Rabu, 06 Maret 2013

CERPEN ^Hanya CInta Yang BIsa^


_Hanya Cinta Yang Bisa_

“Aku sayang Bunda!” lirihku sambil menatap satu-satunya foto Bunda yang ku miliki.
“Maafin Devi,Bunda!” sambungku.

^Flash_back^

Aku kembali mengingat kejadian 6 tahun yang lalu. Saat-saat tersulit dalam hidupku, kehilangan semua orang-orang yang aku cintai. Bunda,adikku Indah dan sahabatku Luna meninggalkanku. Masih jelas dalam ingatanku, saat mereka menatapku dengan penuh rasa benci , kesal dan marah. Ya mereka kecewa sama aku,sama semua yang telah aku lakukan. Kesalahan terbesar dalam hidupku mengenal Rayen. Cowok yang katanya sayang dan mencintaiku. Tapi apa yang telah dia lakukan padaku?? Dia telah merenggut kesucianku. Dia tega menghancurkan hidupku. Ya ,aku hamil diluar nikah!
“Bunda,kecewa sama kamu!” kata Bunda yang selalu teringat dalam benakku.
“Bun,maafin Devi. Devi tidak pernah menginginkan semua ini!” ujarku sambil berlutut dikaki Bunda.
“Bunda,sudah mengingatkan kamu untuk tidak bergaul dengan lelaki itu! Tapi apa yang kamu lakukan? Dibelakang Bunda kamu terus berhubungan dengannya. Lihat apa yang telah diperbuat oleh lelaki bejat itu? Dev,kamu hamil diluar nikah! Bunda malu dan kecewa sama perbuatan kamu! Semua orang memandang sinis kepada Bunda. Mereka menyalahkan Bunda atas apa yang kamu alami. PUAS kamu udah bikin Bunda dihina dan dicaci sama tetangga dan keluarga besar kita??” jelas Bunda dengan suara keras dan lalu mendorongku.
“Bun…” lirihku.
“Janggan panggil aku Bunda! Mulai detik ini kamu bukan anakku lagi! Pergi dari hadapanku ! PERGI!!!!” bentak Bunda sambil menyeretku keluar dari rumah.
“Bun, maafin Devi. Bunda… bunda …maafin aku!” pinta ku terisak-isak.
“Bunda,benar! Kak Devi harus pergi dari kehidupan kami! Kami semua kecewa sama kakak! Dan  mulai sekarang aku bukan adikmu lagi! Aku malu punya kakak seperti kamu! Indah benci Devi. Benci!” terang Indah.
Perasaan Devi semakin kalut dan tidak percaya akan semua kata-kata Indah.
“Maafin kakak!” lirihku dan mencoba meraih tangan Indah.
Indah dengan cepat menjauhiku.
“Bunda hanya punya satu orang anak perempuan. Anak Bunda hanya aku!” Indah lalu masuk kedalam rumah.
Aku tidak tahu harus berbuat apalagi. Perlahan aku pun melangkahkan kaki untuk pergi dari rumah ini. Mereka benar-benar kecewa.
“Bunda…Indah… maafin aku!” batinku.
Aku ingat,aku masih memiliki seorang Sahabat.
“Luna? Mungkin dia bisa membantuku.” Aku melangkahkan kaki menuju rumah Luna.
Sesampai aku dirumah Luna,aku berharap dia bisa membantuku. Tapi, apa yang terjadi saat ini tidak sama dengan yang kuharapkan. Luna menunjukkan sikap yang sama dengan Bunda dan Indah. Luna membenciku. Dia kecewa dan memutuskan persahabatan kami.
“Aku tidak mau melihat kamu lagi! Semuanya berakhir karena kesalahan kamu sendiri. Mulai sekarang kita jalani hidup kita masing-masing. Semua yang terjadi dalam hidup kita atasi sendiri-sendiri. Semua yang terjadi adalah pengalaman berharga buat aku dan kamu.” Terang Luna. Dia tidak berani menatapku.
“Makasih,Lun. Untuk semua yang telah kamu lakukan selama ini. Menjadi sahabatmu adalah hal terindah dalam hidupku. Makasih! Selamat Tinggal!” ujarku gemeteran dan aku pun berlari dengan cepat. Aku ingin cepat-cepat menghilang dari hadapan Luna.
“SEKARANG SEMUANYA MEMBENCIKU! BUNDA,INDAH dan LUNA. KENAPA INI SEMUA HARUS TERJADI PADA HIDUPKU? TUHAN … TOLONG AKU!” Teriakku.
“Bukankah hidup kita akhirnya harus bahagia?” sambungku.
“Aku ingin kebahagiaan itu? Aku tahu Engkau selalu ada untuk hambamu. Kuatkan aku dan tunjukkan jalan-Mu.” Batinku.
***
“Mama…” ujar seseorang dan menyadarkan aku yang dari tadi terus teringat akan kejadian 6 tahun yang lalu.
“Hai,sayang. Kamu udah bangun?” kataku sambil merapikan rambut Aurelia,anakku.
“Mama,lagi mikirin apa? Kok dari tadi Aurel panggil mama ngak menjawab? Mama sakit ya?” Tanyanya sambil meletakkan tangan kanannya ke dahiku.
“Mama,ngak sakit kok. Beneran deh!”
“Iya.Aurel percaya!” ujarnya sambil tersenyum.
Aku memeluk Aurelia dengan erat. Dengan begini Aurelia pasti tidak melihat airmata telah membasahi pipiku. Saat ini Aurelia lah yang menjadi penyemangat dalam hidupku.
“Mama,sayang Aurel.” Bisikku.
“Aurel,juga Sayaaaaaaaaang mama!” lirihnya.
*** 
Sepulang sekolah, seperti biasanya aku menjemput Aurelia. Aurelia sudah menunggu kedatanganku, dia melambaikan tangan kearahku.
“Mamaaaa…” teriaknya.
Aku masih berada diseberang jalan. Aku tersenyum dan membalas lambaian tangannya.
Tiba-tiba Aurelia berjalan kearahku.
Aku kaget dan berteriak, “JANGAN NAK!!!” Mataku melihat sebuah mobil sedan berwarna hitam melaju dengan kecepatan tinggi.
“AUREL,TETAP BERDIRI DISANA!!”
Aurel tidak mendengarkan kata-kataku. Tiba-tiba…
“AUREL…..!”
“Kamu baik-baik saja?” ujar seorang pria kepada Aurel.
Aurel menggelengkan kepalanya. Keringat bercucuran diwajahnya yang mungil. Rasa kaget dan cemas terlihat jelas diwajahnya.
Aku berlari menuju tempat Aurel berdiri. Ya Aurel diselamatkan oleh seseorang.
“Sayang… kamu ngak baik-baik saja kan?” tanyaku sambil memperhatikan Aurel dari ujung rambut sampai kakinya.
“Maafin Aurel,Aurel udah bikin mama cemas!” Aku langsung memeluk Aurel.
“Terimakasih Tuhan,Engkau telah melindungi anak hamba!”
Aku sadar dan lalu berdiri,pria yang menolong Aurel masih berdiri dibelakangku. Perlahan aku membalikkan badan dan… aku sejenak terdiam melihat orang yang ada dihadapanku saat ini. Orang yang selama ini telah menghancurkan hidupku.
“Rayen.” Batinku.
“Devi.” Ujarnya.
Tanpa pikir panjang,aku mengendong Aurel dan dengan cepat berlalu dari hadapannya.
“Dev…devi… tunggu!” serunya dan mengejar kami. Rayen dapat menghentikan langkahku.
“Dev…Maaf!” lirihnya.
“Maaf? Untuk apa kata maaf itu?”
“Maafin aku. Aku khilaf,maafin aku. Devi!”
“BULSHIT! Aku ngak butuh kata maaf darimu! Kamu sudah menghancurkan semuanya. Kehidupanku,keluargaku dan masa depanku. Enam tahun aku hidup dalam kehancuran. Apa kamu belum PUAS?” teriakku emosi.
“A….ku…”
“Mama,ada apaa?” Tanya Aurel.
“Di…a anak ki…ta?” seru Rayen dan menatapku.
“Anak kamu, Dia telah mati enam tahun yang lalu!” aku melangkahkan kaki meninggalkan Rayen. Rayen tidak lagi  menggejarku.
“Anakku…” lirihnya.
***
Malam harinya diruang tamu rumahku.
Beberapa hari lagi adalah bulan ramadhan,bulan penuh berkah.Aku kembali teringat saat-saat kebersamaanku mengawali bulan ramadhan beberapa tahun yang lalu. Berkumpul bersama-sama dan saling bermaaf-maafan. Ada Bunda,Indah dan Luna.
“Ahh apa yang aku pikirkan? Kenapa aku selalu teringat mereka semua. Semua hal-hal indah itu sekarang hanya dapat aku kenang. Aku tidak dapat merasakan itu kembali!” batinku.
“Aurel… kamu satu-satunya penyemangat mama dalam menjalani hidup ini. Karena senyumanmu mama tetap kuat menjalani cobaan ini. Jangan pernah tinggalin mama!” lirihku.
“I LOVE YOU!” seruku sambil mengecup dahi Aurelia yang sudah terlelap tidur.
***
Dikediaman orangtuaku, Jam 09.00 WIB.
“Permisi…” seru Rayen.
Dari dalam rumah terdengar suara langkah kaki seseorang. Perlahan pintu itu terbuka,dan orang yang membukakan pintu kaget.
“KAMU??? Mau apa kamu kesini?” bentak Bunda.
“Saya datang kesini mau minta maaf sama ibu. Ini semua salah saya!” serunya.
“Terlambat! Kamu sudah menghancurkan keluarga kami. Ngak ada gunanya kamu memohon disini. lebih baik pergi dari hadapan saya sekarang juga! PERGI!!!” Bentak Bunda dan mendorong Rayen.
“Tapi….”
“SAYA BILANG PERGI! SAYA NGAK MAU LIHAT MUKA KAMU!KAMU SUDAH MENGHANCURKAN HIDUP ANAK SAYA!” Bunda tidak dapat menahan emosinya.
“Maaf!”
“PERGI!”
 Indah keluar dari kamarnya. “Bunda…kenapa?” ujarnya. “Apa mau loe? Masih belum puas menghancurkan keluarga kami?”
“Saya mau minta maaf.” Lirihnya.
“Lebih baik loe pergi ! Apa gue harus teriak MALING biar semua orang datang dan mengeroyok loe? Itu yang loe mau?” ancam Indah.
Rayen tidak mau ada keributan dan dia terpaksa pergi dari rumah itu. Indah menenangkan Bunda yang terisak-isak menahan tangisnya.
***
Disebuah danau. Aku megajak Aurelia jalan-jalan.
“Waahhh… pemandangannya indah banget.” Puji Aurelia.
“Kamu suka?” tanyaku.
“SUKA BANGET…….. Makasih mama!” Aurelia mencium pipiku.
“Mama beliin kamu cemilan dulu ya. Kamu tunggu disini! OK!” pintaku.
“Ok mama!”
Beberapa menit kemudian Aurelia menabrak seseorang. “Bruukkk…”
“Aduuuuuhh…” rintih Aurelia.
“Nak,kamu baik-baik saja kan?” Tanya orang itu .
“Sakittt….” Keluhnya.
Orang itu pun menggendong Aurelia karena kakinya kesakitan. Kaki Aurelia diobati.
“Waaah… sakitnya udah hilang. Makasih ya nenek!” seru Aurelia.
“Nenek?” batin orang itu agak kaget.
Tiba-tiba…. “Aureeeel….!” Seruku.
“Anakku… Devi!” batin orang yang telah membantu Aurelia.Bunda.
Tanpa berpikir panjang Bunda membalikkan badannya. Sehingga ia dapat melihat dengan jelas si sumber suara.
Sesaat kami terdiam. Tak ada suara satupun. Mereka saling menatap satu sama lain.
“Mama… nenek ini telah mengobati lukaku!” seru Aurelia lalu berjalan kearahku. “Nenek ini baik loh.” Sambungnya. Aku membelai rambut Aurel, “Iya sayang. Nenek itu baik!”
“Terima kasih,karena telah mengobati luka Aurelia.”
“Cucuku!” seru Bunda dan menatap kearahku.Perlahan Bunda mendekatiku dan memelukku dengan erat. “Bunda…kangen kamu,nak!” bisiknya. Airmatapun jatuh membasahi pipiku.
“Maafin Devi,bun!” lirihku.
“Dari awal Bunda sudah memaafkan kamu,nak! Maafin Bunda karena Bunda terlalu egois.  Maafin semua kesalahan Bunda!”
“Bunda,ngak salah! Aku yang salah karena udah membohongi Bunda.”
“Kamu pulang ya,nak! Kembali tinggal bersama Bunda dan Indah! Kita mulai hidup yang baru bersama-sama.”
Aku hanya bisa menggangguk. “Terima kasih Tuhan,untuk keajaiban-Mu hari ini!” batinku.
Dikejauhan sana terlihat dua orang sedang tersenyum.
“Enam tahun yang lalu,loe yang telah memisahkan Bunda dan Kak Devi. Dan sekarang loe juga yang telah mempersatukan mereka. Terima kasih,Rayen!” ujar Indah.
“Berterima kasihlah pada malaikat kecil itu.” Rayen menunjuk Aurelia. Rayen berlalu meninggalkan Indah. Meninggalkan semuanya!

^ Bukankah hidup kita akhirnya harus bahagia?”^
Kebahagiaan itu telah kudapatkan. ^_^
***
HANYA CINTA YANG BISA MENAKLUKKAN DENDAM.
HANYA KASIH SAYANG TULUS YANG MAMPU MENYENTUH .
HANYA CINTA YANG BISA MENDAMAIKAN BENCI.
HANYA KASIH SAYANG YANG TULUS YANG MAMPU MENEMBUS RUANG DAN WAKTU.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar