_Hanya Cinta Yang Bisa_
“Aku sayang Bunda!”
lirihku sambil menatap satu-satunya foto Bunda yang ku miliki.
“Maafin Devi,Bunda!”
sambungku.
^Flash_back^
Aku kembali mengingat
kejadian 6 tahun yang lalu. Saat-saat tersulit dalam hidupku, kehilangan semua
orang-orang yang aku cintai. Bunda,adikku Indah dan sahabatku Luna meninggalkanku.
Masih jelas dalam ingatanku, saat mereka menatapku dengan penuh rasa benci ,
kesal dan marah. Ya mereka kecewa sama aku,sama semua yang telah aku lakukan.
Kesalahan terbesar dalam hidupku mengenal Rayen. Cowok yang katanya sayang dan
mencintaiku. Tapi apa yang telah dia lakukan padaku?? Dia telah merenggut
kesucianku. Dia tega menghancurkan hidupku. Ya ,aku hamil diluar nikah!
“Bunda,kecewa sama
kamu!” kata Bunda yang selalu teringat dalam benakku.
“Bun,maafin Devi. Devi
tidak pernah menginginkan semua ini!” ujarku sambil berlutut dikaki Bunda.
“Bunda,sudah
mengingatkan kamu untuk tidak bergaul dengan lelaki itu! Tapi apa yang kamu lakukan?
Dibelakang Bunda kamu terus berhubungan dengannya. Lihat apa yang telah diperbuat
oleh lelaki bejat itu? Dev,kamu hamil diluar nikah! Bunda malu dan kecewa sama
perbuatan kamu! Semua orang memandang sinis kepada Bunda. Mereka menyalahkan
Bunda atas apa yang kamu alami. PUAS kamu udah bikin Bunda dihina dan dicaci
sama tetangga dan keluarga besar kita??” jelas Bunda dengan suara keras dan
lalu mendorongku.
“Bun…” lirihku.
“Janggan panggil aku
Bunda! Mulai detik ini kamu bukan anakku lagi! Pergi dari hadapanku !
PERGI!!!!” bentak Bunda sambil menyeretku keluar dari rumah.
“Bun, maafin Devi.
Bunda… bunda …maafin aku!” pinta ku terisak-isak.
“Bunda,benar! Kak Devi
harus pergi dari kehidupan kami! Kami semua kecewa sama kakak! Dan mulai sekarang aku bukan adikmu lagi! Aku
malu punya kakak seperti kamu! Indah benci Devi. Benci!” terang Indah.
Perasaan Devi semakin
kalut dan tidak percaya akan semua kata-kata Indah.
“Maafin kakak!” lirihku
dan mencoba meraih tangan Indah.
Indah dengan cepat
menjauhiku.
“Bunda hanya punya satu
orang anak perempuan. Anak Bunda hanya aku!” Indah lalu masuk kedalam rumah.
Aku tidak tahu harus berbuat
apalagi. Perlahan aku pun melangkahkan kaki untuk pergi dari rumah ini. Mereka
benar-benar kecewa.
“Bunda…Indah… maafin
aku!” batinku.
Aku ingat,aku masih
memiliki seorang Sahabat.
“Luna? Mungkin dia bisa
membantuku.” Aku melangkahkan kaki menuju rumah Luna.
Sesampai aku dirumah
Luna,aku berharap dia bisa membantuku. Tapi, apa yang terjadi saat ini tidak
sama dengan yang kuharapkan. Luna menunjukkan sikap yang sama dengan Bunda dan
Indah. Luna membenciku. Dia kecewa dan memutuskan persahabatan kami.
“Aku tidak mau melihat
kamu lagi! Semuanya berakhir karena kesalahan kamu sendiri. Mulai sekarang kita
jalani hidup kita masing-masing. Semua yang terjadi dalam hidup kita atasi
sendiri-sendiri. Semua yang terjadi adalah pengalaman berharga buat aku dan
kamu.” Terang Luna. Dia tidak berani menatapku.
“Makasih,Lun. Untuk
semua yang telah kamu lakukan selama ini. Menjadi sahabatmu adalah hal terindah
dalam hidupku. Makasih! Selamat Tinggal!” ujarku gemeteran dan aku pun berlari
dengan cepat. Aku ingin cepat-cepat menghilang dari hadapan Luna.
“SEKARANG SEMUANYA
MEMBENCIKU! BUNDA,INDAH dan LUNA. KENAPA INI SEMUA HARUS TERJADI PADA HIDUPKU? TUHAN
… TOLONG AKU!” Teriakku.
“Bukankah hidup kita akhirnya
harus bahagia?” sambungku.
“Aku ingin kebahagiaan
itu? Aku tahu Engkau selalu ada untuk hambamu. Kuatkan aku dan tunjukkan
jalan-Mu.” Batinku.
