AKU KEHILANGAN MU
Aku
kesaaaaaaaaaaal!!!
Itulah
yang aku rasakan pada saat sekarang ini. Apa mau kalian sih? Sesuatu hal yang
tidak pernah aku bayangkan terjadi pada saat perjalanan studi banding ini.
Tepatnya di kota Medan, di parkiran Mesjid Raya. Sore itu situasi yang ku
rasakan memang ngak banget deh! Teman yang satu, Dewi udah dua hari yang lalu
mengacuhkanku. Teman yang satu lagi, Anna entah apa yang telah terjadi saat aku
tidak berada di dalam bus, tiba-tiba dia marah padaku, tepatnya dia
melampiaskan amarahnya kepadaku. Dia memintaku untuk pindah tempat duduk, duduk
kebelakang bersamanya.
“Ada
apa sih?” tanyaku bingung melihat sikapnya.
“Pokoknya
kamu pindah duduk kebelakang! Sakit hatiku melihat sikap temanmu!” ujarnya
kesal.
“Kenapa
sih?” aku masih bingung.
“Kamu
harus pindah duduk kebelakang! Apa maksud dia ngomong seperti itu? Bilangin
sama temanmu kalau mamanya menelpon! Emangnya kamu bukan temannya?” ungkapnya.
Aku
mengecek ponselku dan ada dua panggilan tidak terjawab dari rumah. Ughhtt…
“Pokoknya
duduk sama ku!” perintahnya.
“Aneh!
Kenapa ngak dari awal perjalanan minta aku duduk sama kamu! Aku kecewa saat
kamu ngak mau duduk bareng aku! Hanya karena ngak tahan sama bau minyak angin,
kamu ngak mau di dekatku! Huh!” batinku mengingatnya.
Aku
melangkah menuju bus dan menghampiri Dewi. “Pinjam ponselmu!” aku melihat
panggilan masuk dari rumah. Nomornya sama, tapi kucoba untuk menghubungi tidak
masuk-masuk. Aku mengembalikan ponselnya dan kembali turun dari bus, mencoba
menghubungi mama. Hasilnya tetap sama, ngak masuk-masuk. Aku makin kesal!
Aku
beranjak mencari tempat duduk dipinggir jalan Izza menemaniku, disebelahku juga
ada Suci dan Mezi. Aku menatap layar ponsel dan tetap berusaha menelpon balik
ke rumah. Sudah dicoba berkali-kali tetap ngak masuk. Ya, udahlah! Aku menatap
ke jalan raya, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Lampu-lampu jalanan
berkelap-kelip indah sekali, berbeda di jalanan kota kelahiranku,
Padangpanjang.
Beberapa
menit kemudian, Muchia datang dan mengajakku masuk ke bus. Aku tidak mau, aku
masih mau duduk disini. Setelah itu Anna datang dan ada Leci dibelakangnya.
“Bro,
ngapain duduk disini? Masuk ke bus, yuk!” ajaknya.
Aku
hanya diam dan menggelengkan kepala.
“Duduk
samaku, ya!” ajak Anna.
“Ku
tetap duduk disana! Aku ngak mau pindah!” jawabku.
Setelah
mendengar jawabanku, Anna , Leci dan Muchia berlalu meninggalkanku dan kembali
ke bus. Izza menawariku untuk duduk bersamanya.
Beberapa
menit kemudian, makan malam datang dan semuanya bersiap-siap untuk menyantap
makan malam. Aku beranjak menuju bus dan duduk di tempat biasa. Dewi makan
malam bersama Nora. Aku hanya bisa melihat kejadian yang tidak pernah ada
dibayanganku. Aku memeluk bantalku dan rasanya kepalaku pusing. Huh!
Tiba-tiba
salah seorang teman datang dan menghampiriku, “Makan yuk! Ntar tambah sakit
lho!” ajaknya. Aku menolak ajakannya, “Ngak laper!” dia pun kembali keluar dari
bus dan melanjutkan makan malamnya.
Setelah
semuanya selesai menyantap makan malam, teman-teman kembali memasuki bus dan
duduk di tempat masing-masing. Dewi sudah duduk di sebelahku, aku tidak tahan
lagi. Tawaran Izza tadi aku terima, aku melangkahkan kaki menuju tempat duduk
Izza.
“Ijaaa…
aku duduk sama kamu ya!” ujarku minta izin.
“Iya,
mbak! Mbak ngak makan?” Tanya Izza.
“Makasih,
Ja. Aku ngak laper!” aku duduk disebelah Izza dan memasang jaket lalu kucoba
untuk menutup mata. Saat sekarang ini tidur adalah alternative yang bagus. Aku menyadarinya, airmata jatuh di pipiku.
Aku membayangkan untuk cepat-cepat pulang ke rumah. Aku menyesal telah ikut
studi banding ini. Lagipula akhirnya tidak menjadi kenangan yang indah,
semuanya hancur di kota Medan.
Malam
ini perjalanan kami dilanjutkan menuju kota Pekanbaru, kami akan melewati tahun
baru di kota itu. Sekitar jam 4 subuh bus kami berhenti di sebuah mini market,
aku pun terbangun dan melihat sekeliling. Huff… capek! Aku memandang keluar
jendela, aku melihat Anna bersama Muchia dan Leci. Mereka sedang antrian di
toilet. Tiba-tiba Muchia melihat seekor kucing, lalu mengendongnya dan Anna
menghampiri Muchia. Ya… mereka sangat menyukai binatang itu. Rasa kesalku masih
ada, apalagi saat melihat keakraban mereka.
Setelah
semuanya selesai berurusan dengan toilet, supir kami pun melanjutkan perjalanan
menuju Pekanbaru. Sekitar jam 5 sore aku dan rombongan sampai di kota
Pekanbaru. Bus kami di parkir di halaman kampus Universitas Muhammadiyah Riau. Aku
malas untuk turun, tapi apa yang harus kulakukan di dalam bus? Akhirnya aku pun
turun dari bus, Mezi, Nesra, Nenglis dan Efrida mengajakku untuk pergi
bersamanya ke Mall SKA. Aku menerima ajakan mereka. Ayolah, lupakan sejenak apa
yang telah terjadi!
“Apa
yang telah terjadi, Titis ?” Tanya Mezi.
“Ngak
ada, Zi.” Ujarku.
“Kenapa
dengan kedua temanmu?” tanyanya lagi.
“Aku
juga ngak ngerti, Zi! Aku tidak mempunyai teman!” ujarku kesal.
“Jangan
ngomong seperti itu, kami kan juga temanmu!” kata Mezi.
Aku
hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Mezi.
Aku
dan teman-teman menyusuri tiap sudut
Mall. Tidak lupa juga membeli beberapa kaos dan makanan kecil. Aku sudah tidak
kuat lagi untuk mengelilingi Mall ini, aku meminta kepada teman-teman untuk
kembali ke bus. Mereka setuju, karena mereka juga merasa lelah dan capek. Kami
kembali ke bus, aku melihat Dewi duduk bersama Imel dan Frans.
Aku
dan teman-teman ingin pergi ke toilet. Tapi, karena air di toiletnya ngak bisa
digunakan untuk berwudhu, Mezi dan Efrida berencana untuk pergi ke Mesjid yang
ada diseberang kampus UMRI. Aku dan Nesra memutuskan untuk menunggu mereka di
pinggir jalan. Sesaat, aku melihat Anna bersama Leci berjalan di depanku. Aku
dan Anna sempat bertatapan hanya sesaat, lalu aku memandang layar ponselku.
“Bro,
kita ke dalam yuk!” ajak Leci.
“Aku
lagi menunggu Mezi, Ci!” jawabku.
“Oh,
ya udah! Aku duluan ya!” pamitnya.
Beberapa
menit kemudian Dewi pergi makan bersama Imel dan Frans. Aku yang sedang
menelpon dengan mama, akhirnya menceritakan apa yang telah terjadi. Aku meminta
mama untuk berbicara dengan Dewi.
Jam
setengah 9 malam aku, Nurul, Mezi, Nesra dan Efrida mencari makan malam di
pinggir jalan Mall. Aku mengajak teman-teman untuk makan Mie Ayam dan mereka
setuju. Aku menikmati Mie ayam tersebut, enak juga! Tiba-tiba terlintas dalam
bayanganku, seharusnya saat ini aku bisa
menikmati keadaan seperti ini bersama dua orang itu. Tapi, satu kali pun tidak
kesampaian untuk bisa menikmati perjalanan ini bertiga. Kadang hanya ada aku
dan Anna, lalu hanya ada aku dan Dewi. Ahhh!!!
Ya,
Tuhan! Besokkan tanggal 1 Januari? Bukankah sebelum perjalanan ini aku punya keinginan
untuk melakukan itu. Oke! Keadaan saat ini memang tidak pernah dibayangkan akan
terjadi, tapi ini adalah moment yang seharusnya menjadi sebuah kenangan indah.
Aku harus mewujudkan rencanaku itu!
“Hmmm…
Ul, mau nemenin aku ke dalam Mall ngak? Ada yang lupa aku beli!” ajakku kepada
Nurul.
