Rabu, 20 Maret 2013

Cerpen *True_Story*


AKU KEHILANGAN MU

Aku kesaaaaaaaaaaal!!!
Itulah yang aku rasakan pada saat sekarang ini. Apa mau kalian sih? Sesuatu hal yang tidak pernah aku bayangkan terjadi pada saat perjalanan studi banding ini. Tepatnya di kota Medan, di parkiran Mesjid Raya. Sore itu situasi yang ku rasakan memang ngak banget deh! Teman yang satu, Dewi udah dua hari yang lalu mengacuhkanku. Teman yang satu lagi, Anna entah apa yang telah terjadi saat aku tidak berada di dalam bus, tiba-tiba dia marah padaku, tepatnya dia melampiaskan amarahnya kepadaku. Dia memintaku untuk pindah tempat duduk, duduk kebelakang bersamanya.
“Ada apa sih?” tanyaku bingung melihat sikapnya.
“Pokoknya kamu pindah duduk kebelakang! Sakit hatiku melihat sikap temanmu!” ujarnya kesal.
“Kenapa sih?” aku masih bingung.
“Kamu harus pindah duduk kebelakang! Apa maksud dia ngomong seperti itu? Bilangin sama temanmu kalau mamanya menelpon! Emangnya kamu bukan temannya?” ungkapnya.
Aku mengecek ponselku dan ada dua panggilan tidak terjawab dari rumah. Ughhtt…
“Pokoknya duduk sama ku!” perintahnya.
“Aneh! Kenapa ngak dari awal perjalanan minta aku duduk sama kamu! Aku kecewa saat kamu ngak mau duduk bareng aku! Hanya karena ngak tahan sama bau minyak angin, kamu ngak mau di dekatku! Huh!” batinku mengingatnya.
Aku melangkah menuju bus dan menghampiri Dewi. “Pinjam ponselmu!” aku melihat panggilan masuk dari rumah. Nomornya sama, tapi kucoba untuk menghubungi tidak masuk-masuk. Aku mengembalikan ponselnya dan kembali turun dari bus, mencoba menghubungi mama. Hasilnya tetap sama, ngak masuk-masuk. Aku makin kesal!
Aku beranjak mencari tempat duduk dipinggir jalan Izza menemaniku, disebelahku juga ada Suci dan Mezi. Aku menatap layar ponsel dan tetap berusaha menelpon balik ke rumah. Sudah dicoba berkali-kali tetap ngak masuk. Ya, udahlah! Aku menatap ke jalan raya, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Lampu-lampu jalanan berkelap-kelip indah sekali, berbeda di jalanan kota kelahiranku, Padangpanjang.
Beberapa menit kemudian, Muchia datang dan mengajakku masuk ke bus. Aku tidak mau, aku masih mau duduk disini. Setelah itu Anna datang dan ada Leci dibelakangnya.
“Bro, ngapain duduk disini? Masuk ke bus, yuk!” ajaknya.
Aku hanya diam dan menggelengkan kepala.                           
“Duduk samaku, ya!” ajak Anna.
“Ku tetap duduk disana! Aku ngak mau pindah!” jawabku.
Setelah mendengar jawabanku, Anna , Leci dan Muchia berlalu meninggalkanku dan kembali ke bus. Izza menawariku untuk duduk bersamanya.
Beberapa menit kemudian, makan malam datang dan semuanya bersiap-siap untuk menyantap makan malam. Aku beranjak menuju bus dan duduk di tempat biasa. Dewi makan malam bersama Nora. Aku hanya bisa melihat kejadian yang tidak pernah ada dibayanganku. Aku memeluk bantalku dan rasanya kepalaku pusing. Huh!
Tiba-tiba salah seorang teman datang dan menghampiriku, “Makan yuk! Ntar tambah sakit lho!” ajaknya. Aku menolak ajakannya, “Ngak laper!” dia pun kembali keluar dari bus dan melanjutkan makan malamnya.
Setelah semuanya selesai menyantap makan malam, teman-teman kembali memasuki bus dan duduk di tempat masing-masing. Dewi sudah duduk di sebelahku, aku tidak tahan lagi. Tawaran Izza tadi aku terima, aku melangkahkan kaki menuju tempat duduk Izza.
“Ijaaa… aku duduk sama kamu ya!” ujarku minta izin.
“Iya, mbak! Mbak ngak makan?” Tanya Izza.
“Makasih, Ja. Aku ngak laper!” aku duduk disebelah Izza dan memasang jaket lalu kucoba untuk menutup mata. Saat sekarang ini tidur adalah alternative yang bagus. Aku menyadarinya, airmata jatuh di pipiku. Aku membayangkan untuk cepat-cepat pulang ke rumah. Aku menyesal telah ikut studi banding ini. Lagipula akhirnya tidak menjadi kenangan yang indah, semuanya hancur di kota Medan.
Malam ini perjalanan kami dilanjutkan menuju kota Pekanbaru, kami akan melewati tahun baru di kota itu. Sekitar jam 4 subuh bus kami berhenti di sebuah mini market, aku pun terbangun dan melihat sekeliling. Huff… capek! Aku memandang keluar jendela, aku melihat Anna bersama Muchia dan Leci. Mereka sedang antrian di toilet. Tiba-tiba Muchia melihat seekor kucing, lalu mengendongnya dan Anna menghampiri Muchia. Ya… mereka sangat menyukai binatang itu. Rasa kesalku masih ada, apalagi saat melihat keakraban mereka.
Setelah semuanya selesai berurusan dengan toilet, supir kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pekanbaru. Sekitar jam 5 sore aku dan rombongan sampai di kota Pekanbaru. Bus kami di parkir di halaman kampus Universitas Muhammadiyah Riau. Aku malas untuk turun, tapi apa yang harus kulakukan di dalam bus? Akhirnya aku pun turun dari bus, Mezi, Nesra, Nenglis dan Efrida mengajakku untuk pergi bersamanya ke Mall SKA. Aku menerima ajakan mereka. Ayolah, lupakan sejenak apa yang telah terjadi!
“Apa yang telah terjadi, Titis ?” Tanya Mezi.
“Ngak ada, Zi.” Ujarku.
“Kenapa dengan kedua temanmu?” tanyanya lagi.
“Aku juga ngak ngerti, Zi! Aku tidak mempunyai teman!” ujarku kesal.
“Jangan ngomong seperti itu, kami kan juga temanmu!” kata Mezi.
Aku hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Mezi.
Aku dan teman-teman  menyusuri tiap sudut Mall. Tidak lupa juga membeli beberapa kaos dan makanan kecil. Aku sudah tidak kuat lagi untuk mengelilingi Mall ini, aku meminta kepada teman-teman untuk kembali ke bus. Mereka setuju, karena mereka juga merasa lelah dan capek. Kami kembali ke bus, aku melihat Dewi duduk bersama Imel dan Frans.
Aku dan teman-teman ingin pergi ke toilet. Tapi, karena air di toiletnya ngak bisa digunakan untuk berwudhu, Mezi dan Efrida berencana untuk pergi ke Mesjid yang ada diseberang kampus UMRI. Aku dan Nesra memutuskan untuk menunggu mereka di pinggir jalan. Sesaat, aku melihat Anna bersama Leci berjalan di depanku. Aku dan Anna sempat bertatapan hanya sesaat, lalu aku memandang layar ponselku.
“Bro, kita ke dalam yuk!” ajak Leci.
“Aku lagi menunggu Mezi, Ci!” jawabku.
“Oh, ya udah! Aku duluan ya!” pamitnya.
Beberapa menit kemudian Dewi pergi makan bersama Imel dan Frans. Aku yang sedang menelpon dengan mama, akhirnya menceritakan apa yang telah terjadi. Aku meminta mama untuk berbicara dengan Dewi.
Jam setengah 9 malam aku, Nurul, Mezi, Nesra dan Efrida mencari makan malam di pinggir jalan Mall. Aku mengajak teman-teman untuk makan Mie Ayam dan mereka setuju. Aku menikmati Mie ayam tersebut, enak juga! Tiba-tiba terlintas dalam bayanganku, seharusnya saat ini aku  bisa menikmati keadaan seperti ini bersama dua orang itu. Tapi, satu kali pun tidak kesampaian untuk bisa menikmati perjalanan ini bertiga. Kadang hanya ada aku dan Anna, lalu hanya ada aku dan Dewi. Ahhh!!!
Ya, Tuhan! Besokkan tanggal 1 Januari? Bukankah sebelum perjalanan ini aku punya keinginan untuk melakukan itu. Oke! Keadaan saat ini memang tidak pernah dibayangkan akan terjadi, tapi ini adalah moment yang seharusnya menjadi sebuah kenangan indah. Aku harus mewujudkan rencanaku itu!
“Hmmm… Ul, mau nemenin aku ke dalam Mall ngak? Ada yang lupa aku beli!” ajakku kepada Nurul.
“Mau ngapain, Tis?” Tanya Nurul.
“Mau beli sesuatu! Temenin ya!” pintaku.
Akhirnya Nurul mau menemaniku ke dalam Mall. Mezi dan yang lainnya menungguku di pinggir jalan. Aku memasuki Mall, sebenarnya aku sangat kelelahan dan tidak sanggup lagi untuk mengelilingi Mall. Aku mencoba mencari toko kue dan setelah menemukannya, aku membeli sebuah kue kecil, ya walaupun bukan kue ulang tahun seperti biasanya. Setelah membayarnya aku menuju Nurul  dan kembali melangkahkan kaki ke tempat makan Mie Ayam, Mezi dkk telah menungguku.
Sesampainya di bus, aku meletakkan kue yang aku beli di tempat duduk. Aku melihat ada Anna yang sedang duduk di tempatnya. Kebetulan pintu masuk yang ada di belakang tepat berada di depan tempat duduknya. Setelah itu aku kembali keluar bus dan menghampiri teman-teman yang sedang bercanda bersama-sama.
Aku dan teman-teman menunggu detik-detik pergantian tahun baru. Aku tidak begitu tertarik untuk hal itu, aku memikirkan apa yang akan aku lakukan nantinya untuk Anna. Aku mengajak Nurul dan Leci untuk membantu membuat kejutan untuk Anna. Tidak terasa jam telah menunjukkan pukul 12 kurang 2 menit. Sesaat lagi kita akan menyambut datangnya tahun baru. Dua menit kemudian terdengar suara terompet dan petasan. HAPPY NEW YEAR 2013 !!!
HAPPY NEW YEAR Teman-teman!” ujar salah seorang temanku.
Aku memandang langit yang dihiasi oleh petasan. Dua orang itu tetap berada di dalam bus. Ah!!! Keluar sebentar, kenapa? Aku membayangkan kalau semua teman-teman ini menjauh dan biarkan aku, Anna dan Dewi menikmati keindahan malam pergantian tahun ini. Huh, benar-benar menyebalkan!
Akhirnya, acara menikmati suasana pergantian tahun baru usai sudah, beberapa teman-teman kembali memasuki mobil, karena udara diluar sangat dingin. Ada juga yang sedang mengabadikan moment malam pergantian tahun denan berfoto bersama.
            Aku melirik Nurul dan Leci, “Saatnya beraksi!” seruku.
Leci dan Nurul melangkahkan kaki menuju bus. Ditanganku sudah ada kue dan sebuah korek api yang telah menyala. Leci dan Nurul lebih dulu menaiki tangga bus dan Leci terlihat berbicara dengan Anna. Aku masih harus menunggu di dekat pintu masuk, menunggu aba-aba dari Leci. Tiba-tiba Leci dan Nurul menyanyikan lagu ulang tahun.
“Selamat ulang tahun… kami ucapkan! Selamat ulang tahun Anna!” ujar mereka.
Aku menaiki tangga dan berdiri dihadapannya sambil memegang kue dan korek api yang telah menyala. Bisa dipastikan dia tidak mengetahui dan tidak menyadari kejadian ini. Dia menutup wajahnya dengan bantal yang ada ditangannya. Sepertinya ada yang terharu.
“Anna, tiup lilinnya tuh! Udah capek tangan, Titis megangnya!” ujar Sari.
Anna menyingkirkan bantal yang dipegangnya dan mendekati lilin yang aku pegang, lalu dia menutup mata dan perlahan meniup lilin itu. Setelah itu teman-teman meledeknya dan memberi ucapan selamat. Aku mengambil sedikit kue dan menyuapinya, lalu aku memberikan kue itu kepadanya.
Aku beranjak ke tempat duduk Izza, aku haus dan mengambil air mineral, lalu meneguknya. Capek euy! Oh iya, Silverqueen yang aku beli tadi dimana ya? Setelah menemukan coklat itu, aku menyerahkannya pada Anna. Anna menghampiriku dan berterimakasih atas apa yang telah aku lakukan untuknya. Lalu sepotong silverqueen diberikannya untukku dan tidak lupa pula untuk yang duduk di depan itu, Dewi. Aku tidak tahu mau memberikan kado apa, karena melihat apa yang terjadi saat ini. Hmm… semoga aja apa yang aku lakukan malam ini adalah kado yang paling indah yang pernah ia dapatkan…  HAPPY BRITHDAY ANNA !


Tidak ada komentar:

Posting Komentar