***
“Mama…” ujar seseorang
dan menyadarkan aku yang dari tadi terus teringat akan kejadian 6 tahun yang
lalu.
“Hai,sayang. Kamu udah
bangun?” kataku sambil merapikan rambut Aurelia,anakku.
“Mama,lagi mikirin apa?
Kok dari tadi Aurel panggil mama ngak menjawab? Mama sakit ya?” Tanyanya sambil
meletakkan tangan kanannya ke dahiku.
“Mama,ngak sakit kok.
Beneran deh!”
“Iya.Aurel percaya!”
ujarnya sambil tersenyum.
Aku memeluk Aurelia
dengan erat. Dengan begini Aurelia pasti tidak melihat airmata telah membasahi
pipiku. Saat ini Aurelia lah yang menjadi penyemangat dalam hidupku.
“Mama,sayang Aurel.”
Bisikku.
“Aurel,juga
Sayaaaaaaaaang mama!” lirihnya.
***
Sepulang sekolah,
seperti biasanya aku menjemput Aurelia. Aurelia sudah menunggu kedatanganku,
dia melambaikan tangan kearahku.
“Mamaaaa…” teriaknya.
Aku masih berada
diseberang jalan. Aku tersenyum dan membalas lambaian tangannya.
Tiba-tiba Aurelia
berjalan kearahku.
Aku kaget dan
berteriak, “JANGAN NAK!!!” Mataku melihat sebuah mobil sedan berwarna hitam
melaju dengan kecepatan tinggi.
“AUREL,TETAP BERDIRI
DISANA!!”
Aurel tidak
mendengarkan kata-kataku. Tiba-tiba…
“AUREL…..!”
“Kamu baik-baik saja?”
ujar seorang pria kepada Aurel.
Aurel menggelengkan
kepalanya. Keringat bercucuran diwajahnya yang mungil. Rasa kaget dan cemas
terlihat jelas diwajahnya.
Aku berlari menuju
tempat Aurel berdiri. Ya Aurel diselamatkan oleh seseorang.
“Sayang… kamu ngak baik-baik
saja kan?” tanyaku sambil memperhatikan Aurel dari ujung rambut sampai kakinya.
“Maafin Aurel,Aurel
udah bikin mama cemas!” Aku langsung memeluk Aurel.
“Terimakasih
Tuhan,Engkau telah melindungi anak hamba!”
Aku sadar dan lalu
berdiri,pria yang menolong Aurel masih berdiri dibelakangku. Perlahan aku
membalikkan badan dan… aku sejenak terdiam melihat orang yang ada dihadapanku
saat ini. Orang yang selama ini telah menghancurkan hidupku.
“Rayen.” Batinku.
“Devi.” Ujarnya.
Tanpa pikir panjang,aku
mengendong Aurel dan dengan cepat berlalu dari hadapannya.
“Dev…devi… tunggu!”
serunya dan mengejar kami. Rayen dapat menghentikan langkahku.
“Dev…Maaf!” lirihnya.
“Maaf? Untuk apa kata
maaf itu?”
“Maafin aku. Aku
khilaf,maafin aku. Devi!”
“BULSHIT! Aku ngak
butuh kata maaf darimu! Kamu sudah menghancurkan semuanya.
Kehidupanku,keluargaku dan masa depanku. Enam tahun aku hidup dalam kehancuran.
Apa kamu belum PUAS?” teriakku emosi.
“A….ku…”
“Mama,ada apaa?” Tanya
Aurel.
“Di…a anak ki…ta?” seru
Rayen dan menatapku.
“Anak kamu, Dia telah
mati enam tahun yang lalu!” aku melangkahkan kaki meninggalkan Rayen. Rayen
tidak lagi menggejarku.
“Anakku…” lirihnya.
***
Malam harinya diruang
tamu rumahku.
Beberapa hari lagi
adalah bulan ramadhan,bulan penuh berkah.Aku kembali teringat saat-saat
kebersamaanku mengawali bulan ramadhan beberapa tahun yang lalu. Berkumpul
bersama-sama dan saling bermaaf-maafan. Ada Bunda,Indah dan Luna.
“Ahh apa yang aku pikirkan?
Kenapa aku selalu teringat mereka semua. Semua hal-hal indah itu sekarang hanya
dapat aku kenang. Aku tidak dapat merasakan itu kembali!” batinku.
“Aurel… kamu
satu-satunya penyemangat mama dalam menjalani hidup ini. Karena senyumanmu mama
tetap kuat menjalani cobaan ini. Jangan pernah tinggalin mama!” lirihku.
“I LOVE YOU!” seruku
sambil mengecup dahi Aurelia yang sudah terlelap tidur.
***
Dikediaman orangtuaku,
Jam 09.00 WIB.
“Permisi…” seru Rayen.
Dari dalam rumah
terdengar suara langkah kaki seseorang. Perlahan pintu itu terbuka,dan orang
yang membukakan pintu kaget.
“KAMU??? Mau apa kamu
kesini?” bentak Bunda.
“Saya datang kesini mau
minta maaf sama ibu. Ini semua salah saya!” serunya.
“Terlambat! Kamu sudah
menghancurkan keluarga kami. Ngak ada gunanya kamu memohon disini. lebih baik
pergi dari hadapan saya sekarang juga! PERGI!!!” Bentak Bunda dan mendorong
Rayen.
“Tapi….”
“SAYA BILANG PERGI! SAYA
NGAK MAU LIHAT MUKA KAMU!KAMU SUDAH MENGHANCURKAN HIDUP ANAK SAYA!” Bunda tidak
dapat menahan emosinya.
“Maaf!”
“PERGI!”
Indah keluar dari kamarnya. “Bunda…kenapa?”
ujarnya. “Apa mau loe? Masih belum puas menghancurkan keluarga kami?”
“Saya mau minta maaf.”
Lirihnya.
“Lebih baik loe pergi !
Apa gue harus teriak MALING biar semua orang datang dan mengeroyok loe? Itu
yang loe mau?” ancam Indah.
Rayen tidak mau ada
keributan dan dia terpaksa pergi dari rumah itu. Indah menenangkan Bunda yang
terisak-isak menahan tangisnya.
***
Disebuah danau. Aku megajak
Aurelia jalan-jalan.
“Waahhh… pemandangannya
indah banget.” Puji Aurelia.
“Kamu suka?” tanyaku.
“SUKA BANGET……..
Makasih mama!” Aurelia mencium pipiku.
“Mama beliin kamu
cemilan dulu ya. Kamu tunggu disini! OK!” pintaku.
“Ok mama!”
Beberapa menit kemudian
Aurelia menabrak seseorang. “Bruukkk…”
“Aduuuuuhh…” rintih
Aurelia.
“Nak,kamu baik-baik
saja kan?” Tanya orang itu .
“Sakittt….” Keluhnya.
Orang itu pun
menggendong Aurelia karena kakinya kesakitan. Kaki Aurelia diobati.
“Waaah… sakitnya udah
hilang. Makasih ya nenek!” seru Aurelia.
“Nenek?” batin orang
itu agak kaget.
Tiba-tiba….
“Aureeeel….!” Seruku.
“Anakku… Devi!” batin
orang yang telah membantu Aurelia.Bunda.
Tanpa berpikir panjang
Bunda membalikkan badannya. Sehingga ia dapat melihat dengan jelas si sumber
suara.
Sesaat kami terdiam.
Tak ada suara satupun. Mereka saling menatap satu sama lain.
“Mama… nenek ini telah
mengobati lukaku!” seru Aurelia lalu berjalan kearahku. “Nenek ini baik loh.”
Sambungnya. Aku membelai rambut Aurel, “Iya sayang. Nenek itu baik!”
“Terima kasih,karena
telah mengobati luka Aurelia.”
“Cucuku!” seru Bunda
dan menatap kearahku.Perlahan Bunda mendekatiku dan memelukku dengan erat.
“Bunda…kangen kamu,nak!” bisiknya. Airmatapun jatuh membasahi pipiku.
“Maafin Devi,bun!”
lirihku.
“Dari awal Bunda sudah
memaafkan kamu,nak! Maafin Bunda karena Bunda terlalu egois. Maafin semua kesalahan Bunda!”
“Bunda,ngak salah! Aku
yang salah karena udah membohongi Bunda.”
“Kamu pulang ya,nak!
Kembali tinggal bersama Bunda dan Indah! Kita mulai hidup yang baru
bersama-sama.”
Aku hanya bisa
menggangguk. “Terima kasih Tuhan,untuk keajaiban-Mu hari ini!” batinku.
Dikejauhan sana
terlihat dua orang sedang tersenyum.
“Enam tahun yang
lalu,loe yang telah memisahkan Bunda dan Kak Devi. Dan sekarang loe juga yang
telah mempersatukan mereka. Terima kasih,Rayen!” ujar Indah.
“Berterima kasihlah
pada malaikat kecil itu.” Rayen menunjuk Aurelia. Rayen berlalu meninggalkan
Indah. Meninggalkan semuanya!
^ Bukankah hidup kita
akhirnya harus bahagia?”^
Kebahagiaan itu telah
kudapatkan. ^_^
***
HANYA CINTA YANG BISA MENAKLUKKAN DENDAM.
HANYA KASIH SAYANG TULUS YANG MAMPU MENYENTUH .
HANYA CINTA YANG BISA MENDAMAIKAN BENCI.
HANYA KASIH SAYANG YANG TULUS YANG MAMPU MENEMBUS
RUANG DAN WAKTU.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar