Rabu, 20 Maret 2013

True_Story ^ANNA^


PENYIAR KESAYANGANKU !!!
Hari ini adalah hari terakhir aku dan team drama Pakaian dan Kepalsuan latihan. Minggu, 13 Januari, latihan dimulai dengan penampilan team drama Penggali Intan. Not bad! Mereka keren dan aktingnya luar biasa. Satu jam telah berlalu, teman satu team-ku menanyakan keberadaan music director kami, Anna. Hmmm… mereka bertanya padaku! Wajar saja, karena mereka mengetahui aku adalah teman dekatnya.
“Tis, Jannah mana?” Tanya Ronny, selaku Pimpinan Produksi.
Aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
“Tolong sms dia dong!” pintanya.
Ahh… Pengen aku timpuk tuh orang! “Suruh Ija aja, itu kan tugasnya Ija!” ujarku.
Saat team kami akan melakukan gladi resik, tiba-tiba ada telepon masuk dari seorang teman yang juga anggota team drama, dia tidak dapat menghadiri gladi resik malam ini. Dia ingin berbicara dengan pimpinan produksi. Aku pun melangkahkan kaki menuju luar ruangan, karena pimpinan produksi sedang berbincang-bincang dengan sutradara.
“Ron, Rere mau ngomong sama kamu!” seruku sambil menyerahkan ponselku.
Ronny mengambil ponselku dan berbicara dengan Rere. Aku memutar badanku kearah koridor dan mataku memandang orang yang dicari-cari pimpro tadi, Anna. Ohh… datang juga ya! Senang bisa melihatmu malam ini, tapi kenapa selalu bersama mereka? Plakkkk!!! Sakit hati lagi!
Beberapa menit kemudian, Ronny mengembalikan ponselku dan aku kembali memasuki ruangan latihan drama. Saatnya beraksi team drama Pakaian dan Kepalsuan, semangat teman-teman! Aku dan anggota team yang lainnya menyaksikan penampilan aktor dan aktris yang sedang  memperlihatkan kemampuan masing-masing.
Tidak terasa acara gladi resik pun berlangsung sampai tengah malam. Aku dan team drama akan menginap di ruangan latihan ini. Ada beberapa teman yang sibuk mengabadikan moment malam ini dengan kamera ponselnya.
“Titis, masukin foto-foto ini ke facebook ya?” pinta Sari, selaku bendahara team drama. Sari memperlihatkan foto yang di abadikannya dan tangannya berhenti di satu foto. Foto dia bersama Anna.
“Hehee… kamu iri kan?” ledeknya.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Sari tersebut. Apalah arti sebuah foto itu?
Pertunjukan drama ini akan diadakan besok pagi di gedung M.Syafe’I Padangpanjang. Akhir-akhir ini aku dan team ekstra bekerja keras untuk menampilkan yang terbaik disaat hari pertunjukkan.
Jam telah menunjukkan pukul 11 malam, aku dan teman-teman bersiap-siap untuk istirahat sejenak. Ada yang benar-benar tidur dan ada yang asik menonton film. Aku lebih memilih untuk tidur, karena kondisiku masih dalam keadaan sakit. Sakit ini tak kunjung sembuh, padahal sejak keberangkatan studi banding kemarin aku dalam kondisi yang kurang sehat, sampai saat ini.
Berbalutkan dengan jaket dan sehelai kain sarung, wah dingin! Aku mencoba untuk menutup mata, walaupun teman yang lain masih pada ribut. Tiba-tiba aku merasakan ada sebuah kehangatan dari seseorang dan ternyata ada teman yang berbaik hati menghilangkan hawa dingin yang kurasakan. Dia menyelimutiku. Hmmm… terima kasih!
Jujur, aku mengharapkan orang yang berbaik hati itu adalah dia. Orang yang telah aku anggap sebagai adik. Tapi aku hanya bisa menggigit bibirku dan lalu membayangkan hal yang menurutku indah. Hah! Untung saat ini wajahku tertutupi dengan jaket yang kupakai. Menangis pun juga ngak akan ada yang mengetahuinya. JANGAN SEDIH VITRI!!!
Jam 5 subuh, sutradara membangunkan anggota drama dan menyarankan kepada anggota untuk istirahat saja, tidak perlu ikut datang ke gedung subuh ini. Kami pun setuju dan kembali ke kosan dan rumah. Keesokkan harinya, pertunjukan drama ini akan berlangsung. Segala persiapan telah dipersiapkan dengan matang agar pertunjukkan ini sukses. Acara dimulai pada pukul 9 pagi sampai pukul 1 siang.
Pertunjukkan drama ini sukses berkat kerja sama antara 3 team drama. Walaupun ada perselisihan antara satu team dengan team yang lainnya. Setelah acara benar-benar usai, aku bersiap-siap untuk pulang. Capek banget dan butuh istirahat yang banyak. Aku melangkahkan kaki keluar gedung, sesaat aku melihat temanku, Dewi duduk di luar gedung bersama team dramanya.
“Dewi… aku pulang duluan ya! Capek banget!” seruku dari kejauhan. Sesaat mataku tertuju pada sosok yang ada dibelakang Dewi. Ada Anna dan teman-teman tersayangnya. Rasa kesal pun kembali hadir. BĂȘte banget! Pengen cepat-cepat menghilang dari hadapan semua orang.
“Tunggu bentar lagi lah!” sahutnya.
Aku menggelengkan kepala, “Ogah! Capek!” seruku dan melangkahkan kaki menuju gerbang.
            Beberapa menit kemudian aku sampai juga dirumah. Ahh… hari-hari yang melelahkan, aku mau tidur nyenyak dan tidak mau diganggu oleh siapapun. Selamat tidur siang!
***
Selasa pagi, aku masih betah tidur-tiduran di tempat tidur. Aku meraih ponsel lalu memasang headset ketelingaku untuk mendengarkan lagu-lagu kesukaanku. Tidak tahu kenapa, aku beralih mematikan mp3 ponselku dan menyetel saluran radio 98.6 TOP FM. Ya elah… lagu minang mengudara, jujur aku kurang suka dengan lagu minang. Beberapa detik saat mau mematikan saluran radio, aku terperangah mendengar suara dari penyiar yang pagi itu mengudara dan aku mengurungkan niat untuk mematikannya.
Suara yang tidak asing lagi di telingaku, suara orang yang belakangan ini menjauhiku. Jujur aku tidak pernah membencimu. Apapun yang pernah kuutarakan lewat sms itu, belum tentu itu berasal dari hatiku. Aku merindukanmu Anna. Hmmm… pagi ini aktifitasku akan diiringi dengan suaramu. Rindu ini sedikit terobati, I like Sitiiii…


Rabu, 16 Januari 2013
Pagi ini aku kembali menyetel radio 98.6 TOP FM. Hmm… penyiarnya bukan dia! Aku lalu mematikan radio dan beralih ke laptop, saatnya memainkan game-game kesukaan. Akhirnya aku jenuh dan merasa bosan dengan kegiatan seperti ini. Aku beralih menonton film yang ada di dalam laptop. Tidak terasa jam di dinding menunjukkan pukul 3 sore. Aku kembali meraih ponselku dan menyetel radio. Aku tersenyum saat mendengar suara penyiar radio yang bertugas sore ini. Ini dia yang aku tunggu dari tadi pagi, Anna Shavira.
“Nantikan TOP NEWS selanjutnya, satu jam mendatang… Bersama saya, Anna Shavira!” kata penyiar saat membacakan berita.
Saat gelaran mp3 berlangsung yang dibawakan Anna, aku berniat untuk ikut gabung. Aku mengecek sisa pulsa yang ada dan sepertinya bisa digunakan untuk gabung dalam siaran sore ini. Sudah ada beberapa penelepon yang gabung sehingga pada saat lagu yang direquest telah habis diputar. Aku mencoba untuk menelepon ke radio TOP FM, setelah beberapa kali ngak masuk-masuk, akhirnya teleponku nyambung juga.
“Sore!” sapa penyiar.
“Sore.” Sahutku.
“Dengan siapa dan dimana?” tanyanya.
“Vitri, dirumah!” jawabku singkat. Aku tidak tahu apa dia mengetahui kalau orang yang sedang gabung dalam siarannya ini adalah orang yang dijauhinya belakangan ini.
“Hmm… kayaknya Anna kenal suaranya deh!” ungkapnya.
“Ah… iyakah?”
“Vitri ,apa kabar?” tanyanya.
“Lagi kurang sehat nih! Hmm…  request lagu dong!” kataku mengalihkan pembicaraan.
“Hmmm… cepat sembuh aja ya! Oke… Di playlist kita sore ini ada ………” sebelum selesai dia menyebutkan list lagu, aku memotongnya dengan menyebutkan salah satu lagu yang cocok banget kondisinya yang kurasakan akhir-akhir ini.
“D’Masiv aja kak!” seruku.
“Hmmm… D’Masiv – Aku Kehilanganmu. Wah kehilangan siapa nih? Oke yang satu lagi lagunya apa, Vitri?”
“Last Child- Sekuat Hatimu!” sahutku.
“Oke… salam-salamnya buat siapa, Vitri?”
“Buat semua yang lagi dengerin TOP FM aja! Spesialnya buat orang yang akhir-akhir ini menjauhi saya. Itu aja !” ungkapku.
“Hmm… oke, Vitri ditunggu ya lagunya! Terima kasih. Assalamu’alaikum!” katanya menutup telepon.
“Wa’alaikum salam!”
Setelah aku menelepon ke radio, aku mendengarkan Anna mengatakan bahwa, “Ya, baru saja ada teman Anna, Vitri yang ikut gabung dan me-request lagu D’Masiv- Aku Kehilanganmu dan Last Child- Sekuat Hatimu…….”
“Teman? Apa benar aku temanmu?” batinku. (JAWAB WOY!!!)
Pukul 5 sore, ponselku bergetar ada pesan masuk dari nomor yang tidak ada namanya.
Thank you ya. Muachh!!! isi pesannya.
Hah… sejak malam itu dia pengen mundur dan menjauhiku, aku menghapus nomornya dari ponselku. Kesal mendengar keputusannya yang ngak banget itu. Nomornya emang aku hapus dari ponsel, itu hal yang sangat mudah dan gampang. Tapi, untuk menghapus kenangan yang ada saat bersamanya, itu adalah hal tersulit dalam hidupku. Tak akan bisa dihapus semudah menghapus nomor ponselnya.
Aku membalas pesannya, Aneh! send…
Tidak terasa gelaran mp3 sudah hampir habis waktunya. “Ahh… cepat banget sih?” keluhku. Aku belum puas mendengarkannya, maksudku mendengar suara penyiarnya.
Keesokkan harinya di kampus, pagi ini diawali dengan ujian praktek AIK. Aku menghafal beberapa ayat yang harus disetor kepada dosen. Hmmm… melelahkan harus melakukan hal seperti ini. Aku dan teman-teman menunggu giliran dipanggil oleh dosen pengampu. Aku tidak melihat dia. Hmmm… panjang umur, dia datang juga. Senang melihatmu, tapi sayang aku kesal melihat kamu selalu bersama mereka. Aku kembali fokus sama hafalan surat pendek.
Ujian telah selesai, namun aku belum bisa pulang. Jam 2 siang salah seorang dosen mengajak teman-teman rapat. Saat jarum jam menunjukkan pukul setengah tiga sore, seseorang terlihat gelisah.
“Aku jam 3 harus kerja nih, masih lama rapatnya?” Tanya Anna pada Leci.
“Udah, pergi aja! Kayaknya rapatnya masih lama.” Usulnya.
Akhirnya Anna memutuskan meninggalkan ruangan rapat dan melangkahkan kaki menuju pintu  keluar. Jam telah menunjukkan pukul 3 lewat 5 menit, aku memasang headseat ponselku dan menyetel radio TOP FM. Aku tersenyum saat mendengar suara penyiar sore ini. Anna Shavira. Aku sangat senang saat mendengar suaramu, entah kenapa hatiku menjadi adem dan tenang. Pukul setengah empat, aku kembali menelepon ke radio.
“Sore!” sapa penyiar.
“Sore!” sahutku.
“Dengan siapa dan dimana?” tanyanya.
“Vitri.” Seruku.
“Hmmm… Vitri, masih di kampus kah?” tanyanya.
“Lagi di jalan mau pulang.” Jawabku.
“Pulang sama siapa?”
“Hmm… sendirian. Temenin aku pulang donk!” kataku.
“Hmm…”
Request donk!” pintaku.
Anna menyebutkan playlist sore ini satu persatu.
“Lagu Permaisuriku aja dan Last Child- Sekuat Hatimu!” seruku.
“Hmm, hatinya udah kuat kok! Oke. Salam-salamnya buat siapa?” tanyanya.
“Salamnya buat semua pendengar setia TOP FM dan buat Suci yang ada disebelahku. Terus salam specialnya buat cewek yang berinisial “J” aja!” ungkapku.
“Oke. Itu aja Vitri. Hmmm… Ditunggu aja ya lagunya! Assalam mu’alaikum, Vitri!”
“Wa’alaikum salam.”
Perjalanan pulang ke rumah sore ini, ditemani suaramu dan lagu request-an ku. Hmmm… sore ini indah banget.
Malam harinya aku mengirim pesan  kepada Anna.
Kak request lagu D’Masiv – Aku Kehilanganmu dong?
Beberapa menit kemudian, Anna membalas pesanku.
Lagi ngak nyiar tuh. Kalau mau request hari sabtu aja. Hehe… promosi!
Tahu ngak kalau yang nelpon kemarin itu aku? tanyaku lagi.
Iya aku tahu itu kamu. Kan setelah kamu nelpon kemarin, aku sms bilang thank you gitu. Hehe…
Yah, sesuai lagu yang aku request “Aku Kehilanganmu”. Itu benar 100 persen! Lewat radio rasa kehilangan ini sedikit terobati, walau cuma bisa dengar suaramu itu sudah cukup kok.
Hari ini seperti biasa aku membantu mama di toko. Entah kenapa dua hari belakangan ini, aku membayangkan seandainya saja dia datang kesini. Terus kita pergi makan siang dan melepas rasa rindu ini. Hmmm… ada-ada saja yang kubayangkan. Saat aku sedang memotong kain, tiba-tiba aku terperangah, kaget melihat orang yang sedang tersenyum padaku. Anna, orang yang kubayangkan beberapa menit yang lalu sekarang ada dihadapanku. WAW! Dia menyapa mama dan duduk didekat mama. Aku masih sibuk memotong kain, hatiku senang dan aku senyum-senyum sendiri. Tahu aja orang lagi kangen ! >_<
Beberapa hari kemudian, siang harinya aku mengirim pesan pada Anna.
Punya lagu india ngak? Bagi donk?!
Balasnya: Kayaknya ada, tapi adanya di flashdisk-ku. Di ponsel ngak ada.
Ya, mintaaaaa…. (balasku)
Wani Piro?
Maunya apa? (tawarku)
Semangkuk bakso. Hahaa…
Maunya. Boleh. Kapan? (balasku)
Besok siang aja. Soalnya pagi, aku kerja.
Hmmm… oke! Tapi, kamu mau makan bakso aja atau mau dekat sama yang ngajak? Hohoo…(tanyaku)
Dua-duanya. Haha… PD amat sech! (balasnya)
Aku tertawa membaca balasannya. Sampai ketemu besok siang, Anna.
Selasa siang, aku menunggu kedatangan Anna di toko. Ternyata Anna datang lebih awal dari jam yang dijanjikannya. Akhirnya jam 2 siang aku dan Anna  on the way bakso Setia walau suasana siang itu diguyur hujan. Aku menikmati kebersamaan hari ini, setelah belakangan ini jarang bisa berada dalam situasi sore ini. I’m happy with you. Semoga kamu juga merasakannya.^,^
Rabu, 30 januari, seharian ini aku tidak mendengar suaramu di radio. Hmm… suara penyiar yang lainnya tidak membuatku tertarik untuk mendengarkan celotehan mereka. Aku akan semangat saat mendengarkan suaramu, Anna. Itulah yang aku rasakan saat beberapa hari belakangan ini. Ternyata ayahnya masuk rumah sakit lagi.
Malam harinya, saat aku membuka facebook, aku melihat ada inbox dari cowoknya Anna. Dia menanyakan nomor ponselku dan memintaku untuk meng-sms dia. Pasti mau membahas tentang Anna. Itu sudah pasti.
Satu pertanyaan dari cowoknya Anna yang membuatku tersenyum, “Masih sayang ngak sama Anna?”
Hmm… walaupun aku pernah mengatakan kepada Anna bahwa aku sangat membencinya setelah dia mengambil sebuah keputusan yang membuatku sampai meneteskan airmata. Dalam hati kecilku, aku ngak pernah mau mengatakan hal itu. Aku tidak pernah membencinya. Aku membenci diriku sendiri karena telah membuat dua hati tersakiti. Anna dan Dewi.
Aku menjawab pertanyaan cowok Anna, “Dari dulu terus sampai Anna pengen menjauh dan sampai sekarang masih sayang kok sama Anna!”
Cowok Anna menceritakan apa yang sedang dialami Anna pada saat  ini dan termasuk keinginan Anna untuk berhenti kuliah karena melihat keadaan ayahnya saat sekarang ini. Saat mengetahui hal itu, pikiranku menjadi kacau. Kenapa selalu mengambil keputusan secepat itu? Setiap masalah itu pasti ada jalan keluarnya, berhenti kuliah bukanlah jalan yang tepat! Dan aku terperangah saat mendengar kebohongan yang telah dilakukan Anna terhadap cowoknya. Cowoknya  merasa kecewa saat mengetahui bahwa hari selasa saat dia mau mengajak jalan, Anna membatalkan janjinya karena beberapa alasan. Padahal siang itu dia pergi bersamaku makan bakso. Biasanya kalau cewek yang diajak cowoknya jalan pasti mau banget, bisa ketemuan terus. Tapi kenapa kali ini dia berbuat seperti itu.
Anna ingin selalu dekat sama Vitri dan Anna sekarang ini kangen sama Vitri. Apapun yang dilakukan sama Anna belakangan ini, hanya untuk menghindari pertengkaran yang terjadi antara Vitri dan Dewi.
Setelah mendengar sebuah kebenaran yang tidak pernah ku ketahui, malam ini aku tidak dapat tidur dengan tenang.
***
Kamis, 31 januari.
Pagi harinya aku mengirim pesan kepada Anna.
Semalam aku mimpi. Mimpinya ngak banget!
Balasan dari Anna.
Mimpi apaan?
Mimpi lagi kuliah, terus ngak tau kenapa ngak lihat kamu di  kelas. Dicari-cari ngak ketemu-ketemu. Eeh pas bangun tidur ngak sadar airmata menetes. Ikh, jangan sampai jadi nyata! (balasku)
Hmmm… seandainya itu benar gimana?
Ikkkh… ngak boleh jadi nyata! (balasku)
Itu menurut kamu. Belum tau kenyataan yang sekarang. Soalnya aku ngak tahan melihat ayah yang sakit-sakitan. Aku harus  mengalah demi kesehatan ayah.
Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
Pada pukul setengah sembilan aku menanyakan sesuatu pada Anna lewat sms.
Semalam kan ada airmataku keluar. Terus aku jadi ingat kata-kata bang Mulia, katanya kalau tanpa kita sadari ada airmata kita yang keluar. Itu tandanya ada seseorang yang kangen sama kita. Nah, pertanyaanku simple “Kamu kangen aku kah?” kalau iya, kuakui kepintaran bang Mulia. Kalau ngak, artinya bang Mulia bohong. (jelasku)
Issh… apaan sech? Hehee… kangen banget malah. (jawabnya)
Aku tersenyum membaca balasannya. Tenang aja, ntar siang kita akan ketemu kok! Batinku.
Siang harinya, kebetulan sekali Anna sedang berada di pasar. Aku memintanya untuk menungguku di depan toko sepatu. Sesampainya aku di toko sepatu, aku mencarinya. Kok dia ngak ada ya? Kan aku minta dia nunggu di depan toko ini? Sekilas aku melihat dia yang sedang berada di balik etalase toko, sumpah tadi  ngak lihat dia disana. Dia tertawa kecil. Senang banget sih bikin orang khawatir!
Aku mau ikut dia pulang ke rumahnya. Pasti dia bertanya-tanya kenapa hari ini aku bersikap seperti ini. Aneh! Aku hanya tersenyum saat dia bertanya.
“Aku bosan di toko terus! Sekali-kali main ke rumahmu ngak apa-apa kan?”
“Ikh… aneh deh! Ada apa sih?”
Aku hanya tersenyum.
Sesampai dirumahnya, Anna mempersilahkanku masuk. Anna tetap mempertanyakan sikap aneh ku siang ini. Ada apa?
Anna membuatkanku mie goreng. Beberapa menit kemudian, mie goreng siap untuk disantap. Ehm… emang wangi dan ingin cepat-cepat menghabiskannya. Tapi…
“Dihabisin ya!” pintanya.
“Suapin donk!” ujarku.
Anna berdiri dan bersiap untuk menyuapiku.
“Hmmm… cobain deh, enak loh! Wangi!” godanya.
“Kalau ngak enak terus ntar bikin sakit perut gimana?” ledekku.
“Ntar aku obatin. Ayo, makan dong! Siapa tahu ini kali terakhir aku bikin mie goreng untuk kamu!” serunya.
Aku terdiam mendengar katanya yang barusan. Kayak yang mau pergi jauh aja! Batinku kesal.
“Oh iya, kamu bohong ya tentang yang kamu bilang tadi pagi. Mimpi itu ngak ada kali, kamu tahu dari Abi kan?” katanya.
“Emang ngak ada! Emang benar ngomong seperti itu?” tanyaku penasaran.
“Hmm… melihat kondisi saat ini, semua itu bisa jadi iya! Ayolah, makan mie gorengnya !” ujarnya.
“Kalau aku pengen ketemu kamu, gimana tuh?”
“Aku ngak ada di rumah. Aku pergi menghilang!”
“Kucari ke radio.” Sahutku.
“Emang tahu radionya ada dimana?” tanyanya.
“Hmmm… kemarin seharian ngak dengar suaramu di radio. Kehilangan deh!” ungkapku.
Dia tertawa mendengarkan pengakuanku. “Tenang besok aku kembali nyiar kok. Tapi, kan bisa dengar suara penyiar yang lain?”
“Ngak asik. Suaranya bikin telingaku sakit. Beda sama suara penyiar kesayanganku!” terangku.
“Ciee…ciee suaranya unyu-unyu gimana gitu yah?”
“Hooh. Unyu banget!” ledekku.
Mie goreng buatan Anna tidak bisa kuhabiskan. Rasa lapar tadi itu hilang seketika setelah berada didekatnya. Melihatnya tersenyum, jadi lega…
Jam 4 sore, Anna mengajakku ke rumah sakit. Ruangan ayah Anna di rawat, berhadapan dengan ruangan kakekku dirawat beberapa bulan yang lalu. Aku teringat kenangan yang pernah terjadi di ruangan itu. Ada tiga orang sahabat yang sedang menikmati makan siang bersama. Aku, Anna dan Dewi. Apa yang kurasakan saat  ini? Entahlah… biarkan waktu yang menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang mengelilingi pikiranku belakangan ini. Semua akan indah pada waktunya! Aku percaya itu!
Tidak terasa jam menunjukkan pukul setengah enam sore, aku pamit untuk pulang. Anna menemaniku menunggu angkutan umum. Ada hal yang ingin aku tanyakan padanya. Aku ingin mendengar langsung dari mulutnya.
“Masih ingat sama yang kutanyakan tadi pagi ngak? Tentang perkataan bang Mul, jawaban yang tadi pagi itu benar atau bohong?” tanyaku penasaran.
“Benar. Karena itu aku batalin janjiku sama Abi.” Jawabnya.
“Tapi kenapa harus sampai berbohong sama Abi mu?”
“Lagi malas ketemuan sama dia!” serunya.
“Hmmm…” lirihku. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Pengakuan yang barusan, membuatku sadar akan suatu hal. Ketulusan hati seseorang akan kita ketahui saat kita melihat kebenaran yang telah dilakukan oleh orang itu. Dia benar-benar ingin dekat denganku. Demi bertemu denganku, dia melakukan sebuah kebohongan. Aku senang dan terharu. Aku tidak mau kehilanganmu lagi. Rasanya sore ini aku ingin tetap berada disampingnya. Aku tidak ingin pulang! Kenapa angkot itu harus datang?
Anna…
Jika aku tidak mampu menjadi pensil untuk menulis kebahagiaanmu. Maka biarlah aku menjadi penghapus untuk menghilangkan kesedihanmu. Jangan pernah beranggapan kalau kamu menghadapi semuanya itu sendiri, karena aku akan selalu ada buat kamu. Itulah gunanya teman, akan selalu ada disaat temannya susah dan senang. Aku ingin menjadi teman yang baik. Bukan teman yang membiarkan temannya melalui semuanya sendiri. Bukankah sendiri itu tidak mengasyikkan? Itu katamu kan?! Jadi kalau ada masalah atau apa gitu, jangan dipendam sendiri. Berbagilah!
Dan jujur saat aku mendengar kamu ingin berhenti kuliah. Aku kaget dan tidak mau hal itu terjadi. Itu adalah kedua kalinya aku mendengar kabar seperti itu. Anna… apapun yang terjadi, kamu jangan putus asa dan jangan menyerah! Setiap masalah itu ada jalan keluarnya, tapi apa yang kamu anggap itu adalah jalan keluarnya. Itu adalah salah!
Saat di kampus mungkin kejadian yang seperti kemarin akan terjadi lagi. Kita ngak saling menyapa atau apalah namanya. Aku bisa menerimanya, karena aku mengetahui alasan yang sebenarnya. Saat bisa melihat kamu setiap hari di kampus, aku merasa senang. Jika ngak melihat kamu ada di kampus dan di kelas yang sama, aku benar-benar akan merasa kehilangan. Jangan berhenti sampai disini! Buatku setiap saat tersenyum. Dan aku juga janji akan membuatmu selalu tersenyum.
Penyiar Kesayanganku, Anna… ^_^
Cup…cup…cup … 1000 kali !
Muaccchhh…. ^,<

Tidak ada komentar:

Posting Komentar