PENYIAR
KESAYANGANKU !!!
Hari
ini adalah hari terakhir aku dan team
drama Pakaian dan Kepalsuan latihan. Minggu, 13 Januari, latihan dimulai dengan
penampilan team drama Penggali Intan.
Not bad! Mereka keren dan aktingnya
luar biasa. Satu jam telah berlalu, teman satu team-ku menanyakan keberadaan music
director kami, Anna. Hmmm… mereka bertanya padaku! Wajar saja, karena
mereka mengetahui aku adalah teman dekatnya.
“Tis,
Jannah mana?” Tanya Ronny, selaku Pimpinan Produksi.
Aku
hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
“Tolong
sms dia dong!” pintanya.
Ahh…
Pengen aku timpuk tuh orang! “Suruh Ija aja, itu kan tugasnya Ija!” ujarku.
Saat
team kami akan melakukan gladi resik, tiba-tiba ada telepon masuk
dari seorang teman yang juga anggota team
drama, dia tidak dapat menghadiri gladi
resik malam ini. Dia ingin berbicara dengan pimpinan produksi. Aku pun
melangkahkan kaki menuju luar ruangan, karena pimpinan produksi sedang
berbincang-bincang dengan sutradara.
“Ron,
Rere mau ngomong sama kamu!” seruku sambil menyerahkan ponselku.
Ronny
mengambil ponselku dan berbicara dengan Rere. Aku memutar badanku kearah
koridor dan mataku memandang orang yang dicari-cari pimpro tadi, Anna. Ohh…
datang juga ya! Senang bisa melihatmu malam ini, tapi kenapa selalu bersama
mereka? Plakkkk!!! Sakit hati lagi!
Beberapa
menit kemudian, Ronny mengembalikan ponselku dan aku kembali memasuki ruangan
latihan drama. Saatnya beraksi team
drama Pakaian dan Kepalsuan, semangat teman-teman! Aku dan anggota team yang lainnya menyaksikan penampilan
aktor dan aktris yang sedang memperlihatkan kemampuan masing-masing.
Tidak
terasa acara gladi resik pun berlangsung sampai tengah malam. Aku dan team
drama akan menginap di ruangan latihan ini. Ada beberapa teman yang sibuk
mengabadikan moment malam ini dengan
kamera ponselnya.
“Titis,
masukin foto-foto ini ke facebook
ya?” pinta Sari, selaku bendahara team
drama. Sari memperlihatkan foto yang di abadikannya dan tangannya berhenti di
satu foto. Foto dia bersama Anna.
“Hehee…
kamu iri kan?” ledeknya.
Aku
hanya tersenyum mendengar ucapan Sari tersebut. Apalah arti sebuah foto itu?
Pertunjukan
drama ini akan diadakan besok pagi di gedung M.Syafe’I Padangpanjang.
Akhir-akhir ini aku dan team ekstra
bekerja keras untuk menampilkan yang terbaik disaat hari pertunjukkan.
Jam
telah menunjukkan pukul 11 malam, aku dan teman-teman bersiap-siap untuk
istirahat sejenak. Ada yang benar-benar tidur dan ada yang asik menonton film.
Aku lebih memilih untuk tidur, karena kondisiku masih dalam keadaan sakit.
Sakit ini tak kunjung sembuh, padahal sejak keberangkatan studi banding kemarin
aku dalam kondisi yang kurang sehat, sampai saat ini.
Berbalutkan
dengan jaket dan sehelai kain sarung, wah dingin! Aku mencoba untuk menutup
mata, walaupun teman yang lain masih pada ribut. Tiba-tiba aku merasakan ada
sebuah kehangatan dari seseorang dan ternyata ada teman yang berbaik hati
menghilangkan hawa dingin yang kurasakan. Dia menyelimutiku. Hmmm… terima
kasih!
Jujur,
aku mengharapkan orang yang berbaik hati itu adalah dia. Orang yang telah aku
anggap sebagai adik. Tapi aku hanya bisa menggigit bibirku dan lalu
membayangkan hal yang menurutku indah. Hah! Untung saat ini wajahku tertutupi
dengan jaket yang kupakai. Menangis pun juga ngak akan ada yang mengetahuinya.
JANGAN SEDIH VITRI!!!
Jam
5 subuh, sutradara membangunkan anggota drama dan menyarankan kepada anggota
untuk istirahat saja, tidak perlu ikut datang ke gedung subuh ini. Kami pun
setuju dan kembali ke kosan dan rumah. Keesokkan harinya, pertunjukan drama ini
akan berlangsung. Segala persiapan telah dipersiapkan dengan matang agar
pertunjukkan ini sukses. Acara dimulai pada pukul 9 pagi sampai pukul 1 siang.
Pertunjukkan
drama ini sukses berkat kerja sama antara 3 team
drama. Walaupun ada perselisihan antara satu team dengan team yang
lainnya. Setelah acara benar-benar usai, aku bersiap-siap untuk pulang. Capek
banget dan butuh istirahat yang banyak. Aku melangkahkan kaki keluar gedung,
sesaat aku melihat temanku, Dewi duduk di luar gedung bersama team dramanya.
“Dewi…
aku pulang duluan ya! Capek banget!” seruku dari kejauhan. Sesaat mataku
tertuju pada sosok yang ada dibelakang Dewi. Ada Anna dan teman-teman
tersayangnya. Rasa kesal pun kembali hadir. BĂȘte banget! Pengen cepat-cepat
menghilang dari hadapan semua orang.
“Tunggu
bentar lagi lah!” sahutnya.
Aku
menggelengkan kepala, “Ogah! Capek!” seruku dan melangkahkan kaki menuju
gerbang.
Beberapa
menit kemudian aku sampai juga dirumah. Ahh… hari-hari yang melelahkan, aku mau
tidur nyenyak dan tidak mau diganggu oleh siapapun. Selamat tidur siang!
***
Selasa
pagi, aku masih betah tidur-tiduran di tempat tidur. Aku meraih ponsel lalu
memasang headset ketelingaku untuk
mendengarkan lagu-lagu kesukaanku. Tidak tahu kenapa, aku beralih mematikan mp3 ponselku dan menyetel saluran radio
98.6 TOP FM. Ya elah… lagu minang mengudara, jujur aku kurang suka dengan lagu
minang. Beberapa detik saat mau mematikan saluran radio, aku terperangah
mendengar suara dari penyiar yang pagi itu mengudara dan aku mengurungkan niat
untuk mematikannya.
Suara
yang tidak asing lagi di telingaku, suara orang yang belakangan ini menjauhiku.
Jujur aku tidak pernah membencimu. Apapun yang pernah kuutarakan lewat sms itu, belum tentu itu berasal dari
hatiku. Aku merindukanmu Anna. Hmmm… pagi ini aktifitasku akan diiringi dengan
suaramu. Rindu ini sedikit terobati, I
like Sitiiii…
Rabu,
16 Januari 2013
Pagi
ini aku kembali menyetel radio 98.6 TOP FM. Hmm… penyiarnya bukan dia! Aku lalu
mematikan radio dan beralih ke laptop, saatnya memainkan game-game kesukaan.
Akhirnya aku jenuh dan merasa bosan dengan kegiatan seperti ini. Aku beralih
menonton film yang ada di dalam laptop. Tidak terasa jam di dinding menunjukkan
pukul 3 sore. Aku kembali meraih ponselku dan menyetel radio. Aku tersenyum
saat mendengar suara penyiar radio yang bertugas sore ini. Ini dia yang aku
tunggu dari tadi pagi, Anna Shavira.
“Nantikan
TOP NEWS selanjutnya, satu jam mendatang… Bersama saya, Anna Shavira!” kata
penyiar saat membacakan berita.
Saat
gelaran mp3 berlangsung yang
dibawakan Anna, aku berniat untuk ikut gabung. Aku mengecek sisa pulsa yang ada
dan sepertinya bisa digunakan untuk gabung dalam siaran sore ini. Sudah ada
beberapa penelepon yang gabung sehingga pada saat lagu yang direquest telah
habis diputar. Aku mencoba untuk menelepon ke radio TOP FM, setelah beberapa
kali ngak masuk-masuk, akhirnya teleponku nyambung juga.
“Sore!” sapa penyiar.
“Sore.” Sahutku.
“Dengan siapa dan dimana?”
tanyanya.
“Vitri, dirumah!” jawabku singkat.
Aku tidak tahu apa dia mengetahui kalau orang yang sedang gabung dalam
siarannya ini adalah orang yang dijauhinya belakangan ini.
“Hmm… kayaknya Anna kenal suaranya
deh!” ungkapnya.
“Ah… iyakah?”
“Vitri ,apa kabar?” tanyanya.
“Lagi kurang sehat nih! Hmm… request
lagu dong!” kataku mengalihkan pembicaraan.
“Hmmm… cepat sembuh aja ya! Oke… Di
playlist kita sore ini ada ………” sebelum
selesai dia menyebutkan list lagu,
aku memotongnya dengan menyebutkan salah satu lagu yang cocok banget kondisinya
yang kurasakan akhir-akhir ini.
“D’Masiv aja kak!” seruku.
“Hmmm… D’Masiv – Aku Kehilanganmu.
Wah kehilangan siapa nih? Oke yang satu lagi lagunya apa, Vitri?”
“Last Child- Sekuat Hatimu!”
sahutku.
“Oke… salam-salamnya buat siapa,
Vitri?”
“Buat semua yang lagi dengerin TOP
FM aja! Spesialnya buat orang yang akhir-akhir ini menjauhi saya. Itu aja !”
ungkapku.
“Hmm… oke, Vitri ditunggu ya
lagunya! Terima kasih. Assalamu’alaikum!” katanya menutup telepon.
“Wa’alaikum salam!”
Setelah
aku menelepon ke radio, aku mendengarkan Anna mengatakan bahwa, “Ya, baru saja
ada teman Anna, Vitri yang ikut gabung dan me-request lagu D’Masiv- Aku Kehilanganmu dan Last Child- Sekuat
Hatimu…….”
“Teman?
Apa benar aku temanmu?” batinku. (JAWAB WOY!!!)
Pukul
5 sore, ponselku bergetar ada pesan masuk dari nomor yang tidak ada namanya.
Thank
you
ya. Muachh!!! isi pesannya.
Hah…
sejak malam itu dia pengen mundur dan menjauhiku, aku menghapus nomornya dari
ponselku. Kesal mendengar keputusannya yang ngak banget itu. Nomornya emang aku
hapus dari ponsel, itu hal yang sangat mudah dan gampang. Tapi, untuk menghapus
kenangan yang ada saat bersamanya, itu adalah hal tersulit dalam hidupku. Tak akan
bisa dihapus semudah menghapus nomor ponselnya.
Aku
membalas pesannya, Aneh! send…
Tidak
terasa gelaran mp3 sudah hampir habis
waktunya. “Ahh… cepat banget sih?” keluhku. Aku belum puas mendengarkannya,
maksudku mendengar suara penyiarnya.
Keesokkan
harinya di kampus, pagi ini diawali dengan ujian praktek AIK. Aku menghafal
beberapa ayat yang harus disetor kepada dosen. Hmmm… melelahkan harus melakukan
hal seperti ini. Aku dan teman-teman menunggu giliran dipanggil oleh dosen
pengampu. Aku tidak melihat dia. Hmmm… panjang umur, dia datang juga. Senang
melihatmu, tapi sayang aku kesal melihat kamu selalu bersama mereka. Aku
kembali fokus sama hafalan surat pendek.
Ujian
telah selesai, namun aku belum bisa pulang. Jam 2 siang salah seorang dosen
mengajak teman-teman rapat. Saat jarum jam menunjukkan pukul setengah tiga
sore, seseorang terlihat gelisah.
“Aku
jam 3 harus kerja nih, masih lama rapatnya?” Tanya Anna pada Leci.
“Udah,
pergi aja! Kayaknya rapatnya masih lama.” Usulnya.
Akhirnya
Anna memutuskan meninggalkan ruangan rapat dan melangkahkan kaki menuju
pintu keluar. Jam telah menunjukkan
pukul 3 lewat 5 menit, aku memasang headseat
ponselku dan menyetel radio TOP FM. Aku tersenyum saat mendengar suara
penyiar sore ini. Anna Shavira. Aku sangat senang saat mendengar suaramu, entah
kenapa hatiku menjadi adem dan tenang. Pukul setengah empat, aku kembali
menelepon ke radio.
“Sore!” sapa penyiar.
“Sore!” sahutku.
“Dengan siapa dan dimana?”
tanyanya.
“Vitri.” Seruku.
“Hmmm… Vitri, masih di kampus kah?”
tanyanya.
“Lagi di jalan mau pulang.”
Jawabku.
“Pulang sama siapa?”
“Hmm… sendirian. Temenin aku pulang
donk!” kataku.
“Hmm…”
“Request donk!” pintaku.
Anna
menyebutkan playlist sore ini satu
persatu.
“Lagu Permaisuriku aja dan Last
Child- Sekuat Hatimu!” seruku.
“Hmm, hatinya udah kuat kok! Oke.
Salam-salamnya buat siapa?” tanyanya.
“Salamnya buat semua pendengar
setia TOP FM dan buat Suci yang ada disebelahku. Terus salam specialnya buat
cewek yang berinisial “J” aja!” ungkapku.
“Oke. Itu aja Vitri. Hmmm… Ditunggu
aja ya lagunya! Assalam mu’alaikum, Vitri!”
“Wa’alaikum salam.”
Perjalanan
pulang ke rumah sore ini, ditemani suaramu dan lagu request-an ku. Hmmm… sore ini indah banget.
Malam
harinya aku mengirim pesan kepada Anna.
Kak request lagu D’Masiv – Aku
Kehilanganmu dong?
Beberapa
menit kemudian, Anna membalas pesanku.
Lagi ngak nyiar tuh. Kalau mau
request hari sabtu aja. Hehe… promosi!
Tahu ngak kalau yang nelpon kemarin
itu aku? tanyaku lagi.
Iya aku tahu itu kamu. Kan setelah
kamu nelpon kemarin, aku sms bilang thank
you gitu. Hehe…
Yah,
sesuai lagu yang aku request “Aku
Kehilanganmu”. Itu benar 100 persen! Lewat radio rasa kehilangan ini sedikit
terobati, walau cuma bisa dengar suaramu itu sudah cukup kok.
Hari
ini seperti biasa aku membantu mama di toko. Entah kenapa dua hari belakangan
ini, aku membayangkan seandainya saja dia datang kesini. Terus kita pergi makan
siang dan melepas rasa rindu ini. Hmmm… ada-ada saja yang kubayangkan. Saat aku
sedang memotong kain, tiba-tiba aku terperangah, kaget melihat orang yang
sedang tersenyum padaku. Anna, orang yang kubayangkan beberapa menit yang lalu
sekarang ada dihadapanku. WAW! Dia menyapa mama dan duduk didekat mama. Aku
masih sibuk memotong kain, hatiku senang dan aku senyum-senyum sendiri. Tahu
aja orang lagi kangen ! >_<
Beberapa
hari kemudian, siang harinya aku mengirim pesan pada Anna.
Punya lagu india ngak? Bagi donk?!
Balasnya:
Kayaknya ada, tapi adanya di flashdisk-ku. Di ponsel ngak ada.
Ya, mintaaaaa…. (balasku)
Wani Piro?
Maunya apa?
(tawarku)
Semangkuk bakso. Hahaa…
Maunya. Boleh. Kapan?
(balasku)
Besok siang aja. Soalnya pagi, aku
kerja.
Hmmm… oke! Tapi, kamu mau makan bakso
aja atau mau dekat sama yang ngajak? Hohoo…(tanyaku)
Dua-duanya. Haha… PD amat sech!
(balasnya)
Aku
tertawa membaca balasannya. Sampai ketemu besok siang, Anna.
Selasa
siang, aku menunggu kedatangan Anna di toko. Ternyata Anna datang lebih awal
dari jam yang dijanjikannya. Akhirnya jam 2 siang aku dan Anna on the
way bakso Setia walau suasana
siang itu diguyur hujan. Aku menikmati kebersamaan hari ini, setelah belakangan
ini jarang bisa berada dalam situasi sore ini. I’m happy with you. Semoga kamu juga merasakannya.^,^
Rabu,
30 januari, seharian ini aku tidak mendengar suaramu di radio. Hmm… suara
penyiar yang lainnya tidak membuatku tertarik untuk mendengarkan celotehan
mereka. Aku akan semangat saat mendengarkan suaramu, Anna. Itulah yang aku
rasakan saat beberapa hari belakangan ini. Ternyata ayahnya masuk rumah sakit
lagi.
Malam
harinya, saat aku membuka facebook,
aku melihat ada inbox dari cowoknya
Anna. Dia menanyakan nomor ponselku dan memintaku untuk meng-sms dia. Pasti mau membahas tentang
Anna. Itu sudah pasti.
Satu
pertanyaan dari cowoknya Anna yang membuatku tersenyum, “Masih sayang ngak sama
Anna?”
Hmm…
walaupun aku pernah mengatakan kepada Anna bahwa aku sangat membencinya setelah
dia mengambil sebuah keputusan yang membuatku sampai meneteskan airmata. Dalam
hati kecilku, aku ngak pernah mau mengatakan hal itu. Aku tidak pernah
membencinya. Aku membenci diriku sendiri karena telah membuat dua hati
tersakiti. Anna dan Dewi.
Aku
menjawab pertanyaan cowok Anna, “Dari dulu terus sampai Anna pengen menjauh dan
sampai sekarang masih sayang kok sama Anna!”
Cowok
Anna menceritakan apa yang sedang dialami Anna pada saat ini dan termasuk keinginan Anna untuk berhenti
kuliah karena melihat keadaan ayahnya saat sekarang ini. Saat mengetahui hal
itu, pikiranku menjadi kacau. Kenapa selalu mengambil keputusan secepat itu?
Setiap masalah itu pasti ada jalan keluarnya, berhenti kuliah bukanlah jalan
yang tepat! Dan aku terperangah saat mendengar kebohongan yang telah dilakukan
Anna terhadap cowoknya. Cowoknya merasa
kecewa saat mengetahui bahwa hari selasa saat dia mau mengajak jalan, Anna
membatalkan janjinya karena beberapa alasan. Padahal siang itu dia pergi
bersamaku makan bakso. Biasanya kalau cewek yang diajak cowoknya jalan pasti
mau banget, bisa ketemuan terus. Tapi kenapa kali ini dia berbuat seperti itu.
Anna ingin selalu dekat sama Vitri
dan Anna sekarang ini kangen sama Vitri. Apapun yang dilakukan sama Anna
belakangan ini, hanya untuk menghindari pertengkaran yang terjadi antara Vitri
dan Dewi.
Setelah
mendengar sebuah kebenaran yang tidak pernah ku ketahui, malam ini aku tidak
dapat tidur dengan tenang.
***
Kamis,
31 januari.
Pagi
harinya aku mengirim pesan kepada Anna.
Semalam aku mimpi. Mimpinya ngak
banget!
Balasan
dari Anna.
Mimpi apaan?
Mimpi lagi kuliah, terus ngak tau
kenapa ngak lihat kamu di kelas.
Dicari-cari ngak ketemu-ketemu. Eeh pas bangun tidur ngak sadar airmata
menetes. Ikh, jangan sampai jadi nyata! (balasku)
Hmmm… seandainya itu benar gimana?
Ikkkh… ngak boleh jadi nyata! (balasku)
Itu menurut kamu. Belum tau
kenyataan yang sekarang. Soalnya aku ngak tahan melihat ayah yang
sakit-sakitan. Aku harus mengalah demi
kesehatan ayah.
Aku
tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
Pada
pukul setengah sembilan aku menanyakan sesuatu pada Anna lewat sms.
Semalam kan ada airmataku keluar.
Terus aku jadi ingat kata-kata bang Mulia, katanya kalau tanpa kita sadari ada
airmata kita yang keluar. Itu tandanya ada seseorang yang kangen sama kita.
Nah, pertanyaanku simple “Kamu kangen aku kah?” kalau iya, kuakui kepintaran
bang Mulia. Kalau ngak, artinya bang Mulia bohong.
(jelasku)
Issh… apaan sech? Hehee… kangen
banget malah. (jawabnya)
Aku
tersenyum membaca balasannya. Tenang aja, ntar siang kita akan ketemu kok!
Batinku.
Siang
harinya, kebetulan sekali Anna sedang berada di pasar. Aku memintanya untuk
menungguku di depan toko sepatu. Sesampainya aku di toko sepatu, aku
mencarinya. Kok dia ngak ada ya? Kan aku minta dia nunggu di depan toko ini?
Sekilas aku melihat dia yang sedang berada di balik etalase toko, sumpah
tadi ngak lihat dia disana. Dia tertawa
kecil. Senang banget sih bikin orang khawatir!
Aku
mau ikut dia pulang ke rumahnya. Pasti dia bertanya-tanya kenapa hari ini aku
bersikap seperti ini. Aneh! Aku hanya tersenyum saat dia bertanya.
“Aku
bosan di toko terus! Sekali-kali main ke rumahmu ngak apa-apa kan?”
“Ikh…
aneh deh! Ada apa sih?”
Aku
hanya tersenyum.
Sesampai
dirumahnya, Anna mempersilahkanku masuk. Anna tetap mempertanyakan sikap aneh
ku siang ini. Ada apa?
Anna
membuatkanku mie goreng. Beberapa menit kemudian, mie goreng siap untuk
disantap. Ehm… emang wangi dan ingin cepat-cepat menghabiskannya. Tapi…
“Dihabisin
ya!” pintanya.
“Suapin
donk!” ujarku.
Anna
berdiri dan bersiap untuk menyuapiku.
“Hmmm…
cobain deh, enak loh! Wangi!” godanya.
“Kalau
ngak enak terus ntar bikin sakit perut gimana?” ledekku.
“Ntar
aku obatin. Ayo, makan dong! Siapa tahu ini kali terakhir aku bikin mie goreng
untuk kamu!” serunya.
Aku
terdiam mendengar katanya yang barusan. Kayak yang mau pergi jauh aja! Batinku
kesal.
“Oh
iya, kamu bohong ya tentang yang kamu bilang tadi pagi. Mimpi itu ngak ada
kali, kamu tahu dari Abi kan?” katanya.
“Emang
ngak ada! Emang benar ngomong seperti itu?” tanyaku penasaran.
“Hmm…
melihat kondisi saat ini, semua itu bisa jadi iya! Ayolah, makan mie gorengnya
!” ujarnya.
“Kalau
aku pengen ketemu kamu, gimana tuh?”
“Aku
ngak ada di rumah. Aku pergi menghilang!”
“Kucari
ke radio.” Sahutku.
“Emang
tahu radionya ada dimana?” tanyanya.
“Hmmm…
kemarin seharian ngak dengar suaramu di radio. Kehilangan deh!” ungkapku.
Dia
tertawa mendengarkan pengakuanku. “Tenang besok aku kembali nyiar kok. Tapi, kan
bisa dengar suara penyiar yang lain?”
“Ngak
asik. Suaranya bikin telingaku sakit. Beda sama suara penyiar kesayanganku!”
terangku.
“Ciee…ciee
suaranya unyu-unyu gimana gitu yah?”
“Hooh.
Unyu banget!” ledekku.
Mie
goreng buatan Anna tidak bisa kuhabiskan. Rasa lapar tadi itu hilang seketika
setelah berada didekatnya. Melihatnya tersenyum, jadi lega…
Jam
4 sore, Anna mengajakku ke rumah sakit. Ruangan ayah Anna di rawat, berhadapan
dengan ruangan kakekku dirawat beberapa bulan yang lalu. Aku teringat kenangan
yang pernah terjadi di ruangan itu. Ada tiga orang sahabat yang sedang menikmati
makan siang bersama. Aku, Anna dan Dewi. Apa yang kurasakan saat ini? Entahlah… biarkan waktu yang menjawab
semua pertanyaan-pertanyaan yang mengelilingi pikiranku belakangan ini. Semua
akan indah pada waktunya! Aku percaya itu!
Tidak
terasa jam menunjukkan pukul setengah enam sore, aku pamit untuk pulang. Anna
menemaniku menunggu angkutan umum. Ada hal yang ingin aku tanyakan padanya. Aku
ingin mendengar langsung dari mulutnya.
“Masih
ingat sama yang kutanyakan tadi pagi ngak? Tentang perkataan bang Mul, jawaban
yang tadi pagi itu benar atau bohong?” tanyaku penasaran.
“Benar.
Karena itu aku batalin janjiku sama Abi.” Jawabnya.
“Tapi
kenapa harus sampai berbohong sama Abi mu?”
“Lagi
malas ketemuan sama dia!” serunya.
“Hmmm…”
lirihku. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Pengakuan yang barusan,
membuatku sadar akan suatu hal. Ketulusan hati seseorang akan kita ketahui saat
kita melihat kebenaran yang telah dilakukan oleh orang itu. Dia benar-benar
ingin dekat denganku. Demi bertemu denganku, dia melakukan sebuah kebohongan.
Aku senang dan terharu. Aku tidak mau kehilanganmu lagi. Rasanya sore ini aku
ingin tetap berada disampingnya. Aku tidak ingin pulang! Kenapa angkot itu
harus datang?
Anna…
Jika
aku tidak mampu menjadi pensil untuk menulis kebahagiaanmu. Maka biarlah aku
menjadi penghapus untuk menghilangkan kesedihanmu. Jangan pernah beranggapan
kalau kamu menghadapi semuanya itu sendiri, karena aku akan selalu ada buat
kamu. Itulah gunanya teman, akan selalu ada disaat temannya susah dan senang.
Aku ingin menjadi teman yang baik. Bukan teman yang membiarkan temannya melalui
semuanya sendiri. Bukankah sendiri itu tidak mengasyikkan? Itu katamu kan?!
Jadi kalau ada masalah atau apa gitu, jangan dipendam sendiri. Berbagilah!
Dan
jujur saat aku mendengar kamu ingin berhenti kuliah. Aku kaget dan tidak mau
hal itu terjadi. Itu adalah kedua kalinya aku mendengar kabar seperti itu.
Anna… apapun yang terjadi, kamu jangan putus asa dan jangan menyerah! Setiap
masalah itu ada jalan keluarnya, tapi apa yang kamu anggap itu adalah jalan
keluarnya. Itu adalah salah!
Saat
di kampus mungkin kejadian yang seperti kemarin akan terjadi lagi. Kita ngak
saling menyapa atau apalah namanya. Aku bisa menerimanya, karena aku mengetahui
alasan yang sebenarnya. Saat bisa melihat kamu setiap hari di kampus, aku
merasa senang. Jika ngak melihat kamu ada di kampus dan di kelas yang sama, aku
benar-benar akan merasa kehilangan. Jangan berhenti sampai disini! Buatku setiap
saat tersenyum. Dan aku juga janji akan membuatmu selalu tersenyum.
Penyiar
Kesayanganku, Anna… ^_^
Cup…cup…cup
… 1000 kali !
Muaccchhh….
^,<

Tidak ada komentar:
Posting Komentar