“Mau
ngapain, Tis?” Tanya Nurul.
“Mau
beli sesuatu! Temenin ya!” pintaku.
Akhirnya
Nurul mau menemaniku ke dalam Mall. Mezi dan yang lainnya menungguku di pinggir
jalan. Aku memasuki Mall, sebenarnya aku sangat kelelahan dan tidak sanggup
lagi untuk mengelilingi Mall. Aku mencoba mencari toko kue dan setelah
menemukannya, aku membeli sebuah kue kecil, ya walaupun bukan kue ulang tahun
seperti biasanya. Setelah membayarnya aku menuju Nurul dan kembali melangkahkan kaki ke tempat makan
Mie Ayam, Mezi dkk telah menungguku.
Sesampainya
di bus, aku meletakkan kue yang aku beli di tempat duduk. Aku melihat ada Anna
yang sedang duduk di tempatnya. Kebetulan pintu masuk yang ada di belakang
tepat berada di depan tempat duduknya. Setelah itu aku kembali keluar bus dan
menghampiri teman-teman yang sedang bercanda bersama-sama.
Aku
dan teman-teman menunggu detik-detik pergantian tahun baru. Aku tidak begitu
tertarik untuk hal itu, aku memikirkan apa yang akan aku lakukan nantinya untuk
Anna. Aku mengajak Nurul dan Leci untuk membantu membuat kejutan untuk Anna.
Tidak terasa jam telah menunjukkan pukul 12 kurang 2 menit. Sesaat lagi kita
akan menyambut datangnya tahun baru. Dua menit kemudian terdengar suara
terompet dan petasan. HAPPY NEW YEAR 2013
!!!
“HAPPY NEW YEAR Teman-teman!” ujar salah
seorang temanku.
Aku
memandang langit yang dihiasi oleh petasan. Dua orang itu tetap berada di dalam
bus. Ah!!! Keluar sebentar, kenapa? Aku membayangkan kalau semua teman-teman
ini menjauh dan biarkan aku, Anna dan Dewi menikmati keindahan malam pergantian
tahun ini. Huh, benar-benar menyebalkan!
Akhirnya,
acara menikmati suasana pergantian tahun baru usai sudah, beberapa teman-teman
kembali memasuki mobil, karena udara diluar sangat dingin. Ada juga yang sedang
mengabadikan moment malam pergantian tahun denan berfoto bersama.
Aku
melirik Nurul dan Leci, “Saatnya beraksi!” seruku.
Leci
dan Nurul melangkahkan kaki menuju bus. Ditanganku sudah ada kue dan sebuah korek
api yang telah menyala. Leci dan Nurul lebih dulu menaiki tangga bus dan Leci
terlihat berbicara dengan Anna. Aku masih harus menunggu di dekat pintu masuk,
menunggu aba-aba dari Leci. Tiba-tiba Leci dan Nurul menyanyikan lagu ulang
tahun.
“Selamat
ulang tahun… kami ucapkan! Selamat ulang tahun Anna!” ujar mereka.
Aku
menaiki tangga dan berdiri dihadapannya sambil memegang kue dan korek api yang
telah menyala. Bisa dipastikan dia tidak mengetahui dan tidak menyadari
kejadian ini. Dia menutup wajahnya dengan bantal yang ada ditangannya. Sepertinya
ada yang terharu.
“Anna,
tiup lilinnya tuh! Udah capek tangan, Titis megangnya!” ujar Sari.
Anna
menyingkirkan bantal yang dipegangnya dan mendekati lilin yang aku pegang, lalu
dia menutup mata dan perlahan meniup lilin itu. Setelah itu teman-teman
meledeknya dan memberi ucapan selamat. Aku mengambil sedikit kue dan
menyuapinya, lalu aku memberikan kue itu kepadanya.
Aku
beranjak ke tempat duduk Izza, aku haus dan mengambil air mineral, lalu
meneguknya. Capek euy! Oh iya, Silverqueen
yang aku beli tadi dimana ya? Setelah menemukan coklat itu, aku menyerahkannya
pada Anna. Anna menghampiriku dan berterimakasih atas apa yang telah aku
lakukan untuknya. Lalu sepotong
silverqueen diberikannya untukku dan tidak lupa pula untuk yang duduk di
depan itu, Dewi. Aku tidak tahu mau memberikan kado apa, karena melihat apa
yang terjadi saat ini. Hmm… semoga aja apa yang aku lakukan malam ini adalah
kado yang paling indah yang pernah ia dapatkan… HAPPY
BRITHDAY ANNA !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar