dan Anna berteman sejak duduk dibangku kuliah pada tahun 2010. Tapi, pertemanan yang dulu dengan sekarang terasa berbeda sekali. Dulu, aku tidak terlalu peduli dengan apa yang dilakukannya, apa yang terjadi dengannya dan semuanya. Berbeda dengan sekarang, mataku terbuka lebar untuk melihat siapa dia yang sebenarnya bisa dianggap sebagai seorang teman. Suka dan duka kita lalui bersama.
Jam di ruangan tamu menunjukkan pukul 9.30, aku telah siap untuk menuju kampus. Huh, sayang banget hari ini aku ngak pergi kuliah bareng, Anna. Karena dia, dari jam 8 pagi tadi sudah mengudara di sebuah radio di kota kelahiranku. No problem! Nanti juga bisa ketemu di kampus.
Pukul 1 siang, aku masih ada kuliah. Tapi, tidak tahu kenapa, Anna, mengajakku untuk pulang. Dia terlihat kelelahan.
“Kamu masuk kuliah ntar siang?” tanyanya.
“Emangnya kenapa?” aku balik nanya.
“Pulang yuk!”
“Pulang? Hmm... ya udah.” Aku menerima ajakannya untuk pulang.
Di tengah perjalanan menuju pasar Padangpanjang, tiba-tiba Anna berhenti dan terduduk di depan toko yang masih tutup.
“Pit, berhenti sebentar ya!” pintanya.
Aku terdiam dan bingung melihat pemandangan yang ada dihadapanku. Tidak seperti biasanya Anna seperti ini. Sesak napas? Dua kata itu yang terlintas dibenakku. Beberapa menit kemudian, Anna bangkit dan mengajakku untuk meneruskan perjalanan. Anna sampai juga di terminal angkot yang akan menuju rumahnya.
“Pit, aku naik angkotnya disini ya!” ujarnya.
“Pinjam, aku flashdisk kamu!” pintaku.
Anna merongoh tasnya dan menyerahkan flashdisknya. Aku meraih flashdisk itu.
“Aku duluan ya!” pamitnya.
Aku mengangguk dan dalam hati ku mengatakan, Hati-hati ya!
Dalam perjalananku menuju rumah, flashdisk yang ada ditanganku kugenggam erat-erat. Kamu harus tahan sakit itu. Kamu harus kuat. Kamu pasti bisa melaluinya. Harus kuat. Harus kuat...
Seminggu belakangan ini, Anna sering merasakan sesak napas dan dia tidak tahu apa penyebabnya. Sesampai ku di rumah, aku langsung meng-sms Anna. Apa dia sudah sampai di rumah dengan selamat.
Udah nyampe di rumah?
Beberapa menit kemudian, ponselku bergetar.
Udah. (balasnya)
Malam harinya di sudut kamarku, aku membayangkan apa yang telah terjadi tadi siang. Anna yang tiba-tiba terduduk karena sesak napas. Pemandangan yang tak pernah kulihat dan hal itu membuatku bertanya-tanya, apa yang terjadi padanya?
***
Keesokkan harinya, Minggu 28 April.
“Pagi dunia...” lirihku seraya mengambil ponsel.
Jariku sibuk mengetik sms, hatiku belum tenang sebelum mengetahui keadaan seseorang yang akhir-akhir ini dekat denganku.
Pagiii... isi sms-ku.
Beberapa menit kemudian, ponselku bergetar, sms balasan dari Anna.
Pagi juga.
Kalau ngerasain lelah dan capek, langsung istirahat ya. Tetap semangat... J (balasku)
Iya. Makasih. (balasnya)

Pukul 9 pagi di kampusku ada seminar dan mahasiswa harus mengikuti jalannya seminar tersebut. Dan seperti hari kemarin, aku menuju kampus seorang diri, karena Anna telah sampai duluan di kampus. Sejak saat Anna sering menjemputku waktu mau berangkat ke kampus, ada rasa bahagia dan aku menjadi semangat untuk memulai aktifitasku. Tapi, beberapa hari ini hal itu sudah jarang terjadi, karena kondisinya yang tidak memungkinkan. Tapi, hal itu tidak menyurutkan kakiku untuk melangkah menuju kampus tercinta. Sesampai di kampus aku disambut oleh senyumannya, aku langsung duduk di sebelahnya. Tidak terasa jam telah menunjukkan pukul 1 siang, seminar masih berlangsung.
“Pulang yuk!” ajak Anna.
“Hah? Udah jam berapa?” tanyaku.
“Jam 1, aku mau siaran nih!” ingatnya.
“Hmm... ya udah. Kita pulang sekarang!” ajakku.
Aku berpisah dengan Anna di terminal angkot. Anna melanjutkan perjalanannya ke radio, karena siang ini dia ada siaran. Aku melanjutkan perjalananku menuju rumah. Sesampai di rumah, aku mengganti pakaian dan menghempaskan tubuhku ke atas ranjang. Setelah beberapa menit terbaring di tempat tidur, aku ingat bahwa Anna belum makan siang. Tumben hari ini dia ngak ngajak makan siang bareng? Aneh deh? Perasaan kalau ngak makan siang, dia ngak bakalan kuat buat melanjutkan aktifitasnya. Tiba-tiba ponselku bergetar, ada sms masuk dari cowoknya, Anna. Dia menanyakan keadaan Anna.
Udah makan siang Anna, Pit?
Pertanyaan cowok Anna itu, membuatku bangkit dari ranjang dan bergegas menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian aku mengganti pakaian dan bersiap-siap untuk melangkahkan kaki menuju radio. Tiba-tiba... HUJAN DERAS! Ya Allah, kenapa harus hujan sih? Aku mau pergi nih! Aduh, kenapa harus pusing sih? Itu cuma hujan, kan masih ada payung! Akhirnya, aku pun keluar rumah di saat hujan deras. Mantap kan, demi makan siang bareng Anna. Aku juga khawatir sama keadaannya, ntar gara-gara ngak makan siang, dia jadi sakit. Alhasilnya, aku sampai juga di radio dan aku melihat dia yang sedang berada di ruang siaran. Tiba-tiba dia menghampiriku.
“Ikh... kok bisa sampai sini?” katanya bingung sambil senyum.
“Ah, ngak tahu. Mungkin lagi mimpi nih!” jawabku asal.
“Tadi katanya di sms mau tidur siang. Kok sekarang sampai ke sini!” serunya.
“Makan yuk!” ajakku sambil menyodorkan nasi bungkus.
Dia tersenyum dan menggajakku masuk ke ruangan siaran. Dan setelah itu kami makan sore bareng.
Hidup ini begitu indah. Keindahan itu dirasakan saat kamu bisa membuat seseorang tersenyum bahagia. Hanya dengan  melakukan hal kecil saja, keindahan tersebut akan mudah kamu dapatkan. Beberapa waktu yang lalu, telah terlintas dibenakku untuk melakukan hal kecil itu. Namun, aku belum yakin, keindahan yang kubayangkan itu akan kudapatkan. Hmm... hati kecilku berkata, selalu positive thinking dan yakinlah dengan niatmu yang tulus itu, semua yang kamu bayangkan akan terwujud.
Sore ini, keindahan itu kembali kudapatkan. Dan ternyata benar, aku bisa menyimpulkan bahwa kamu benar-benar senang berada di dekatku. Tak perlu lagi ku meragukan hal itu, karena aku telah melihat bukti nyatanya, terpampang nyata sekali dihadapanku saat ini. Kamu tersenyum, itu lebih dari cukup. Senang banget bisa bikin orang yang kita sayang bahagia, walaupun beberapa hari belakangan ini kamu tidak bersemangat karena kondisi kamu yang kurang sehat.
Apapun yang terjadi pada dirimu,tetaplah semangat dan yakinlah bahwa kamu tidak seorang diri. Banyak orang yang sayang sama kamu, jadi jangan pernah putus asa dan jangan bersedih.
***

Dua minggu kemudian, tepatnya pada tanggal 11 Mei, Anna ngak masuk kuliah, karena hari ini dia pergi ke rumah sakit untuk chek-up. Sehari ngak lihat dia di kelas rasanya ada yang hilang. I Loss U today!
Sore harinya, Anna memberitahu kepada ku, kalau tidak ada halangan hari senin dia akan di operasi.
JLEB!!!
Seminggu yang lalu, dia juga pernah mengatakan hal yang sama. Dan terbukti, itu ngak terjadi. Lalu bagaimana dengan yang sekarang, apa benar itu akan terjadi? Operasi? Rumah sakit? Ah... tak ada yang menyenangkan dari dua kata itu. Kenapa harus dia? Kenapa bukan aq? Dan kenapa juga bukan kalian? Kenapa?
Minggu, sorenya setelah pulang dari kota Bukittinggi, aku menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Anna. Dia kaget melihat kedatanganku.
“Ikhh... katanya mau tidur siang? Kok bisa ada disini?” tanyanya kesal.
“Yeee... orang mau ketemu Kak Ria juga!” alasanku.
“Oh ya... habis darimana?” tanyanya.
“Darimana aja boleh!” seruku.
Ternyata, emang benar besok dia mau di operasi. Huftt... pikiranku melayang. Dia memintaku besok datang ke rumah sakit. Tanpa diminta pun, aku juga bakalan ke sana.
***
Senin, 13 Mei 2013. Rumah Sakit Umum Padangpanjang.
Sejak pagi, Anna sudah berada di rumah sakit. Dia menunggu waktu buat masuk ruang operasi. Operasi? Pagi harinya, aku membantu mama menjahit. Hah, badanku memang ada di toko, tapi pikiranku sudah bercabang-cabang. Kapan pekerjaanku selesai? Apa Anna tetap akan di operasi hari ini? Pengen ada di dekatnya! Perasaanku kacau balau, ngak bakalan bisa tenang sebelum bisa melihat sendiri keadaan Anna.
Pukul 16.30 WIB, pekerjaanku selesai dan aku langsung menuju rumah sakit. Butuh waktu 15 menit untuk sampai di rumah sakit. Dari kejauhan aku melihat cowoknya Anna sedang duduk, mungkin dia menunggu kedatanganku. Aku melangkahkan kaki menujunya dan bersalaman dengannya, karena selama ini belum pernah ketemu secara langsung. Dia mengajakku masuk dan dia bercerita kalau Anna sekarang masih berada di ruang operasi.
Aku melihat ada kak Ria, Mya dan ayahnya Anna. Aku duduk di sebelah kak Ria yang sedang sibuk menelepon. Selama 45 menit aku duduk di tempat itu, menunggu itu memang hal yang paling membosankan. Yang paling penting adalah tetap berdo’a untuk kelancaran operasi Anna. Beberapa menit kemudian, beberapa perawat memasuki ruang operasi. Kak Ria bangkit dan mengikuti perawat itu. Perawat tadi membawa seorang pasien untuk di tempatkan di ruang bedah. Dan pasien itu, orang yang kami tunggu. Aku terdiam saat perawat itu lewat dihadapanku membawa Anna yang masih terbaring. Cowok Anna, memanggilku dan lalu aku mengikutinya. Perawat tadi membawa Anna ke lantai atas dengan lift.
Ruang Bedah ‘Sirsak’.
Setelah menyelesaikan tugasnya, perawat-perawat tadi meninggalkan ruang bedah. Kak Ria, Mya dan cowoknya Anna, mendekati ranjang Anna. Aku memilih berdiri menjauh dari ranjang Anna. Beberapa menit kemudian, Anna siuman.
“Sa...kit!” serunya.
Satu kata yang berulang kali diucapkannya. Dia merintih kesakitan dan dia menangis. Dan lagi, aku melihat pemandangan yang tidak pernah kulihat selama ini. Anna menangis. Ini untuk pertama kalinya, aku melihat dia menangis. Aku paling ngak tahan melihat orang menangis. Rasanya pengen keluar dari ruangan ini, karena sekarang mataku berkaca-kaca, aku mau nangis juga!
“Kak Titis, berdiri di sini dong!” ajak Mya.
“Pit, jangan menangis pula!” seru kak Ria.
Anna berusaha melihat ke arahku berdiri. “Ngapain si Pit berdiri di sana?” tanyanya.
“Pit, pindah berdiri ke samping Anna. Susah dia melihat Pit!” ujar cowok Anna.
Akhirnya, aku melangkahkan kaki ke dekat ranjang Anna. Aku ngak kuat untuk melihat dia yang terbaring di ranjang itu. Tidak berani untuk menatapnya. Aku mengalihkan pandanganku ke luar jendela. Kuingin menggengam erat tangannya dan  memberinya semangat. Tapi apa daya, aku saja tidak kuasa melihat keadaannya saat ini. Tuhan, kenapa harus dia?
Rencana Tuhan memang indah. Sejak aku mengetahui kondisinya seperti itu, sejak saat itu aku semakin care sama dia. Sehari saja ngak melihat dia rasanya ada yang hilang. Dan aku yakin,bahwa semua ini akan indah pada waktunya. Tidak selamanya seseorang hidup menderita, karena kebahagiaan itu pasti kamu dapatkan. Percayalah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar